RADARBONANG.ID – Anggapan bahwa seseorang bertubuh gemuk pasti tetap sehat selama tidak merasakan keluhan fisik perlu diluruskan.
Aktor sekaligus figur publik Ery Makmur membagikan pengalaman pribadinya setelah hasil pemeriksaan kesehatan pada 2023 membuatnya menyadari risiko yang selama ini tidak ia rasakan secara langsung.
Pengalaman tersebut diceritakan dalam tayangan podcast The Inner Circle melalui episode bertajuk Mitos Terbodoh Dunia Kesehatan, Gendut Itu Sehat.
Baca Juga: Minuman Penambah Berat Badan, Perhatikan jika Kamu Ingin Tambah Gendut Instan
Dalam perbincangan itu, Ery mengulas perubahan pandangannya terhadap berat badan dan pentingnya menjaga kesehatan dalam jangka panjang.
Selama bertahun-tahun, termasuk sejak mulai terjun ke dunia seni peran pada awal 2000-an, Ery terbiasa menjalani kehidupan dengan tubuh gemuk.
Namun, kesadarannya mulai berubah ketika dia hendak mengurus asuransi kesehatan untuk anaknya pada 2023.
Proses tersebut mengharuskannya menjalani pemeriksaan kesehatan. Hasilnya menunjukkan indikator body age atau usia tubuh yang disebut setara dengan orang berusia 67 tahun.
"Waktu 2023 mau mengasuransikan anak, kita harus medical check-up dong. Dianggap berisiko karena body age-nya sama dengan orang usia 67 tahun," ungkap Ery Makmur dalam siniar tersebut.
Hasil pemeriksaan itu menjadi titik balik bagi Ery. Dia menyadari bahwa kondisi kesehatan tidak cukup dinilai hanya dari penampilan atau ada tidaknya keluhan yang terasa sehari-hari.
Merasa Sehat Belum Tentu Bebas Risiko
Pengalaman Ery menggambarkan bagaimana seseorang dapat merasa baik-baik saja meski memiliki faktor risiko kesehatan.
Tidak adanya keluhan seperti sakit kepala atau riwayat rawat inap bukan jaminan bahwa seluruh indikator kesehatan berada dalam kondisi optimal.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengakui obesitas sebagai penyakit kronis yang kompleks.
Kondisi ini berkaitan dengan penumpukan lemak berlebihan yang dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, termasuk diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan sejumlah jenis kanker.
Meski demikian, risiko kesehatan tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan penampilan fisik.
Penilaian perlu mempertimbangkan berbagai indikator, seperti indeks massa tubuh (IMT), lingkar pinggang, tekanan darah, kadar gula darah, serta profil lemak darah sesuai kebutuhan pemeriksaan.
Begitu pula dengan body age. Angka tersebut umumnya merupakan perkiraan dari perangkat atau metode tertentu, bukan ukuran medis yang dapat berdiri sendiri untuk memastikan kondisi kesehatan seseorang.
Hasil pemeriksaan dan penilaian tenaga medis tetap diperlukan untuk memahami risiko secara lebih menyeluruh.
Karena itu, pengalaman Ery menjadi pengingat agar masyarakat tidak mengabaikan pemeriksaan kesehatan hanya karena merasa tidak mengalami gangguan.
Mengenali faktor risiko sejak dini dapat membantu seseorang menentukan langkah pencegahan dan penanganan yang sesuai.
Perubahan Pola Hidup Jadi Kunci
Dalam diskusi tersebut, ahli gizi yang mendampingi Ery menekankan bahwa upaya menurunkan berat badan tidak seharusnya berorientasi pada hasil instan.
Perubahan pola hidup yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang lebih penting daripada mengejar angka timbangan dalam waktu singkat.
Pengaturan porsi makan, pemilihan bahan pangan bergizi, dan aktivitas fisik secara konsisten menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan.
Asupan sayur, buah, dan sumber serat dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi sekaligus mendukung fungsi pencernaan.
Umbi garut juga disebut dalam pembahasan sebagai salah satu bahan pangan yang dapat dimanfaatkan dalam pola makan. Namun, manfaatnya perlu dipahami secara proporsional.
Umbi garut bukan pelindung lambung yang terbukti dapat mencegah atau menyembuhkan seluruh gangguan pencernaan, sehingga penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan individu.
Penurunan berat badan pun tidak harus dilakukan melalui diet ekstrem.
Pola makan seimbang, aktivitas fisik yang sesuai kemampuan, tidur cukup, serta pendampingan tenaga kesehatan bila diperlukan dapat membantu membangun kebiasaan yang lebih berkelanjutan.
Ery turut mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan rasa bahagia atau kenyamanan dengan bentuk tubuh sebagai alasan untuk mengabaikan kesehatan.
Pesan tersebut bukan berarti setiap orang harus memiliki bentuk tubuh tertentu, melainkan pentingnya memahami kondisi tubuh dan mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga kualitas hidup.
Pada akhirnya, pengalaman Ery Makmur menegaskan bahwa menjaga kesehatan bukan semata-mata persoalan penampilan. Kesadaran terhadap kondisi tubuh, pemeriksaan berkala, dan perubahan kebiasaan yang realistis dapat menjadi bekal untuk mengurangi risiko masalah kesehatan di masa mendatang. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari