Jatuh Cinta Lebih Adiktif daripada Narkoba, Ini yang Terjadi pada Otak saat Dimabuk Asmara

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Sabtu, 10 Oktober 2026 | 13:30 WIB
ilustrasi pasangan yang saling jatuh cinta. (ilustrasi AI)
ilustrasi pasangan yang saling jatuh cinta. (ilustrasi AI)

RADARBONANG.ID – Jatuh cinta bukan hanya menghadirkan perasaan bahagia dan keinginan untuk selalu dekat dengan seseorang.

Di balik pengalaman emosional tersebut, otak juga mengalami perubahan aktivitas yang melibatkan sistem penghargaan, motivasi, dan keterikatan emosional.

Proses biologis itu turut menjelaskan mengapa seseorang bisa terus memikirkan orang yang disukai, merasa sangat bahagia ketika mendapat perhatian, atau mengalami kesulitan saat hubungan berakhir.

Dalam kondisi tertentu, pengalaman jatuh cinta bahkan memiliki sejumlah kemiripan dengan mekanisme kecanduan.

Baca Juga: Jangan Terlalu Cepat Jatuh Cinta pada Orang yang Baru Dikenal, Ini Alasan Psikologis yang Perlu Dipahami

Dokter spesialis bedah saraf sekaligus praktisi neurosains, dr. Roslan Yusni Hasan, membahas fenomena tersebut dalam podcast Youtube di kanal MALAKA bertajuk Cinta Lebih Adiktif daripada Narkoba.

Pembahasan ini menunjukkan bahwa cinta tidak hanya berkaitan dengan perasaan, tetapi juga melibatkan proses biologis yang kompleks.

Meski demikian, kemiripan aktivitas otak saat jatuh cinta dan mengalami kecanduan tidak berarti keduanya sepenuhnya sama atau bahwa cinta terbukti lebih adiktif daripada narkoba dalam semua kondisi.

Dopamin Membuat Jatuh Cinta Terasa Menyenangkan

Salah satu unsur penting dalam pengalaman jatuh cinta adalah dopamin, zat pembawa pesan kimia di otak yang berperan dalam motivasi, pembelajaran, dan sistem penghargaan (reward system).

Ketika seseorang mendapatkan perhatian dari orang yang disukai, pengalaman tersebut dapat memicu perasaan senang sekaligus memperkuat keinginan untuk mengulang pengalaman serupa.

Hal ini membuat pesan singkat, pertemuan, atau perhatian kecil dari pasangan terasa sangat berarti.

Sistem penghargaan yang melibatkan dopamin juga berperan dalam perilaku adiktif.

Karena itu, terdapat kemiripan mekanisme antara dorongan untuk terus mendapatkan perhatian dari orang yang dicintai dan keinginan berulang pada perilaku yang memicu kecanduan.

Namun, dopamin bukan satu-satunya faktor yang menentukan perasaan cinta.

Pengalaman emosional tersebut melibatkan sejumlah sistem saraf dan proses psikologis yang saling berkaitan.

Saat jatuh cinta, seseorang juga bisa lebih berfokus pada orang yang disukai sehingga perhatian terhadap hal lain berkurang.

Dalam situasi tertentu, perasaan yang kuat dapat memengaruhi cara seseorang menilai hubungan dan membuat keputusan.

Meski begitu, anggapan bahwa bagian otak yang mengatur logika sepenuhnya berhenti bekerja saat jatuh cinta tidak tepat.

Penilaian rasional tetap berlangsung, meskipun emosi dan motivasi dapat memengaruhi pertimbangan seseorang.

Putus Cinta hingga Peran Hormon Keterikatan

Perasaan kehilangan setelah hubungan berakhir juga dapat menimbulkan tekanan emosional yang besar.

Seseorang mungkin mengalami kecemasan, gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, hingga keluhan fisik ketika menghadapi penolakan atau perpisahan.

Pengalaman tersebut berkaitan dengan respons otak terhadap kehilangan dan perubahan rutinitas emosional.

Meski dapat menyerupai sejumlah gejala putus zat dalam aspek tertentu, putus cinta tidak sama dengan withdrawal syndrome akibat ketergantungan zat.

Selain dopamin, oksitosin dan vasopresin juga berperan dalam sejumlah aspek keterikatan sosial dan hubungan jangka panjang.

Kedua zat tersebut terlibat dalam proses biologis yang berkaitan dengan ikatan sosial, meskipun kedekatan dan kepercayaan tidak ditentukan oleh hormon semata.

Hubungan yang bertahan lama juga dipengaruhi oleh komunikasi, pengalaman bersama, rasa aman, dan komitmen.

Artinya, keberlangsungan relasi tidak hanya bergantung pada reaksi kimia di dalam otak.

Memahami proses biologis di balik jatuh cinta dapat membantu seseorang mengenali pengaruh emosi terhadap perilaku.

Perasaan yang kuat tetap perlu diimbangi dengan kemampuan menilai hubungan secara objektif, mengenali tanda-tanda relasi yang tidak sehat, dan mempertimbangkan konsekuensi sebelum mengambil keputusan penting.

Dengan begitu, sains tidak harus membuat cinta dipandang sebagai ilusi semata. Sebaliknya, pemahaman mengenai cara kerja otak dapat menjadi salah satu bekal untuk menjalani hubungan dengan lebih sadar dan bijaksana. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
proses biologis dopamin perasaan cinta otak