Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Laba Anjlok 82%, Saham Rontok 90%! Gudang Garam Terpuruk tapi Belum Tumbang, Ini Jurus Bertahannya

Tulus Widodo • Jumat, 11 Juli 2025 | 19:25 WIB
Kantor pusat Gudang Garam di Kediri.
Kantor pusat Gudang Garam di Kediri.

RADARBONANG.ID – Performa keuangan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) makin terhimpit di tengah badai perubahan industri rokok nasional.

Setelah bertahun-tahun menjadi raksasa di sektor tembakau, kini GGRM dipaksa bertarung di medan bisnis yang berubah cepat: penurunan minat pada rokok konvensional, tekanan pajak, regulasi ketat, dan persaingan dari produk alternatif seperti vape.

Terbaru, laporan keuangan 2024 dan kinerja kuartal I 2025 memperlihatkan laju penurunan yang mencemaskan.

Laba bersih GGRM tahun 2024 hanya Rp 980,8 miliar, turun 81,6% dibandingkan 2023.

Laba Q1 2025 sebesar Rp 104 miliar, turun 82% secara tahunan (YoY). Sementara, pendapatan 2024 sebesar Rp 98,6 triliun atau menyusut 17% dibandingkan tahun sebelumnya.

Yang lebih mengejutkan, harga saham GGRM yang dulu pernah menyentuh Rp 90.000 per lembar (2019) kini ambruk hingga hanya Rp 8.900 (perdagangan saham Jumat, 12 Juli 2025 terjun bebas 90% dalam 6 tahun terakhir).

Ada sejumlah faktor penyebab terpuruknya perusahaan rokok asal Kediri itu.

Di antaranya karena tren konsumen berubah.

Minat masyarakat, terutama generasi muda, bergeser ke arah gaya hidup sehat, produk bebas asap, dan rokok elektrik.

GGRM yang kuat di produk rokok kretek konvensional belum berhasil menciptakan penetrasi signifikan di pasar vape.

Faktor lainnya, beban cukai dan pajak mencekik. Lebih dari 50% harga jual rokok dihabiskan untuk cukai dan pajak, menyisakan margin yang makin tipis.

Dengan regulasi yang makin agresif dari pemerintah, margin industri terus tertekan.

Selain ini, karena ketatnya persaingan dan maraknya peredaran rokok ilegal.

Rokok ilegal kini makin menjamur, menawarkan harga murah tanpa beban cukai.

GGRM, yang bermain di sektor formal dan taat regulasi, justru tertekan dua kali lipat.

Dan, faktor lain yang membuat industri rokok seperti Gudang Garam kelimpungan karena regulasi pemerintah makin ketat.

Di antaranya, pelarangan iklan rokok, gambar peringatan kesehatan ekstrem di bungkus, serta rencana pelarangan rokok ketengan.

Kebijakan ini membuat brand equity produk menurun, sekaligus membatasi ruang promosi produsen legal.

Jurus Bertahan GGRM: Diversifikasi dan Efisiensi

Meski kondisi keuangan melemah, Gudang Garam belum menyerah.

Mereka kini berjudi besar pada transformasi bisnis non-tembakau.

Antara lain melakukan diversifikasi ke infrastruktur dengan investasi di Bandara Dhoho Kediri dan keterlibatan dalam proyek jalan tol strategis.

GGRM juga melakukan efisiensi ekstrem dengan otomatisasi produksi, program pensiun dini, dan pemangkasan pembelian bahan baku tembakau.

Sinyal bertahan kewat dividen:

Transformasi GGRM menandai pergeseran strategi dari dominasi pasar tembakau ke arah konglomerasi berbasis infrastruktur dan portofolio jangka panjang.

Meski masa depan di industri rokok tampak suram, perusahaan ini menunjukkan bahwa mereka tidak ingin tenggelam tanpa perlawanan. (*)

Editor : Amin Fauzie
#laporan keuangan #kinerja kuartal I 2025 #bisnis #efisiensi #gudang garam