RADARBONANG.ID – Memilih pasangan hidup tidak cukup hanya mempertimbangkan kekayaan, jabatan, atau perasaan cinta.
Kesamaan pola pikir, kematangan karakter, dan kesiapan menghadapi persoalan bersama menjadi sejumlah faktor penting untuk membangun rumah tangga yang harmonis.
Pandangan tersebut disampaikan Co-Founder platform biro jodoh Ranum, Yasher Fadhli, dalam diskusi bertajuk Strategi Cari Jodoh: Jangan Cuma Karena Kaya, Cari yang Punya Mindset Ini. Diskusi tersebut dipandu langsung oleh Rory Asyari dalam kanal youtubenya.
Menurut Yasher, sebagian orang masih menjadikan kemapanan finansial, jabatan, dan penampilan sebagai pertimbangan utama dalam mencari pasangan.
Baca Juga: Jatuh Cinta Lebih Adiktif daripada Narkoba, Ini yang Terjadi pada Otak saat Dimabuk Asmara
Padahal, kehidupan pernikahan membutuhkan kesiapan yang lebih mendalam daripada sekadar keunggulan materi atau romantisme pada awal hubungan.
"Cari jodoh itu bukan cuma soal cari yang kaya, punya jabatan, atau kelihatan sempurna. Yang lebih penting adalah cari seseorang yang punya mindset, karakter, dan kesiapan untuk bertumbuh bareng," tegas Yasher Fadhli.
Dia menjelaskan, kesiapan membangun rumah tangga dapat dilihat dari kemampuan kedua belah pihak untuk berkembang bersama.
Pasangan juga perlu memiliki cara pandang yang cukup selaras dalam menghadapi perubahan dan menyelesaikan persoalan sepanjang pernikahan.
Kemapanan Finansial Bukan Jaminan Mudah Menemukan Pasangan
Yasher turut menyoroti karakteristik klien yang menggunakan layanan biro jodoh profesional.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam diskusi tersebut, sekitar 70 persen klien biro jodoh yang dimaksud merupakan perempuan dewasa mandiri dengan penghasilan tinggi.
Kondisi itu memperlihatkan bahwa kemapanan finansial tidak serta-merta membuat seseorang lebih mudah menemukan pasangan yang sesuai.
Tantangan lainnya adalah menemukan sosok yang mampu menghadapi persoalan, mengambil keputusan, dan menyesuaikan diri dengan berbagai keadaan.
Dalam konteks tersebut, Yasher menekankan pentingnya mencari pasangan yang resourceful.
Istilah ini merujuk pada kemampuan seseorang memanfaatkan sumber daya yang tersedia, berpikir fleksibel, serta menemukan solusi ketika menghadapi kendala.
Kemampuan tersebut dibutuhkan karena kehidupan rumah tangga tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Pasangan dapat menghadapi berbagai perubahan, mulai dari persoalan pekerjaan hingga tanggung jawab keluarga yang menuntut komunikasi dan pengambilan keputusan bersama.
Karena itu, penilaian terhadap calon pasangan sebaiknya tidak hanya berfokus pada kondisi finansial atau pencapaian yang terlihat dari luar.
Kemampuan menyelesaikan masalah dan kemauan untuk terus belajar juga perlu menjadi pertimbangan dalam membangun hubungan jangka panjang.
Persahabatan dan Kekompakan Jadi Fondasi Pernikahan
Selain pola pikir, Yasher menempatkan persahabatan sebagai salah satu fondasi hubungan yang bertahan lama.
Kedekatan pasangan tidak cukup hanya bertumpu pada romantisme, tetapi juga perlu ditopang rasa saling percaya, komunikasi terbuka, dan dukungan ketika menghadapi kesulitan.
Menurutnya, tantangan pernikahan juga dapat muncul ketika pasangan menghadapi tekanan dari luar, termasuk persoalan yang melibatkan keluarga besar atau calon mertua.
Situasi semacam ini membutuhkan kesepakatan dan kekompakan agar salah satu pihak tidak merasa harus menghadapi masalah sendirian.
"Menghadapi orang tua dan calon mertua harus dilakukan bersama sebagai pasangan, bukan dengan melarikan diri atau membiarkan salah satu pihak tertekan sendirian," imbuhnya.
Pandangan tersebut menekankan pentingnya membangun batasan yang sehat dalam hubungan dengan keluarga besar.
Pasangan perlu saling mendukung sekaligus menemukan cara berkomunikasi yang tepat ketika muncul perbedaan pendapat.
Pada akhirnya, memilih pasangan hidup bukan sekadar menemukan seseorang yang memenuhi kriteria materi atau menghadirkan kebahagiaan.
Kesiapan mental, integritas, kemampuan menyelesaikan persoalan, dan komitmen untuk bertumbuh bersama merupakan bekal penting dalam mempersiapkan kehidupan pernikahan. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari