Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Setelah Perang Israel-Iran Meletus, Dunia Panik: Selat Hormuz Nyaris Lumpuh, Harga Minyak Dunia Meroket!

Tulus Widodo • Jumat, 27 Juni 2025 | 17:00 WIB
Foto  Selat Hormuz yang dirilis oleh Angkatan Laut AS pada 2019.
Foto Selat Hormuz yang dirilis oleh Angkatan Laut AS pada 2019.

RADARBONANG – Dunia baru saja melewati titik kritis. Perang terbuka antara Israel dan Iran yang selama ini hanya berupa ancaman, kini benar-benar terjadi.

Serangan udara, rudal jarak jauh, dan serangan drone menghantam fasilitas militer dan strategis di kedua negara.

Namun, efek perang ini tidak berhenti di medan tempur—dampaknya langsung mengguncang dunia melalui satu titik vital: Selat Hormuz.

Jalur sempit di antara Teluk Persia dan Teluk Oman ini kembali menjadi sorotan utama dunia internasional.

Alasannya jelas: lebih dari 20 persen minyak mentah dunia dan sekitar sepertiga LNG global melewati selat ini setiap hari.

Setelah perang pecah, Iran langsung meningkatkan pengamanan dan memperketat kontrol terhadap kapal tanker yang melintasi wilayah perairan mereka.

Iran secara terbuka mengklaim bahwa keamanan Selat Hormuz menjadi “urusan dalam negeri” mereka.

Dalam pernyataan pasca-konflik, Teheran menyebutkan akan meninjau ulang akses kapal asing, terutama milik negara-negara yang dianggap "bersekutu dengan Israel".

Imbasnya langsung terasa: pengiriman minyak tertunda, asuransi kapal melonjak, dan harga minyak dunia melesat ke atas USD 140 per barel hanya dalam waktu tiga hari.

“Kami tidak akan diam jika Selat Hormuz dimanfaatkan untuk menguntungkan negara agresor,” tegas Juru Bicara Kementerian Pertahanan Iran dalam konferensi pers di Teheran.

Meski pertempuran skala besar antara Iran dan Israel kini telah reda setelah mediasi internasional, dunia belum bisa bernapas lega.

Iran kini memanfaatkan Selat Hormuz sebagai alat negosiasi geopolitik.

Mereka menuntut pencabutan sanksi, pengakuan internasional atas program nuklir mereka, hingga penarikan pasukan asing dari kawasan Teluk.

Pakar keamanan menyebut kondisi ini sebagai “perdamaian semu di bawah bayang-bayang blokade energi”.

Negara-negara eksportir minyak di kawasan seperti Arab Saudi, Kuwait, dan Uni Emirat Arab terjebak dalam situasi pelik—tak bisa mengekspor secara maksimal, sementara permintaan global terus meningkat.

Fakta Dampak Selat Hormuz Pasca-Perang Israel-Iran

Indonesia juga tak kebal dari efek domino konflik ini. Kenaikan harga minyak mentah global membuat beban subsidi energi makin berat.

Harga BBM nonsubsidi naik, inflasi terdorong, dan rupiah sempat menyentuh Rp 16.500 per dolar AS.

“Selat Hormuz bukan hanya masalah Timur Tengah, tapi urusan semua negara yang tergantung pada minyak,” ujar ekonom energi dari INDEF, Dr. Rahmat Hidayat.

Setelah perang usai, Selat Hormuz berubah fungsi dari jalur perdagangan menjadi alat tekanan politik tingkat tinggi.

Ketegangan masih menggantung. Negara-negara besar seperti AS, Rusia, dan China mulai aktif mengirim sinyal diplomasi untuk menjaga akses laut tetap terbuka.

Namun, selama Iran merasa dikucilkan, ancaman blokade total tetap terbuka lebar. (*)

Jawa Pos Radar Madiun Education Awards 2025.
Jawa Pos Radar Madiun Education Awards 2025.
Editor : Amin Fauzie
#fakta #selat hormuz #harga minyak dunia #Perang Israel Iran #harga bbm nonsubsidi