RADARBONANG.ID - Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (27/8).
Rupiah ditutup di level Rp16.360 per dolar AS, melemah 0,4% dibanding posisi sehari sebelumnya.
Kondisi ini membuat rupiah menyandang predikat mata uang terlemah di Asia.
Pelemahan rupiah bahkan lebih dalam dibandingkan ringgit Malaysia yang turun 0,39%, yen Jepang 0,32%, won Korea 0,24%, dolar Singapura 0,23%, peso Filipina 0,18%, yuan China 0,12%, hingga dolar Taiwan 0,09%.
Tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari kekuatan greenback yang sedang melesat.
Dollar Index—indikator posisi dolar terhadap enam mata uang utama dunia—menguat 0,41% ke 98,625.
Selain itu, permintaan rutin dolar menjelang akhir bulan untuk pembayaran utang luar negeri dan impor semakin memperberat beban rupiah.
“Permintaan valas akhir bulan dan aksi profit taking investor menekan pergerakan rupiah hari ini,” jelas analis Maybank, Myrdal Gunarto.
Sentimen Global: Trump Pecat Pejabat The Fed
Selain faktor teknikal, pasar keuangan global diguncang oleh keputusan mengejutkan Presiden Donald Trump yang memecat Anggota Dewan Gubernur Federal Reserve, Lisa Cook.
Langkah ini dipandang sebagai intervensi langsung terhadap independensi bank sentral AS.
Jika benar terbukti ada campur tangan politik dalam kebijakan moneter, risiko penurunan peringkat utang AS terbuka lebar.
Kondisi ini bisa menjadi bencana bagi pasar keuangan global, termasuk bagi rupiah yang sangat rentan terhadap guncangan eksternal.
Tarif AS ke India Jadi Tekanan Tambahan
Tak berhenti di situ, Trump juga mengumumkan tarif impor baru sebesar 50% terhadap India, efektif mulai Rabu dini hari waktu Washington.
Tarif ini diberlakukan sebagai hukuman atas keputusan India membeli minyak dari Rusia.
Padahal sebelumnya, bea masuk hanya 25%. Kebijakan proteksionis ini mengejutkan New Delhi, terlebih setelah berbulan-bulan negosiasi dagang dengan Washington.
Pemerintah India pun menyebut langkah AS tersebut “tidak adil dan tidak masuk akal.”
Ketegangan dagang ini memicu kekhawatiran pasar bahwa hubungan ekonomi AS–India akan memburuk, terlebih setelah kunjungan tim negosiasi perdagangan yang dijadwalkan akhir Agustus resmi ditunda.
Rupiah di Tengah Badai Eksternal
Dengan kombinasi faktor global—mulai dari gejolak politik di AS hingga tensi dagang AS–India—rupiah kembali berada dalam tekanan hebat.
Pasar kini menantikan langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah badai eksternal yang belum reda. (*)
Editor : Amin Fauzie