RADARBONANG.ID – Kopi kerap menjadi andalan untuk mengusir kantuk dan menjaga konsentrasi, terutama saat harus bekerja atau belajar dalam waktu lama.
Namun, anggapan bahwa minuman berkafein ini bisa meningkatkan kecerdasan perlu dipahami secara tepat. Kafein memang dapat membantu seseorang merasa lebih terjaga, tetapi efek tersebut tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih pintar.
Dokter spesialis bedah saraf dr. Ryan Keswani membahas cara kerja otak dan sejumlah fakta tentang fungsi kognitif dalam podcast di kanal YouTube TS Media berjudul Mengenal Otak Kita Lebih Jauh.
Baca Juga: Sering Minum Kopi Setelah Jam 2 Siang? Waspada, Ini Dampaknya bagi Kualitas Tidur
Salah satu hal yang perlu dipahami adalah perbedaan antara meningkatnya kewaspadaan dan bertambahnya kecerdasan.
Seseorang yang mengonsumsi kopi mungkin merasa lebih mudah berkonsentrasi karena rasa kantuk berkurang. Namun, perubahan tersebut tidak berarti kemampuan intelektualnya meningkat secara permanen.
Kafein bekerja dengan menghambat reseptor adenosin di otak. Adenosin merupakan senyawa yang berperan dalam meningkatkan rasa kantuk seiring seseorang terjaga.
Ketika kerja adenosin dihambat, rasa kantuk dapat berkurang sehingga seseorang merasa lebih segar dan waspada.
Meski demikian, efek kafein berbeda pada setiap orang. Dosis yang dikonsumsi, kebiasaan minum kopi, kualitas tidur, dan sensitivitas tubuh terhadap kafein dapat memengaruhi respons seseorang.
Kopi Bantu Fokus, tetapi Tidak Otomatis Bikin Pintar
Efek kafein terhadap kewaspadaan dapat membantu seseorang menjalankan aktivitas yang membutuhkan perhatian.
Dalam kondisi tertentu, kafein juga dapat mendukung performa pada tugas-tugas tertentu, terutama ketika seseorang mengalami kelelahan atau kurang tidur.
Namun, kopi bukan pengganti tidur yang cukup. Mengandalkan kafein untuk tetap terjaga dalam waktu lama tidak menghilangkan kebutuhan tubuh untuk beristirahat.
Selain itu, merasa lebih berenergi setelah minum kopi tidak selalu berarti seseorang bekerja dengan lebih akurat.
Konsentrasi, kecepatan berpikir, daya ingat, dan kemampuan mengambil keputusan merupakan aspek kognitif yang berbeda. Pengaruh kafein terhadap masing-masing kemampuan tersebut tidak selalu sama.
Karena itu, anggapan bahwa semakin banyak kopi yang diminum, semakin tinggi pula kecerdasan seseorang, tidak tepat.
Konsumsi berlebihan justru dapat memicu efek yang tidak diinginkan, seperti jantung berdebar, kecemasan, gangguan pencernaan, dan kesulitan tidur.
Kualitas tidur menjadi perhatian penting karena tidur berperan dalam konsolidasi memori dan mendukung fungsi kognitif.
Jika kebiasaan minum kopi mengganggu waktu tidur, manfaat sementara berupa meningkatnya kewaspadaan dapat diikuti penurunan konsentrasi akibat kurang istirahat.
Cara Menjaga Kinerja Otak Selain Mengandalkan Kopi
Untuk menjaga fungsi otak, konsumsi kopi sebaiknya ditempatkan sebagai salah satu pilihan, bukan satu-satunya cara untuk mempertahankan fokus.
Pola hidup sehari-hari tetap berperan penting dalam mendukung kesehatan kognitif.
Tidur yang cukup membantu tubuh dan otak menjalankan proses pemulihan. Pola makan seimbang menyediakan nutrisi yang dibutuhkan tubuh, sedangkan aktivitas fisik teratur berkaitan dengan kesehatan otak dan fungsi memori.
Selain itu, aktivitas yang merangsang pembelajaran, seperti membaca, mempelajari keterampilan baru, atau melatih kemampuan memecahkan masalah, dapat membantu menjaga keterlibatan kognitif.
Memberikan jeda dari layar dan mengatur waktu istirahat juga dapat membantu mengurangi kelelahan akibat aktivitas yang menuntut perhatian terus-menerus.
Dengan demikian, kopi memang dapat membantu mengurangi rasa kantuk dan meningkatkan kewaspadaan untuk sementara.
Namun, minuman ini tidak serta-merta meningkatkan kecerdasan atau menjamin hasil kerja yang lebih baik.
Memahami perbedaan tersebut membantu masyarakat menggunakan kafein secara lebih bijak.
Untuk menjaga ketajaman otak dalam jangka panjang, kebiasaan tidur yang baik, aktivitas fisik, nutrisi seimbang, dan stimulasi mental tetap menjadi bagian penting dari gaya hidup sehat. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari