Mengapa Simpanse Dianggap Lebih Berbahaya daripada Gorila? Ini Penjelasannya

Dya Laras Miftaqu Rohmah • Dipublikasikan Senin, 26 Oktober 2026 | 17:02 WIB
Simpanse lebih ditakuti daripada gorila. (ilustrasi AI)
Simpanse lebih ditakuti daripada gorila. (ilustrasi AI)

RADARBONANG - Ukuran tubuh yang besar tidak selalu menjadi penentu tingkat bahaya seekor satwa.

Gorila punggung perak yang bobotnya dapat mendekati 200 kilogram mungkin terlihat lebih mengintimidasi dibandingkan simpanse dewasa yang beratnya berkisar 40 hingga 60 kilogram.

Namun, mengenai protokol keselamatan satwa menyebutkan bahwa simpanse dewasa dapat memicu respons darurat tingkat tinggi ketika lepas dari kandangnya. 

Baca Juga: Bukan Sekadar Kehilangan Satwa, Kepunahan Hewan Indonesia Putuskan Jutaan Tahun Evolusi

Perbedaan tersebut dikaitkan dengan karakter perilaku, kemampuan fisik, serta respons biologis kedua primata.

Dalam narasi tayangan video di kanal youtube Viva Superova, gorila yang keluar dari kandang digambarkan masih memungkinkan untuk ditangani dengan upaya menenangkan situasi. 

Sementara itu, simpanse yang lepas disebut dapat memicu status darurat atau kode merah karena potensi serangannya terhadap manusia.

“Dalam protokol keamanan kebun binatang internasional, jika seekor gorila keluar dari kandangnya, petugas umumnya masih diperintahkan untuk menenangkan situasi. Namun jika yang lepas adalah seekor simpanse dewasa yang berat normalnya cuma sekitar 40 hingga 60 kg, status daruratnya langsung berubah menjadi kode merah,” demikian bunyi ulasan tersebut.

Perbedaan Perilaku Gorila dan Simpanse

Gorila dan simpanse memiliki pola makan serta perilaku yang berbeda. Gorila terutama memakan tumbuhan, seperti dedaunan, batang, dan rebung.

Ketika merasa terancam atau terganggu, gorila dapat menunjukkan perilaku intimidatif, termasuk memukul dada dan melakukan bluff charge atau gerakan menerjang sebagai peringatan.

Perilaku tersebut tidak selalu berujung pada serangan fisik. Dalam sejumlah situasi, tindakan itu menjadi cara gorila memperingatkan pengganggu agar menjauh.

Sementara itu, simpanse merupakan omnivora yang mengonsumsi buah, daun, serangga, serta daging.

Satwa ini juga diketahui melakukan perburuan secara berkelompok.

Kombinasi perilaku sosial yang kompleks dan kemampuan fisik membuat simpanse memerlukan penanganan hati-hati, terutama ketika menunjukkan perilaku agresif.

Meski demikian, tingkat bahaya kedua primata tidak bisa ditentukan hanya dari pola makan atau perilaku tertentu.

Situasi, kondisi individu, serta faktor lingkungan juga memengaruhi respons satwa ketika merasa terancam.

Kekuatan Otot dan Kecerdasan Simpanse

Kemampuan fisik menjadi aspek lain yang disorot dalam narasi tersebut. Simpanse memiliki otot yang mendukung gerakan eksplosif, seperti menarik, memanjat, dan mencengkeram.

Kemampuan tersebut membuatnya mampu mengerahkan tenaga besar dalam waktu singkat.

Narasi itu juga mengutip penelitian biologi evolusi yang dipimpin Dr. Matthew O’Neill pada 2007.

Penelitian tersebut disebut mengungkapkan bahwa 67 persen otot simpanse terdiri atas serat otot cepat yang mendukung gerakan bertenaga tinggi.

Selain kekuatan fisik, simpanse memiliki kemampuan kognitif yang kompleks. Satwa ini dapat mempelajari lingkungan, menggunakan alat, dan memperlihatkan perilaku sosial yang melibatkan kerja sama maupun persaingan.

Dalam kondisi tertentu, kemampuan tersebut turut memengaruhi cara simpanse merespons ancaman.

Karena itu, penanganan simpanse di fasilitas satwa memerlukan prosedur keselamatan yang memperhitungkan perilaku dan kondisi individu, bukan semata-mata ukuran tubuhnya.

Perbedaan antara gorila dan simpanse memperlihatkan bahwa karakter satwa liar tidak bisa dinilai hanya berdasarkan penampilan.

Pemahaman mengenai perilaku, kemampuan fisik, dan respons terhadap tekanan menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan manusia sekaligus kesejahteraan satwa. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
primata simpanse gorila satwa