RADARBONANG.ID – Pasca ricuh di sekitar Markas Komando (Mako) Brimob, Jalan Kwitang Raya, Jakarta Pusat, sejumlah pemulung memanfaatkan sisa selongsong gas air mata untuk dijual kembali.
Barang bekas tersebut kini menjadi sumber penghasilan baru di tengah kondisi yang masih menyisakan jejak kerusuhan.
Dikutip dari antara, seorang pemulung bernama Dedi mengaku sudah mengumpulkan sekitar 10 kilogram selongsong gas air mata.
Hasilnya cukup lumayan, karena setiap kilogram bisa dijual ke pengepul dengan harga Rp12 ribu.
Dengan jumlah itu, ia berhasil membawa pulang Rp120 ribu hanya dalam sehari.
“Kalau selongsongnya masih ada bubuk di dalamnya harus dibersihkan dulu. Nah, kalau sudah kosong, bisa lebih mahal, sekitar Rp18 ribu per kilo,” ujar Dedi, Minggu (31/8).
Sebelumnya, ia hanya mendapat Rp80 ribu karena masih banyak massa aksi yang memadati kawasan Mako Brimob, sehingga ruang geraknya terbatas.
Namun, setelah kondisi berangsur kondusif, peluang untuk mengumpulkan selongsong pun lebih besar.
Meski demikian, suasana di sekitar lokasi masih menyisakan bau menyengat gas air mata.
Banyak pengendara motor yang melintas terlihat mengusap mata hingga menutup hidung karena masih terpapar sisa zat kimia tersebut.
Untuk meredam dampak gas air mata yang masih tersisa, petugas pemadam kebakaran telah menyemprotkan air di sepanjang Jalan Prajurit KKO Usman dan Harun, tepat di depan Mako Brimob Kwitang.
Langkah itu dilakukan agar area lebih aman dan nyaman bagi warga sekitar.
Fenomena pemulung yang memanfaatkan sisa gas air mata ini menjadi potret lain dari dinamika sosial pasca-unjuk rasa.
Di balik ketegangan, muncul sisi lain bagaimana masyarakat kecil mencoba mencari peluang ekonomi dari situasi yang ada. (*)
Editor : Amin Fauzie