RADARBONANG.ID - Ketegangan geopolitik kembali mengguncang pasar energi global.
Harga minyak dunia melonjak tajam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyerukan evakuasi masal dari Teheran, ibu kota Iran.
Seruan ini dilontarkan menyusul pernyataan keras Israel yang menyatakan akan melanjutkan serangan militer besar-besaran ke Iran.
Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) langsung terpantik dan naik hingga 1,7 persen, diperdagangkan mendekati level US$73 per barel, setelah sebelumnya sempat jatuh 1,7 persen pada Senin (16/6).
Israel mengklaim telah menguasai sebagian besar wilayah udara Iran dan menghancurkan berbagai fasilitas strategis—terutama yang berkaitan dengan program misil dan nuklir—sejak serangan diluncurkan Jumat pekan lalu.
Situasi ini memicu ketegangan baru yang membayangi pasar minyak dunia.
Namun yang membuat pasar benar-benar panik adalah seruan Donald Trump melalui akun media sosial pribadinya yang menyerukan: “Evakuasi Teheran sebelum semuanya terlambat!”
Pesan tersebut langsung memicu kepanikan investor, yang khawatir konflik akan meluas dan berdampak pada jalur distribusi energi utama dunia.
Timur Tengah—yang memasok sekitar sepertiga produksi minyak dunia—kembali jadi titik api.
Meski infrastruktur ekspor minyak utama Iran masih utuh, ketakutan terbesar saat ini adalah kemungkinan Iran menutup Selat Hormuz, jalur laut sempit yang menjadi urat nadi perdagangan minyak global.
Bayangkan saja, 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz setiap hari.
Jika Iran mengambil langkah ekstrem ini, dunia bisa masuk ke dalam krisis energi global dengan harga minyak melonjak tak terkendali.
Sebelum seruan Trump dan ancaman lanjutan dari Israel, pasar sempat sedikit tenang.
Ada sinyal bahwa Iran ingin meredakan ketegangan, memberi harapan bahwa konflik tidak akan melebar. Tapi dengan perkembangan terbaru ini, pasar kembali diliputi ketidakpastian.
Meski harga minyak Indonesia masih relatif stabil, lonjakan harga global berpotensi berdampak langsung pada harga BBM dan tarif energi nasional, terutama jika konflik terus bereskalasi.
Investor di sektor energi kini masuk mode waspada tinggi, sementara pemerintah di berbagai negara mulai mengantisipasi kemungkinan terburuk. (*)