RADARBONANG.ID – Warga Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan, Tuban masih diliputi rasa syok dan duka setelah penemuan jasad seorang gadis muda di area persawahan desa tersebut pada Senin siang (23/6).
Identitas korban yang diketahui berinisial PR (21), warga Desa Tingkis, yang ternyata dibunuh oleh pacarnya sendiri, SF (25).
Peristiwa tragis itu hingga kini masih menjadi perbincangan warga.
Hubungan asmara yang telah terjalin selama dua tahun antara keduanya, berakhir dengan cara yang kejam.
Korban ditemukan tak bernyawa dengan kondisi mengenaskan, ditinggalkan begitu saja di lahan area persawahan desa setempat.
Menurut pihak kepolisian, pembunuhan di Singgahan ini dipicu oleh persoalan asmara.
Meski motif detailnya masih didalami, tersangka mengakui bahwa konflik pribadi menjadi pemicunya.
Proses penangkapan SF berlangsung cepat. Dalam waktu kurang dari tujuh jam sejak penemuan jasad PR, polisi berhasil meringkus pelaku.
Fakta terbaru, SF ternyata dulunya adalah warga Desa Tingkis, Kecamatan Singgahan. Artinya, pelaku dan korban adalah warga satu desa.
Pantas saja banyak warga desa setempat yang terkejut saat polisi menyebut alamat tersangka dari Sidoarjo.
Untuk memastikan kebenaran alamat tersangka. Radar Bonang menyambangi kantor desa setempat.
Dan, Kepala Desa Tingkis, Toha, membenarkan bahwa SF memang pernah tinggal di desanya. “Dia (tersangka, Red) lahir dan dibesarkan oleh keluarganya di sini (Desa Tingkis, Red),” ujarnya saat ditemui Radar Bonang di kantor kerjanya, Selasa (24/6).
Rupanya, SF telah mengurus surat pindah ke Mojokerto sejak Mei lalu.
“Alasannya mengajukan pindah domisili karena mendapatkan pekerjaan di wilayah sana (Sidoarjo, Red). Kebetulan kakaknya juga tinggal di daerah yang sama,” tambahnya.
Perpindahan domisili tersebut kini menjadi tanda tanya di kalangan warga, apakah hal itu sekadar kebetulan atau bagian dari rencana yang lebih besar.
“Masih tidak menyangka dengan apa yang telah diperbuat (SF, Red), padahal semasa di desa sini berkelakuan baik, bahkan kerap ikut kegiatan keagamaan,” imbuh Toha.
Sementara itu, salah satu perangkat desa yang enggan disebut namanya, mengatakan bahwa SF tumbuh dalam keluarga yang dikenal agamis.
Dia bahkan dikenal sebagai penabuh rebana di grup musik hadrah setempat.
“Yang bersangkutan (SF, Red) ini merupakan anak mantan kepala desa yang pernah menjabat dua periode. Keluarganya pun juga tak menyangka dengan adanya kejadian ini,” terangnya.
Terpisah, Kapolsek Singgahan AKP Rukandar mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas kebenarannya.
“Kemarin banyak hoaks terkait kasus pembunuhan ini. Untuk itu, kami harap masyarakat dapat selektif menerima informasi,” ujarnya.
Dia juga menepis kabar yang menyebut bahwa konflik antara pelaku dan korban dipicu kegagalan pertunangan.
“Keluarga pelaku bahkan tidak tahu jika anaknya menjalin hubungan dengan korban, namun dari keterangan pelaku dirinya telah menjalin asmara sejak dua tahun terakhir,” beber Rukandar.
Mantan Kapolsek Bangilan itu menambahkan, keluarga korban mengaku jika kehilangan korban sejak Sabtu malam.
Korban berpamitan hendak keluar rumah, namun tidak menyebut secara detail pergi dengan siapa dan tujuannya ke mana.
‘’Sejak terakhir kepergian korban dari rumah hingga penemuan jenazah pada hari Senin (23/6), keluarga korban tidak melapor kepada kami,’’ tandasnya. (*)
Editor : Amin Fauzie