Bukan Mengamati Bintang, Teleskop Bawah Laut Ini Memburu Partikel Misteriusv

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:30 WIB
Kilatan cahaya biru yang ditangkap oleh sensor teleskop saat neutrino berbenturan dengan molekul air laut. (istimewa)
Kilatan cahaya biru yang ditangkap oleh sensor teleskop saat neutrino berbenturan dengan molekul air laut. (istimewa)

RADARBONANG.ID – Para ilmuwan membangun teleskop raksasa di dasar Laut Mediterania untuk memburu neutrino, partikel subatomik yang kerap dijuluki sebagai “partikel hantu”.

Instrumen bernama KM3NeT ini dirancang untuk mendeteksi jejak partikel yang dapat membawa informasi tentang peristiwa ekstrem di alam semesta.

Neutrino termasuk partikel yang sangat sulit dipelajari.

Partikel ini dihasilkan dalam berbagai proses, mulai dari reaksi nuklir di Matahari hingga fenomena kosmik berenergi tinggi yang berkaitan dengan ledakan bintang dan lingkungan di sekitar lubang hitam.

Baca Juga: Google Mulai Uji Project Suncatcher, Bisakah Pusat Data AI Dipindahkan dari Bumi ke Luar Angkasa?

Neutrino tidak memiliki muatan listrik dan hanya berinteraksi sangat lemah dengan materi. Akibatnya, partikel ini dapat menembus bintang, planet, batuan, bahkan tubuh manusia tanpa meninggalkan jejak yang mudah diamati.

Diperkirakan sekitar 100 triliun neutrino melintasi tubuh manusia setiap detik. Sebagian besar melewati tubuh tanpa berinteraksi dengan atom penyusunnya.

Sifat tersebut justru membuat neutrino berharga bagi para ilmuwan.

Berbeda dengan cahaya yang dapat diserap atau dihalangi materi, neutrino mampu membawa informasi dari lingkungan ekstrem yang sulit diamati menggunakan teleskop konvensional.

KM3NeT, Teleskop Raksasa di Dasar Laut

Mendeteksi neutrino bukan perkara mudah karena partikel ini sangat jarang berinteraksi dengan materi.

Untuk menangkap jejaknya, ilmuwan membutuhkan detektor berukuran besar yang ditempatkan di lingkungan dengan gangguan relatif rendah.

KM3NeT dikembangkan sebagai jaringan detektor neutrino di Laut Mediterania.

Instrumen ini menggunakan rangkaian modul sensor optik yang dipasang di bawah laut untuk menangkap kilatan cahaya yang muncul ketika neutrino berinteraksi dengan materi.

Dalam kanal YouTube miliknya, Cleo Abram menjelaskan bahwa cara kerja instrumen tersebut berbeda dari teleskop pada umumnya karena memanfaatkan Bumi sebagai bagian dari sistem pengamatan.

"Jangan membayangkan eksperimen ini sebagai ratusan detektor yang mengarah ke langit dari dasar laut. Anggap saja bagian belakang teleskop raksasa yang lensanya adalah seluruh Bumi," ujarnya.

Prinsip tersebut berkaitan dengan kemampuan neutrino menembus materi dalam jarak yang sangat jauh.

Sensor KM3NeT dapat mendeteksi partikel yang datang dari bawah, setelah menempuh perjalanan menembus Bumi.

Bumi juga membantu mengurangi gangguan dari sejumlah partikel lain yang tidak dapat menembus planet dengan cara serupa.

Meski demikian, detektor tetap harus memilah sinyal neutrino dari berbagai latar belakang yang dapat mengganggu pengamatan.

Neutrino sendiri tidak terlihat secara langsung. Ilmuwan mendeteksi jejaknya melalui interaksi yang sangat jarang dengan materi di sekitarnya.

Interaksi tersebut dapat menghasilkan partikel bermuatan yang bergerak cepat di dalam air dan memancarkan cahaya biru, dikenal sebagai radiasi Cherenkov.

Kilatan cahaya itu ditangkap sensor optik KM3NeT. Berdasarkan waktu kedatangan dan pola sinyal yang terdeteksi, ilmuwan dapat memperkirakan arah serta energi neutrino yang melintas.

Neutrino Membuka Jendela Baru untuk Mengamati Kosmos

Pengamatan neutrino telah membantu ilmuwan mengungkap sumber fenomena kosmik berenergi tinggi.

Pada 2017, observatorium IceCube di Antartika mendeteksi neutrino berenergi tinggi yang kemudian dikaitkan dengan blazar, yakni galaksi aktif yang memiliki pancaran energi kuat dari wilayah sekitar lubang hitam supermasif.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa neutrino dapat digunakan untuk menelusuri peristiwa di luar angkasa yang sulit dipahami hanya melalui pengamatan cahaya.

KM3NeT juga mencatat pencapaian penting. Pada 2023, instrumennya mendeteksi neutrino berenergi sangat tinggi.

Hasil pengamatan yang diumumkan pada 2025 itu menjadi salah satu temuan penting dalam penelitian neutrino berenergi ekstrem dan membuka pertanyaan baru mengenai asal partikel tersebut.

Penelitian terhadap neutrino masih terus berkembang.

Melalui detektor bawah laut dan observatorium di berbagai belahan dunia, ilmuwan berupaya memahami bagaimana partikel ini dihasilkan serta fenomena kosmik apa yang dapat menjelaskannya.

Dengan kemampuan membawa informasi dari lingkungan ekstrem, neutrino menawarkan cara berbeda untuk mempelajari alam semesta.

Partikel yang nyaris tidak berinteraksi dengan materi itu dapat membantu membuka rahasia kosmos yang tidak mudah diungkap oleh teleskop konvensional. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
neutrino KM3NeT dasar laut mediterania partikel teleskop raksasa