RADARBONANG.ID – Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok sama-sama mengarahkan program eksplorasi antariksa ke Kutub Selatan Bulan.
Kawasan ini menjadi perhatian karena berpotensi menyimpan es air yang dapat mendukung kebutuhan astronot sekaligus menjadi sumber daya penting untuk misi antariksa jangka panjang.
Persaingan tersebut tidak lagi sebatas upaya menjadi negara pertama yang mencapai suatu pencapaian di Bulan.
Baca Juga: Mengapa Kutub Matahari Sulit Dijangkau Wahana Antariksa? Ini Penjelasannyav
Kedua negara juga mengembangkan kemampuan untuk membangun pangkalan, memanfaatkan sumber daya setempat, serta mempersiapkan misi berawak ke tujuan yang lebih jauh.
Air menjadi salah satu sumber daya yang paling diburu. Jika es air dapat ditemukan dan diolah dalam jumlah memadai, hasilnya berpotensi digunakan untuk memenuhi kebutuhan minum dan mendukung sistem kehidupan astronot.
Melalui proses pemisahan, air juga dapat menghasilkan hidrogen dan oksigen yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan bakar roket dan pendukung kehidupan.
Namun, keberadaan es air yang dapat dimanfaatkan di suatu lokasi tetap membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Kondisi medan, akses energi, dan teknologi pengolahan menjadi faktor penting dalam menentukan kelayakan pemanfaatannya.
Lokasi Pendaratan Jadi Faktor Penentu
Kutub Selatan Bulan memiliki karakteristik geografis yang tidak ditemukan di semua wilayah Bulan.
Sejumlah puncak dan punggung kawah menerima sinar Matahari dalam waktu relatif panjang, sementara dasar beberapa kawah berada dalam bayangan permanen.
Area yang terus-menerus gelap tersebut menjadi sasaran penelitian karena berpotensi menyimpan es air.
Administrator NASA Jared Isaacman menilai, lokasi yang memenuhi kebutuhan pendaratan dan operasi di kawasan tersebut jumlahnya terbatas.
Dalam pembahasan di kanal YouTube The Space Race, Isaacman mengibaratkan Kutub Selatan Bulan seperti Washington, D.C., sedangkan luas permukaan Bulan secara keseluruhan sebanding dengan Afrika.
“Lokasi pendaratan yang baik jumlahnya terbatas,” ujar Isaacman dalam pernyataan yang dibahas di kanal tersebut.
Keterbatasan itu membuat pemilihan lokasi menjadi bagian penting dalam perencanaan misi.
Area yang ideal perlu mempertimbangkan akses sinar Matahari untuk pembangkit energi, ketersediaan jalur komunikasi dengan Bumi, serta jarak menuju wilayah yang berpotensi mengandung es air.
Tiongkok juga memperluas eksplorasi Bulan melalui rangkaian misi Chang’e. Negara tersebut telah berhasil mendaratkan wahana di sisi jauh Bulan dan membawa sampel tanah Bulan kembali ke Bumi.
Program berikutnya diarahkan untuk memperdalam penelitian terhadap kawasan kutub dan potensi sumber dayanya.
Meski memiliki tujuan eksplorasi yang serupa, AS dan Tiongkok tetap harus menghadapi tantangan teknis yang kompleks.
Pendaratan di medan terjal, pengoperasian perangkat dalam suhu ekstrem, serta penyediaan energi untuk misi jangka panjang menjadi sejumlah persoalan yang perlu diatasi.
Bulan Jadi Persiapan Menuju Mars
Eksplorasi Kutub Selatan Bulan juga berkaitan dengan rencana perjalanan manusia menuju Mars.
Sebelum mengirim manusia dalam misi yang lebih jauh dan kompleks, Bulan dapat digunakan sebagai tempat pengujian teknologi, sistem pendukung kehidupan, serta cara memanfaatkan sumber daya di luar Bumi.
Isaacman menegaskan bahwa pengembangan kemampuan eksplorasi Bulan merupakan bagian dari persiapan tersebut.
“Saya ingin memastikan NASA menguasai keterampilan yang diperlukan untuk pergi ke Mars,” lanjut pernyataannya.
Pengalaman mengoperasikan pangkalan dan peralatan di lingkungan Bulan dapat memberikan data penting bagi pengembangan misi antariksa berikutnya.
Meski demikian, perjalanan ke Mars tetap memiliki tantangan tersendiri, termasuk jarak yang jauh, kebutuhan energi, dan risiko bagi keselamatan awak.
Dengan demikian, perhatian terhadap Kutub Selatan Bulan tidak hanya berkaitan dengan prestise atau pencapaian teknologi.
Kawasan tersebut berpotensi menjadi tempat penting untuk menguji kemampuan manusia bertahan dan bekerja di lingkungan antariksa, sekaligus mempelajari kemungkinan pemanfaatan sumber daya di luar Bumi. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari