RADARBONANG.ID – Ada cara baru mengenalkan sejarah pada anak muda.
Bukan dengan pidato atau pelajaran kaku di kelas, tapi lewat gambar-gambar yang penuh warna dan cerita seru.
Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Indonesia punya jurus jitu: menerbitkan 25 seri komik tentang Pangeran Diponegoro, sosok pahlawan yang dikenal dengan perlawanan heroiknya terhadap kolonialisme Belanda.
Langkah ini diambil dalam rangka memperingati 200 tahun Babad Diponegoro, naskah monumental yang merekam kisah hidup sang pangeran.
Tak cuma menyoroti adegan peperangan, komik-komik ini justru mengulik sisi-sisi humanis dari Diponegoro.
Mulai dari kisahnya merawat kuda kesayangan, hingga potret dirinya sebagai manusia biasa yang penuh inspirasi.
Sekretaris Utama Perpusnas, Joko Santoso, menyebut bahwa proyek ini menyasar langsung ke jantung generasi milenial dan Gen Z.
Tujuannya jelas: membangkitkan apresiasi terhadap nilai-nilai perjuangan dan keteladanan sang pahlawan.
"Kami mengajak milenial dan gen Z untuk mengapresiasi nilai-nilai dan suri teladan Diponegoro sebagaimana tertuang di Babad Diponegoro yang akan kami terbitkan pada 200 tahun kelahirannya, di situ ada sikap-sikap patriotisme, altruisme, kerelawanan dan identitas kebangsaan kita (yang dimiliki Diponegoro) pada masa kolonial dulu," katanya di Gedung Perpusnas Jakarta, Jumat (18/7).
Yang menarik, 25 seri komik ini tak hanya berhenti di etalase toko buku.
Mereka akan dikirim ke 10.000 perpustakaan dan taman bacaan masyarakat di seluruh Indonesia, menyasar anak-anak hingga remaja.
Bahasa visual yang akrab dan ringan membuatnya jauh lebih mudah dicerna ketimbang teks sejarah konvensional.
Bahkan, untuk memperluas jangkauan pesan, Perpusnas juga menggagas kompetisi animasi bertema Diponegoro.
"Target kita di komik ini untuk anak-anak, jadi lebih sesuai, karena komik kan lebih banyak gambar dan visual, tentu lebih mudah dipahami. Tak hanya berhenti di situ, nilai-nilai penting naskah ini akan terus kami tularkan ke generasi muda, salah satunya dengan kompetisi animasi," ujar dia.
Tak hanya menerbitkan komik, Perpusnas juga melakukan adaptasi terhadap karya-karya klasik Indonesia agar tetap hidup dan relevan.
Dari Siti Nurbaya, Ave Maria, hingga Salah Asuhan, semua dihadirkan dalam versi saduran yang menyisipkan nilai-nilai sastra dalam bahasa yang lebih segar dan bisa dinikmati pembaca muda.
"Ini menjadi potensi bagi anak muda untuk lebih inovatif dan kreatif. Tak hanya komik, tahun ini Perpusnas juga melakukan penyaduran karya-karya klasik, dulu kan ada cerita Siti Nurbaya, Ave Maria, Salah Asuhan. Adaptasi karya-karya klasik dalam bentuk saduran ini menjadi penting, masih relevan bagi generasi muda untuk kita tanamkan tata bahasa yang baik," ujarnya.
Joko menegaskan bahwa misi pelestarian sastra lama tidak berhenti di alih aksara dan alih bahasa.
Perpusnas juga terus melakukan alih wahana ke format digital agar karya-karya itu menjangkau lebih banyak orang lewat medium kekinian.
Program ini menjadi bagian dari peringatan 200 tahun Perang Jawa (1825–1830), salah satu peristiwa terbesar dalam sejarah perlawanan terhadap penjajah.
Di bawah tajuk MARTABAT, serangkaian kegiatan akan digelar dari 20 Juli hingga 20 Agustus 2025.
Tak tanggung-tanggung, pameran ini juga akan menghadirkan berbagai artefak, versi naskah Babad Diponegoro, surat-surat pribadi, sketsa, hingga koleksi literatur langka yang membuka sisi lain sang pangeran—dari spiritualitas, intelektualitas, hingga daya juangnya.
Tak sekadar mengenang, Perpusnas mencoba membangun ulang memori kolektif bangsa.
Mengajak kita melihat sejarah bukan sebagai masa lalu yang membosankan, melainkan warisan yang bisa menyala kembali lewat medium baru: komik, animasi, dan literatur adaptif.
Pangeran Diponegoro pun kini menyapa kita kembali, tak lagi hanya di buku sejarah, tapi juga di halaman-halaman penuh warna yang siap menginspirasi. (*)
Editor : Amin Fauzie