RADARBONANG.ID – Presiden RI Prabowo Subianto menyambut kedatangan Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (27/6), dalam sebuah kunjungan yang sarat simbol persaudaraan dan diplomasi strategis.
Pertemuan ini menandai penguatan hubungan dua negara serumpun di tengah tantangan geopolitik yang semakin kompleks.
Sejak mendarat, suasana keakraban langsung terasa. Prabowo dan Anwar, yang dikenal bersahabat sejak lama, tampak tersenyum lepas sebelum bersama-sama menaiki kendaraan menuju Istana Negara.
Setibanya di Istana, suasana menjadi lebih semarak. 75 pasukan berkuda mengiringi kedatangan rombongan Anwar, menciptakan nuansa megah khas kenegaraan.
Lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dan “Negaraku” dikumandangkan secara bergantian, mempertegas nuansa persaudaraan lintas batas.
Yang menarik, sekitar 400 siswa SD ikut menyambut dengan mengibarkan bendera Merah Putih dan Jalur Gemilang di halaman dalam Istana.
Sementara dari luar area, pelajar tingkat SMP juga turut berbaris menyambut kehadiran pemimpin Malaysia tersebut—sebuah pemandangan yang tak hanya menyentuh, tapi juga sarat pesan simbolik: masa depan dua negara ada di tangan generasi muda.
Setelah prosesi penyambutan, kedua pemimpin langsung menggelar pertemuan bilateral tertutup.
Fokus pembahasan mengarah pada penguatan kerja sama ekonomi, stabilitas kawasan ASEAN, serta isu sensitif seperti perlindungan warga negara masing-masing.
Pertemuan ini berlangsung dalam konteks penting: dinamika geopolitik kawasan Indo-Pasifik yang kian memanas dan tantangan global seperti rantai pasok, migrasi, hingga keamanan maritim.
“Hubungan kita bukan sekadar diplomasi, ini tentang chemistry dua bangsa serumpun yang harus terus dijaga,” ujar salah satu pejabat Kemenlu RI yang enggan disebutkan namanya.
Kunjungan Anwar ke Indonesia kali ini bukan hanya sekadar agenda rutin.
Ini menjadi simbol penting solidaritas ASEAN—menunjukkan bahwa dua negara besar di Asia Tenggara bisa bersinergi membangun harmoni kawasan di tengah tekanan geopolitik global, termasuk persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok. (*)
Editor : Amin Fauzie