RADARBONANG.ID – Siapa bilang bisnis peternakan cuma bisa dijalankan di desa?
Seorang warga kota membuktikan bahwa beternak ayam petelur di tengah hiruk-pikuk perkotaan bisa jadi ladang cuan yang menggiurkan.
Dengan lahan sempit dan modal minim, omzetnya kini tembus jutaan rupiah per bulan! Bagaimana caranya?
Di tengah semakin mahalnya harga telur ayam di pasaran, seorang warga asal kawasan padat di pinggiran Jakarta justru memutar otak untuk menciptakan peluang emas.
Dia memanfaatkan pekarangan rumah selebar 3x5 meter untuk membangun kandang mini ayam petelur.
Hasilnya? Tak hanya bisa mencukupi kebutuhan telur sehari-hari, ia juga meraup keuntungan dari penjualan ke tetangga dan warung sekitar.
"Saya awalnya cuma pelihara lima ekor, buat konsumsi sendiri. Eh, tetangga malah nitip beli. Akhirnya saya tambah terus jumlah ayamnya," ujar Rudi, sang peternak rumahan yang kini jadi panutan warga sekitar.
Rudi mengaku hanya butuh modal sekitar Rp 1,5 juta di awal untuk membeli DOC (Day Old Chicken) dan membangun kandang sederhana dari bambu bekas. Dalam waktu 4–5 bulan, ayam-ayam tersebut mulai bertelur secara rutin.
"Sekarang saya punya 25 ekor ayam petelur, bisa menghasilkan 20–22 butir telur per hari. Kalau dijual seribuan saja per butir, lumayan, sehari bisa dapat Rp 20 ribu lebih," katanya.
Dia juga menambahkan bahwa pakan ayam bisa disiasati agar lebih hemat, seperti mencampur dedak dengan sisa nasi atau sayur dari dapur.
Beternak ayam petelur skala rumahan ternyata bukan cuma soal cuan.
Menurut Rudi, kotoran ayamnya kini dimanfaatkan menjadi pupuk organik untuk tanaman sayur di rumahnya. Bahkan, ia kini mulai menjual pupuk tersebut secara online!
"Ini usaha yang nyambung ke mana-mana. Telurnya laku, pupuknya laku, bahkan saya sekarang ditanya-tanya banyak orang yang mau ikut belajar beternak di rumah," tambahnya sambil tersenyum bangga.
Netizen Auto Tertarik: Cocok Buat Side Hustle Anak Muda Kota!
Kisah sukses Rudi langsung viral di media sosial setelah video kandang mininya diunggah ke TikTok.
Banyak netizen yang tak menyangka bahwa bisnis ayam petelur bisa dikembangkan di lingkungan padat penduduk.
Komentar seperti, "Gue kira cuma bisa di desa!" atau "Gue juga punya lahan nganggur, pengen coba juga!" membanjiri unggahan tersebut.
Tak sedikit pula yang tertarik menjadikan beternak ayam sebagai side hustle di era harga bahan pokok yang makin naik.
Potensi Bisnis Ayam Petelur di Kota Sangat Menjanjikan
Menurut pakar agribisnis, beternak ayam petelur skala rumahan memang cocok dikembangkan di kawasan urban, asalkan memperhatikan kebersihan, sanitasi, dan kenyamanan lingkungan sekitar.
"Pasarnya sudah jelas. Telur adalah kebutuhan harian. Kalau dilakukan dengan benar, bisnis ini bisa bertahan lama dan terus berkembang," jelas Dedi, konsultan peternakan urban.
Tertarik mencoba? Mungkin ini saatnya kamu ubah halaman belakang rumah jadi sumber penghasilan yang tak disangka-sangka. Jangan tunggu besok, mulai hari ini! (*)