RADARBONANG- Jarik adalah kain panjang yang digunakan untuk menutup tubuh sepanjang kaki.
Di zaman dulu, kain jarik adalah simbol tingkatan seseorang di dunia sosial, misalnya seperti bangsawan dan rakyat biasa.
Jarik yang mereka gunakan berbeda. Yang membedakannya adalah motif.
Motif jarik yang digunakan bangsawan tidak boleh digunakan oleh rakyat biasa, begitupun sebaliknya.
Dilansir dari postingan akun Instagram @omahcantrik pada Selasa (6/5), jarik memiliki makna, yaitu "aja gampang serik," maksudnya jangan mudah iri kepada orang lain, ketika menghadapi masalah apapun harus berhati-hati dan tenang.
Kain jarik selain dimanfaatkan sebagai busana, juga digunakan sebagai gendongan bayi, prosesi adat Jawa, bahkan kain penutup jenazah.
Ada 3 filosofi jarik yang berbeda, yaitu jarik pria, jarik wanita, dan jarik wiru. Simak penjelasannya berikut!
1. Filosofi Jarik Pria
Jarik yang digunakan oleh seorang pria dinamakan bebed, yang artinya seorang pria harus ubed, rajin bekerja dan berhati-hati terhadap segala hal yang dilakukannya.
Selain itu, seorang pria tumindak nggubed ing rina wengi (bekerja siang dan malam).
Bebed juga mengingatkan untuk selalu berhati-hati agar tidak merugikan orang lain dalam setiap tindakan, tidak mudah terombang-ambing dan tetap fokus pada apa yang ingin dituju.
2. Filosofi Jarik Wanita
Jarik yang dipakai wanita memiliki makna bahwa seorang wanita harus menjaga kesuciannya, artinya tidak mudah menyerahkan diri kepada siapapun.
Jarik memberikan kesan anggun dan lemah lembut kepada wanita yang memakainya.
Jarik menjadi simbol pengendalian diri pada wanita, di mana wanita yang memakai jarik akan lebih berhati-hati dalam bertindak, serta lembut dalam bertutur kata dan berperilaku.
3. Filosofi Jarik Wiru
Wiru atau wiwiren memiliki arti "aja nganti kleru." Artinya, olahlah atau aturlah segala sesuatu yang terjadi sedemikian rupa sehingga bisa menimbulkan suasana yang menyenangkan dan harmonis.
Jarik selalu dipakai dengan wiru atau sebutan lainnya wiron, di mana ujung jarik dilipat-lipat menyerupai kipas lipat.
Lipatan jarik biasanya berjumlah ganjil, misalnya 3, 5, 7, 9, dan seterusnya. Lebarnya untuk wanita kurang lebih sekitar 2 cm (dua jari), serta menghadap ke kiri.
Sedangkan untuk pria, lebar wirunya kurang lebih 3 cm (tiga jari), serta menghadap ke kanan.
Jarik yang dipakai banyak orang setiap hari ternyata memiliki filosofi tersendiri, dan tidak banyak yang tahu mengenai ini.
Filosofi jarik mengajarkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab yang harus dilakukan, itulah mengapa filosofi jarik antara pria dan wanita berbeda, bahkan penataan wirunya pun berbeda. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni