RADARBONANG.ID – Ancaman kabut asap kembali menghantui Asia Tenggara tahun ini, seiring melonjaknya kebakaran hutan di Indonesia akibat pembukaan lahan.
Kenaikan harga komoditas pertanian, terutama minyak sawit (CPO), disebut-sebut sebagai pemicu utama meningkatnya aktivitas deforestasi dengan teknik tebang-bakar.
Dalam laporan terbarunya yang dirilis Senin (28/7), Singapore Institute of International Affairs menaikkan status risiko kabut asap lintas batas menjadi sedang.
Lembaga tersebut menandai adanya pergeseran yang mengkhawatirkan dibandingkan kondisi tahun lalu yang relatif bersih dari kabut asap.
Lonjakan harga komoditas seperti CPO secara historis kerap diikuti oleh ekspansi besar-besaran perkebunan, yang berujung pada pembakaran lahan.
"Harga komoditas yang tinggi mendorong perusahaan meningkatkan produksi, termasuk melalui pembukaan lahan hutan dan lahan gambut," ungkap lembaga independen tersebut.
Meski begitu, dampak jangka panjang dari harga CPO saat ini dinilai masih belum sepenuhnya jelas.
Fenomena kabut asap sendiri sudah menjadi langganan tahunan bagi Asia Tenggara, dengan puncaknya terjadi pada 2015.
Kala itu, kebakaran hebat di Indonesia menelan kerugian hingga US$16 miliar, memaksa sekolah-sekolah tutup di Malaysia dan penerbangan dibatalkan di Singapura.
Tak hanya berdampak ekonomi dan kesehatan, bencana itu juga menimbulkan gesekan diplomatik antarnegara.
Namun, laporan Haze Outlook 2025 membawa sedikit harapan.
Dua pola iklim utama, yaitu El Niño–Osilasi Selatan dan Dipol Samudra Hindia (IOD), diperkirakan akan tetap netral hingga akhir tahun.
Artinya, curah hujan dan suhu di kawasan Asia Tenggara akan berada di level historis rata-rata, membuka peluang musim kemarau yang lebih ringan dan lebih pendek.
Meski demikian, ancaman tetap membayangi. Laporan menyebut ambisi Indonesia dalam mewujudkan ketahanan pangan dan energi bisa menjadi pedang bermata dua.
Dorongan untuk meningkatkan hasil pertanian harus dibarengi dengan langkah-langkah keberlanjutan, agar tak menciptakan kondisi yang rawan kebakaran.
Tanda-tanda peningkatan kebakaran pun sudah mulai terlihat sejak pertengahan Juli.
Kabut asap tipis mulai melayang ke wilayah Semenanjung Malaysia, berasal dari provinsi-provinsi di Sumatra yang jaraknya berdekatan.
Data LSM Auriga Nusantara juga menguatkan kekhawatiran tersebut.
Deforestasi di Sumatra dilaporkan melonjak hampir tiga kali lipat pada 2024 dibandingkan dengan tahun sebelumnya, menjadikan pulau itu sebagai titik rawan utama penyumbang asap ke negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
Jika langkah mitigasi tidak segera diambil, bukan tidak mungkin Asia Tenggara kembali diselimuti kabut pekat layaknya satu dekade silam. (*)
Editor : Amin Fauzie