RADARBONANG.ID – Matahari bukan sekadar bola api raksasa yang menjadi pusat tata surya. Bintang yang menopang kehidupan di Bumi ini memiliki struktur kompleks, termasuk atmosfer yang membentang jauh melampaui orbit planet-planet.
Salah satu fakta menariknya, Bumi berada di dalam wilayah yang dipengaruhi aliran partikel dari Matahari.
Wilayah tersebut dikenal sebagai heliosfer, gelembung raksasa yang terbentuk oleh angin Matahari dan membentang hingga jauh ke luar tata surya bagian dalam.
Jarak Bumi ke Matahari mencapai sekitar 150 juta kilometer. Jika seseorang berjalan dengan kecepatan normal tanpa berhenti menuju Matahari, perjalanan tersebut akan memakan waktu ribuan tahun.
Meski jaraknya sangat jauh, para ilmuwan terus mempelajari bintang tersebut melalui berbagai misi antariksa.
Salah satunya Parker Solar Probe milik NASA, yang pada 2021 berhasil memasuki korona atau atmosfer terluar Matahari.
Parker Solar Probe Menembus Korona Matahari
Keberhasilan Parker Solar Probe menjadi pencapaian penting dalam eksplorasi Matahari.
Korona memiliki suhu hingga jutaan derajat Celsius, tetapi wahana tersebut dirancang untuk menghadapi lingkungan ekstrem menggunakan perisai panas khusus berbahan komposit karbon.
Penelitian Matahari tidak hanya berfokus pada lapisan terluarnya.
Di bagian dalam, terdapat zona radiatif, wilayah padat tempat energi bergerak melalui proses yang membuat perjalanan foton menuju permukaan berlangsung sangat lama.
“Cahaya di dalam matahari terjebak dan memantul seperti bola dalam mesin pinball yang rata-rata membutuhkan sekitar 170 ribu tahun untuk keluar”. urai narasi sebagaimana di paparkan dalam kanal YouTube Cleo Abram.
Gambaran tersebut menjelaskan betapa rumitnya perjalanan energi dari bagian dalam Matahari menuju permukaannya.
Energi yang akhirnya dipancarkan ke ruang angkasa berasal dari proses yang berlangsung jauh di dalam bintang itu.
Karena wahana antariksa tidak dapat dikirim untuk mengamati langsung bagian dalam Matahari, ilmuwan menggunakan metode helioseismologi.
Teknik ini mempelajari getaran pada permukaan Matahari untuk memperkirakan struktur dan kondisi di bagian dalamnya.
Inti Matahari Menghasilkan Energi Lewat Fusi Nuklir
Di pusat Matahari terdapat inti yang menjadi tempat berlangsungnya fusi nuklir.
Dalam proses tersebut, hidrogen bergabung membentuk helium dan melepaskan energi dalam jumlah besar.
“Jika dihitung per meter kubik, energi yang dihasilkan Matahari sebenarnya sangat kecil, kira-kira setara dengan metabolisme seekor kadal," sambung narasi tersebut.
Meski produksi energi per satuan volumenya relatif kecil, ukuran Matahari yang sangat besar membuat total energi yang dihasilkan mencapai tingkat luar biasa.
Energi inilah yang menjadi sumber cahaya dan panas bagi Bumi serta berperan penting dalam menopang kehidupan.
Namun, aktivitas Matahari juga dapat menimbulkan dampak terhadap Bumi.
Pada 1859, peristiwa Carrington memicu aurora yang terlihat hingga wilayah dekat tropis dan mengganggu sistem telegraf. Aktivitas Matahari pada 1967 juga mengganggu radar militer Amerika Serikat.
Dampak tersebut menunjukkan bahwa Matahari tidak hanya menjadi sumber energi, tetapi juga dapat memengaruhi teknologi manusia.
Karena itu, penelitian terhadap aktivitasnya terus dilakukan untuk membantu memahami dan mengantisipasi cuaca antariksa yang berpotensi mengganggu satelit, komunikasi, serta jaringan listrik. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari