Dari balik layar server, pria ini membuktikan bahwa teknologi bisa jadi tambang emas masa depan.
RADARBONANG.ID – Ketika nama-nama konglomerat Indonesia identik dengan tambang, properti, atau perbankan, sosok Otto Toto Sugiri hadir sebagai anomali sekaligus inspirasi.
Dia membuktikan bahwa kekayaan melimpah juga bisa datang dari dunia digital.
Bahkan tanpa satu pun jejak bisnis di sektor konvensional, Otto sukses menembus jajaran orang terkaya Indonesia, semata-mata karena kejeniusannya membaca peluang teknologi.
Pada Juli 2025, data Bloomberg dan Forbes Real Time Billionaires mencatat kekayaan Otto melonjak ke angka fantastis: USD 7 miliar atau setara Rp 113 triliun.
Angka ini menempatkannya di posisi ke-6 orang terkaya di Indonesia.
Namun lebih dari sekadar angka, yang membuat pencapaian Otto begitu menggugah adalah asal usul kekayaannya: murni dari bisnis pusat data.
Jauh sebelum isu transformasi digital menjadi buzzword di dunia korporasi, Otto Toto Sugiri sudah lebih dulu mengambil langkah radikal.
Tahun 2011, ia mendirikan PT DCI Indonesia Tbk, saat pusat data belum jadi primadona dan masih dianggap bisnis teknis yang ‘kurang seksi’.
Namun Otto melihat lebih dalam. Dia paham bahwa ekonomi digital butuh tulang punggung infrastruktur, dan data center adalah kunci vitalnya.
Dengan rekam jejak panjang sebagai profesional di dunia IT sejak era awal internet di Indonesia, ia tahu betul celah yang bisa dikapitalisasi.
Dan Otto tidak asal bangun. Di bawah kepemimpinannya sebagai Presiden Direktur sejak 2016, DCI Indonesia berhasil meraih sertifikasi Tier IV, standar tertinggi dalam industri pusat data global, yang hanya bisa dicapai oleh sedikit pemain kelas dunia.
Tingkat ketersediaannya? Hampir sempurna: 99,995 persen.
Tidak heran jika performa keuangan DCI ikut melesat. Pada kuartal I-2025, perusahaan mencatat laba bersih sebesar Rp 418,84 miliar, naik hampir 194% dibanding periode sama tahun sebelumnya.
Pendapatan sepanjang 2024 juga meroket hingga Rp 1,81 triliun, memperkuat posisi DCI sebagai pemimpin pasar di Asia Tenggara.
Mereka tak cuma melayani sektor swasta, tapi juga menjadi tulang punggung digitalisasi di bidang perbankan, telekomunikasi, bahkan layanan publik.
Solusi data center DCI menjadi fondasi operasional berbagai industri besar di Indonesia.
Kisah Otto Toto Sugiri layak dijadikan studi kasus bahwa kekayaan masa depan tidak selalu identik dengan eksploitasi sumber daya alam.
Dia menepis anggapan bahwa sukses harus lewat batu bara, nikel, atau emas. Otto menambang di ladang yang berbeda—di balik kabel, server, dan data digital.
Otto memahami satu hal penting: "Apa yang dibutuhkan dunia saat ini bukan hanya gedung megah, tapi fondasi digital yang kokoh."
Julukan “Bill Gates Indonesia” yang Layak Disematkan
Berbekal konsistensi, kecerdasan, dan keberanian mengambil langkah tak populer, Otto Toto Sugiri kini disebut sebagai Bill Gates Indonesia.
Julukan itu bukan isapan jempol. Dia telah menciptakan legacy digital nasional yang konkret, tak sekadar mengekor tren luar negeri.
Lebih dari itu, Otto membuka jalan bagi generasi pengusaha muda untuk melirik sektor teknologi sebagai ladang masa depan.
Di era ketika kebanyakan konglomerat berlomba membangun mal, bank digital, atau tambang nikel, Otto Toto Sugiri justru sibuk membangun server, bandwidth, dan sistem redundansi.
Siapa sangka, dari ruang-ruang dingin pusat data itulah, kekayaan triliunan rupiah bisa tercipta—bahkan tanpa satu keping batu bara pun.
“Jangan tunggu semua orang mulai, baru ikut bergerak. Kadang langkah paling awal memang sepi, tapi justru di sanalah letak emasnya.” pesan Otto. (*)
Editor : Amin Fauzie