RADARBONANG.ID – Antartika bukan sekadar benua es di Kutub Selatan. Wilayah ini berperan penting dalam sistem iklim, sirkulasi laut, dan keseimbangan lingkungan Bumi.
Sejarah penipisan lapisan ozon di kawasan tersebut juga menunjukkan bahwa kerja sama internasional berbasis sains mampu menghasilkan perubahan besar.
Pada 1985, para ilmuwan melaporkan penemuan lubang ozon di atas Antartika.
Temuan itu memicu kekhawatiran dunia karena lapisan ozon berfungsi menyerap sebagian besar radiasi ultraviolet berbahaya dari Matahari.
Penipisan ozon dapat meningkatkan paparan radiasi ultraviolet di permukaan Bumi.
Dampaknya antara lain meningkatnya risiko kanker kulit, gangguan mata, serta kerusakan pada ekosistem.
Namun, krisis tersebut kemudian mendorong negara-negara di dunia mengambil langkah bersama.
Melalui penelitian ilmiah, para ilmuwan mengidentifikasi senyawa buatan manusia, terutama chlorofluorocarbon (CFC), sebagai penyebab utama penipisan ozon.
Protokol Montreal Jadi Tonggak Penyelamatan Ozon
Jauh sebelum penemuan lubang ozon, Antartika telah menjadi kawasan kerja sama penelitian internasional melalui Traktat Antartika yang ditandatangani pada 1959.
Kesepakatan tersebut mendorong pemanfaatan benua itu untuk kepentingan damai dan penelitian ilmiah.
Hasil pengamatan para ilmuwan kemudian membantu mengungkap dampak bahan kimia yang banyak digunakan dalam produk aerosol dan sistem pendingin.
Temuan tersebut menjadi salah satu dasar lahirnya Protokol Montreal pada 1987. Perjanjian internasional itu mengatur pengurangan dan penghentian penggunaan zat-zat yang merusak lapisan ozon, termasuk CFC.
Pelaksanaannya melibatkan pemerintah, ilmuwan, dan industri untuk mengembangkan serta menggunakan bahan pengganti.
Dalam kanal YouTube miliknya, Cleo Abram menjelaskan bahwa keberhasilan tersebut tidak hanya bergantung pada pelarangan bahan kimia berbahaya, tetapi juga inovasi untuk menemukan alternatif yang lebih aman.
"Seluruh negara di dunia menandatangani Protokol Montreal yang secara efektif melarang bahan kimia penyebab penipisan ozon. Namun kemenangan ini bukan hanya soal pelarangan, melainkan juga inovasi teknologi untuk menemukan bahan penggantinya," ujarnya.
Upaya pengendalian zat perusak ozon mulai menunjukkan hasil. Pemantauan ilmiah internasional memperlihatkan tanda-tanda pemulihan lapisan ozon.
Pemulihan secara menyeluruh, bagaimanapun, membutuhkan waktu puluhan tahun dan bergantung pada kepatuhan terhadap ketentuan internasional.
Antartika Kembali Mengingatkan Dunia tentang Krisis Iklim
Keberhasilan mengatasi penipisan ozon menjadi bukti bahwa tantangan lingkungan berskala global dapat ditangani melalui kolaborasi dan dukungan sains.
Namun, Antartika juga menghadirkan tantangan lain yang tak kalah besar, yakni perubahan iklim.
Benua tersebut menyimpan sebagian besar air tawar dunia dalam bentuk lapisan es. Jika seluruh lapisan es Antartika mencair, permukaan laut global berpotensi naik puluhan meter.
Skenario itu akan mengancam kawasan pesisir di berbagai belahan dunia, meskipun proses pencairan total diperkirakan berlangsung dalam rentang waktu yang sangat panjang.
Perubahan kondisi es laut Antartika juga menjadi perhatian para peneliti. Pada 2023, luas es laut Antartika mencapai rekor minimum dalam pengamatan satelit.
Perubahan tersebut penting dipantau karena es laut berperan dalam interaksi antara laut, atmosfer, dan ekosistem kutub.
Meski dampak jangka panjangnya masih terus diteliti, perubahan di Antartika dapat berkaitan dengan dinamika sistem iklim global.
Karena itu, pemantauan ilmiah diperlukan untuk memahami perkembangan kondisi es serta kemungkinan dampaknya terhadap sirkulasi laut dan pola cuaca.
Kisah penyelamatan lapisan ozon memperlihatkan bahwa krisis lingkungan bukan sesuatu yang mustahil diatasi.
Perpaduan penelitian ilmiah, kebijakan yang konsisten, kerja sama internasional, dan inovasi teknologi menjadi pelajaran penting bagi dunia dalam menghadapi perubahan iklim. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari