RADARBONANG.ID – Dunia kembali dikejutkan oleh temuan 22 virus baru dari kelelawar di Provinsi Yunnan, China — 20 di antaranya belum pernah tercatat sebelumnya.
Dua di antaranya bahkan disebut berkerabat dekat dengan virus mematikan Nipah dan Hendra, yang punya tingkat kematian hingga 75 persen.
Temuan ini dipublikasikan oleh tim ilmuwan gabungan dari Tiongkok dan Universitas Sydney, setelah mereka menganalisis ginjal 142 kelelawar selama empat tahun terakhir.
Uniknya, alih-alih feses, kali ini penelitian berfokus pada jaringan ginjal, yang memungkinkan virus menyebar lewat urin, jalur penularan yang selama ini luput dari perhatian.
Dicky Budiman, epidemiolog dari Griffith University Australia, memperingatkan bahwa temuan ini bukan kejutan, tapi justru hasil logis dari krisis ekologi global.
“Perubahan iklim memengaruhi distribusi hewan dan serangga. Nyamuk, kutu, bahkan kelelawar, semua terdorong masuk ke habitat manusia karena habitat asli mereka dirusak,” ujar Dicky dikutip dari Bloomberg Technoz, Kamis (26/6).
Menurut Dicky, perubahan iklim dan stres ekologi memicu hewan liar, termasuk kelelawar, meningkatkan shedding virus—yakni pelepasan virus lewat kotoran, urin, dan air liur.
Contohnya:
- Pembangunan IKN dan kota baru tanpa kajian ekologi menyeluruh dapat mendorong satwa liar mendekat ke pemukiman.
- Deforestasi dan perluasan perkebunan sawit membuka peluang terjadinya interface zoonosis—zona berbahaya tempat virus melompat dari hewan ke manusia.
Faktor lain yang memperparah risiko, menurut Dicky:
- Urbanisasi mempercepat mobilitas manusia dan memperluas kontak ke ekosistem liar.
- Wet market (pasar hewan hidup) jadi laboratorium terbuka bagi mutasi virus.
- Perdagangan satwa eksotis menciptakan kontak tak alami yang berpotensi jadi bencana.
“Sudah saatnya kita hentikan wet market. Pemotongan hewan harus dipisahkan dan diatur. Pasar sehat dan kota sehat itu mutlak, bukan opsi,” tegas Dicky.
Dua virus henipavirus baru yang ditemukan memiliki kemiripan genetik dengan virus Nipah dan Hendra.
Kedua virus ini telah terbukti mematikan pada manusia, menyebabkan radang otak akut, gagal napas, dan kematian mendadak, dengan CFR (case fatality rate) hingga 75 persen.
Selain virus, penelitian ini juga menemukan dua spesies bakteri baru dan satu parasit yang belum pernah dideskripsikan sebelumnya. (*)
Editor : Amin Fauzie