RADARBONANG.ID – Pernah merasa pencapaian yang dulu begitu diinginkan ternyata hanya memberikan kebahagiaan sesaat? Setelah mendapat kenaikan gaji, membeli barang baru, atau meraih target tertentu, keinginan lain justru muncul.
Akibatnya, seseorang terus mengejar sesuatu tanpa benar-benar merasa cukup.
Fenomena tersebut dibahas kreator konten Ghibran Arrazi melalui kanal YouTube Ghibran Arrazi.
Dalam pemaparannya, dia menyoroti bagaimana perubahan standar hidup dan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dapat memengaruhi kepuasan seseorang terhadap kehidupannya.
Salah satu konsep yang berkaitan dengan kondisi tersebut adalah hedonic treadmill atau ban berjalan hedonistik.
Istilah dalam psikologi ini menggambarkan kecenderungan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan perubahan positif, sehingga kebahagiaan dari sebuah pencapaian dapat berkurang seiring waktu.
Ketika kondisi finansial membaik atau keinginan tertentu berhasil terpenuhi, seseorang mungkin merasa senang pada awalnya. Namun, setelah terbiasa dengan keadaan baru, hal yang sebelumnya dianggap istimewa bisa berubah menjadi sesuatu yang biasa.
Standar hidup kemudian ikut meningkat. Seseorang mulai menginginkan pencapaian berikutnya, bahkan ketika kebutuhan sebelumnya telah terpenuhi. Siklus ini dapat membuat kepuasan hidup terasa sulit dipertahankan.
Standar Hidup Terus Berubah karena Perbandingan Sosial
Selain kecenderungan beradaptasi dengan pencapaian, media sosial dapat menjadi ruang yang memperkuat kebiasaan membandingkan diri.
Beragam unggahan tentang karier, pendapatan, barang mewah, hingga gaya hidup orang lain kerap menjadi tolok ukur dalam menilai kehidupan sendiri.
Padahal, konten yang terlihat di media sosial biasanya hanya menampilkan bagian tertentu dari kehidupan seseorang.
Jika dijadikan standar pribadi tanpa mempertimbangkan kondisi masing-masing, perbandingan tersebut berpotensi memunculkan rasa tertinggal dan ketidakpuasan.
Seseorang yang awalnya merasa cukup dengan penghasilan atau pencapaiannya bisa mulai menganggapnya tidak lagi memadai setelah melihat keberhasilan orang lain.
Keinginan yang muncul pun belum tentu berasal dari kebutuhan nyata, melainkan dorongan untuk menyamai standar yang sebelumnya tidak pernah menjadi target.
Ghibran menyoroti persoalan tersebut melalui pernyataannya dalam video yang membahas rasa tidak pernah cukup.
"Dari sini kita bisa lihat bahwa sebenarnya kita tuh bukan mengejar kebutuhan kita, tapi juga mengejar standar yang pada dasarnya standar itu nggak ada sebelumnya," ujar Ghibran.
Pernyataan itu menekankan pentingnya membedakan kebutuhan pribadi dengan keinginan yang terbentuk karena pengaruh lingkungan.
Tanpa kesadaran tersebut, seseorang dapat terus menetapkan target baru hanya untuk mengikuti pencapaian orang lain, bukan karena hal itu benar-benar dibutuhkan.
Melatih Rasa Cukup Tanpa Berhenti Berkembang
Perasaan tidak pernah cukup yang berlangsung terus-menerus dapat menimbulkan tekanan emosional.
Seseorang bisa merasa cemas ketika membandingkan pencapaiannya dengan orang lain, kehilangan kepercayaan diri, atau mengalami kelelahan akibat terus mengejar target.
Meski demikian, keinginan untuk berkembang bukanlah sesuatu yang keliru. Persoalannya terletak pada alasan di balik keinginan tersebut dan bagaimana seseorang menilai keberhasilan dirinya.
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan pencapaian hidup.
Pertama, mengenali perbedaan antara kebutuhan, keinginan, dan dorongan untuk memperoleh pengakuan dari orang lain.
Sebelum mengejar sesuatu, seseorang dapat bertanya apakah hal tersebut benar-benar penting atau hanya muncul setelah melihat kehidupan orang lain.
Kedua, membatasi konsumsi media sosial jika aktivitas tersebut mulai memicu kecemasan atau perasaan tertinggal.
Mengatur waktu penggunaan dan memilih konten yang dikonsumsi dapat membantu seseorang mengurangi paparan terhadap standar hidup yang tidak sesuai dengan kondisinya.
Ketiga, melatih rasa syukur dan kesadaran diri atau self-awareness. Menghargai pencapaian yang sudah diraih bukan berarti berhenti memiliki tujuan.
Sebaliknya, kebiasaan tersebut dapat membantu seseorang menikmati proses sekaligus menetapkan target baru secara lebih realistis.
Merasa cukup bukan berarti menolak kemajuan. Sikap ini lebih berkaitan dengan kemampuan menentukan standar hidup berdasarkan kebutuhan dan nilai pribadi, bukan semata-mata mengikuti pencapaian orang lain.
Dengan begitu, seseorang tetap bisa berkembang tanpa harus terus-menerus merasa tertinggal. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari