Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Prabowo: Idealisme Penting, Tapi Realisme yang Selamatkan Bangsa

Tulus Widodo • Kamis, 7 Agustus 2025 | 06:25 WIB
Sidang Kabinet Paripurna di Kantor Presiden, Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (6/8).
Sidang Kabinet Paripurna di Kantor Presiden, Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (6/8).

Dalam Sidang Kabinet Paripurna, Presiden Prabowo tegaskan strategi pembangunan berbasis realisme jadi kunci menghadapi gejolak global dan menjaga ketahanan nasional.

RADARBONANG.ID — Presiden Prabowo Subianto kembali menunjukkan arah kepemimpinannya yang tegas dan membumi.

Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (6/8), presiden ke-8 itu menekankan bahwa idealisme memang dibutuhkan, tetapi realisme-lah yang menyelamatkan bangsa.

Pernyataan itu dilontarkan saat Prabowo mengulas strategi transformasi nasional yang dicanangkan sejak awal masa pemerintahannya.

Dia menegaskan bahwa langkah-langkah strategis yang diambil pemerintah tidak lahir dari teori kosong, melainkan dari pembacaan jujur terhadap kondisi objektif yang sedang dan akan dihadapi Indonesia, baik secara nasional, regional, maupun global.

“Kondisi ini akhirnya menguji strategi besar kita. Menguji strategi transformasi bangsa yang sudah saya canangkan bahkan sebelum saya dilantik sebagai Presiden. Strategi yang kita pegang adalah strategi berdasarkan realisme, berdasar kondisi nyata bangsa, regional, dan global,” tegas Prabowo di hadapan para menteri.

Dalam konteks geopolitik yang kian memanas—mulai dari konflik di Timur Tengah, krisis di Eropa Timur, ketegangan Laut China Selatan, hingga dampak proteksionisme global—Presiden menilai bahwa negara tidak bisa hanya bergantung pada idealisme atau teori pembangunan semata.

“Kondisi nyata ini tidak bisa kita hadapi dengan teori, dengan angan-angan. Idealisme itu benar, idealisme itu perlu. Tapi yang bisa menyelamatkan kita adalah realisme,” kata Menteri Pertahanan di era pemerintahan presiden ke-7, Joko Widodo itu.

Menurut Prabowo, pemerintah harus mampu membaca situasi secara jernih dan mengambil kebijakan berbasis data dan kebutuhan riil.

Sikap realistis inilah yang disebut sebagai fondasi utama strategi transformasi bangsa.

Presiden Prabowo juga memberikan apresiasi terhadap capaian konkret pemerintahan dalam menjaga stabilitas di tengah tantangan.

Salah satu indikator utama keberhasilan itu adalah kondisi ketahanan pangan nasional yang disebutnya dalam kondisi aman dan kuat.

“Produksi pangan kita berada dalam kondisi yang aman dan kuat. Ini juga hasil kerjasama, hasil teamwork. Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh jajaran kabinet dan lembaga terkait,” ucap mantan Danjen Kopassus itu.

Keberhasilan ini, menurut Presiden, adalah contoh implementasi strategi realistis yang membuahkan hasil.

Bukan hanya slogan atau retorika, melainkan kerja konkret yang menyentuh langsung kepentingan rakyat.

Selain soal strategi, Prabowo juga menyampaikan apresiasi terhadap kekompakan dan kinerja para menterinya.

Pendiri Partai Gerindra itu menilai bahwa semangat kerja kolektif dan loyalitas terhadap program nasional merupakan modal penting untuk menjaga stabilitas negara di tengah situasi dunia yang tak pasti.

Pernyataan Prabowo kali ini sekaligus menegaskan gaya kepemimpinannya: berbasis data, terukur, dan tidak terjebak jargon populis.

Dia tidak menolak pentingnya idealisme dan visi jangka panjang, tetapi menempatkan realitas objektif sebagai dasar utama pengambilan keputusan negara.

Di tengah gejolak global yang makin tak menentu, Prabowo tampaknya ingin menanamkan satu pesan kuat: Indonesia butuh strategi yang berani tapi tetap membumi, dan itu hanya bisa dicapai dengan kepala dingin dan mata terbuka melihat kenyataan. (*)

Editor : Amin Fauzie
#strategi transformasi nasional #presiden prabowo subianto #realisme #Idealisme #Sidang Kabinet Paripurna