RADARBONANG.ID – Dunia makin bergantung pada energi fosil, dan gas alam kini menjadi primadona utama di tengah krisis energi global.
Berdasarkan data terbaru U.S. Energy Information Administration (EIA) dikutip dari warta ekonomi, Rusia masih menjadi raja cadangan gas alam dunia dengan total mencapai 1.688 triliun kaki kubik.
Angka fantastis tersebut menempatkan Negeri Beruang Merah di posisi puncak, disusul oleh Iran (1.200 TCF) dan Qatar (843 TCF).
Ketiganya menggambarkan betapa kawasan Eurasia dan Timur Tengah masih mendominasi lanskap energi global secara strategis, baik dari sisi cadangan maupun produksi.
10 Besar Negara Pemilik Cadangan Gas Alam Terbesar di Dunia (dalam TCF)
| Peringkat | Negara | Cadangan (Triliun Kaki Kubik) |
| 1 | Rusia | 1.688 |
| 2 | Iran | 1.200 |
| 3 | Qatar | 843 |
| 4 | Amerika | 615 |
| 5 | Turkmenistan | 400 |
| 6 | Arab Saudi | 336 |
| 7 | UEA | 290 |
| 8 | China | 265 |
| 9 | Nigeria | 209 |
| 10 | Venezuela | 195 |
Fakta bahwa tiga besar dunia — Rusia, Iran, dan Qatar — berada di satu blok kawasan memperkuat posisi strategis mereka dalam peta geopolitik energi global.
Ketergantungan negara-negara Eropa terhadap suplai gas Rusia sempat memicu ketegangan ketika konflik Ukraina pecah.
Sementara Iran dan Qatar memainkan peran penting di pasar gas cair (LNG).
Data ini sekaligus menjadi alarm bagi negara-negara pengimpor, bahwa diversifikasi sumber energi perlu dipercepat jika ingin menghindari krisis pasokan yang berulang.
Amerika Serikat yang berada di posisi keempat menunjukkan kekuatan produksi dan ekspor LNG-nya tetap diperhitungkan.
Di sisi lain, kehadiran China, Nigeria, dan Venezuela di 10 besar menjadi indikasi bahwa cadangan gas tak lagi hanya dimiliki negara-negara tradisional Timur Tengah dan Rusia.
China, misalnya, tak hanya agresif dalam transisi energi, tetapi juga terus mengembangkan potensi gas bumi sebagai jembatan menuju era energi bersih.
Indonesia Belum Masuk 10 Besar, Tapi Potensi Masih Terbuka
Meski belum masuk daftar 10 besar, Indonesia tetap punya peran penting sebagai produsen dan eksportir LNG di kawasan Asia-Pasifik.
Blok Mahakam, Tangguh, hingga proyek Masela menjadi tumpuan harapan ke depan.
Namun demikian, untuk bisa bersaing secara global, Indonesia perlu mempercepat eksplorasi, menjaga iklim investasi, dan memperkuat infrastruktur hilir gas bumi.
Dengan cadangan gas yang sedemikian besar, negara-negara pemiliknya punya pengaruh besar dalam dinamika ekonomi dunia.
Energi menjadi alat tawar-menawar diplomatik, sekaligus instrumen dalam menjaga kedaulatan ekonomi nasional. (*)
Editor : Amin Fauzie