RADARBONANG.ID - Bencana banjir bandang dan longsor akibat hujan deras di Pakistan terus menelan korban jiwa.
Hingga Ahad (18/8), total korban tewas dilaporkan mencapai 351 orang, menurut media Geo News yang mengutip otoritas setempat.
Provinsi Khyber Pakhtunkhwa menjadi wilayah terdampak terparah dengan 328 korban meninggal, disusul Gilgit-Baltistan 12 orang dan Azad Jammu & Kashmir 11 orang.
Pemerintah setempat khawatir jumlah korban masih akan meningkat seiring operasi penyelamatan yang masih berlangsung.
Rumah-rumah, pertokoan, dan berbagai infrastruktur mengalami kerusakan parah akibat bencana ini.
Dalam upaya darurat, Provinsi Khyber Pakhtunkhwa menyatakan keadaan darurat di seluruh wilayah terdampak banjir, sambil melanjutkan pencarian korban hilang.
Tercatat sembilan wilayah di provinsi tersebut mengalami dampak berat, termasuk Swat, Battagram, Bajaur, Buner, Dir Lower, Dir Upper, Mansehra, Torghar, dan Shangla.
Buner menjadi wilayah paling kritis, dengan 209 korban tewas, 134 orang hilang, dan 159 lainnya mengalami luka-luka.
Operasi penyelamatan di wilayah ini melibatkan tiga batalyon angkatan darat dan 300 relawan pertahanan sipil.
Selain evakuasi, pihak berwenang juga menyiapkan bantuan pangan, tenda, dan selimut bagi korban yang terdampak dan tinggal di pengungsian.
Kepala daerah Khyber Pakhtunkhwa, Ali Amin Gadaput, mengunjungi zona terdampak di Buner dan memimpin rapat penanganan bencana.
Dia memastikan pemerintah tidak akan mengabaikan satu pun korban dalam proses rehabilitasi dan pemulihan.
Sejauh ini, lebih dari 3.500 orang berhasil diselamatkan, menurut laporan otoritas setempat.
Sebagai bentuk belasungkawa, Khyber Pakhtunkhwa mengumumkan masa berkabung pada Sabtu lalu.
Peringatan juga disampaikan oleh otoritas penanganan bencana nasional Pakistan bahwa hujan monsun masih kemungkinan terjadi hingga 10 September.
Fenomena hujan monsun yang biasanya berlangsung antara Juni hingga September sering menimbulkan kerusakan di Asia Selatan, termasuk Pakistan.
Namun, intensitas hujan monsun kini semakin tinggi dan tidak bisa diprediksi akibat perubahan iklim.
Bencana di Pakistan ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi hujan ekstrem.
Kerugian manusia, harta, dan infrastruktur menunjukkan bahwa mitigasi bencana dan adaptasi terhadap perubahan iklim menjadi langkah krusial bagi negara-negara yang rawan banjir dan longsor. (*)
Editor : Amin Fauzie