Belajar Pajak dari Nol, Ini 5 Hal Dasar yang Perlu Dipahami Gen Z Sebelum Mulai Punya Penghasilan

Siska Yudianti • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 10:37 WIB
Belajar pajak tidak harus langsung pusing dengan aturan yang rumit. Gen Z bisa memulainya dari lima dasar, mulai dari memahami pajak, Wajib Pajak, jenis pajak, penghasilan, hingga administrasi perpajakan. (ilustrasi)
Belajar pajak tidak harus langsung pusing dengan aturan yang rumit. Gen Z bisa memulainya dari lima dasar, mulai dari memahami pajak, Wajib Pajak, jenis pajak, penghasilan, hingga administrasi perpajakan. (ilustrasi)

RADARBONANG.ID – Belajar pajak tidak harus langsung dimulai dari aturan yang rumit.

Bagi Gen Z yang baru memasuki dunia kerja, menjalankan freelance, membuka bisnis kecil, atau mulai memiliki penghasilan sendiri, memahami dasar perpajakan dapat menjadi langkah awal agar tidak keliru memahami kewajiban pajak.

Pajak memang sering terdengar seperti urusan yang penuh istilah teknis.

Namun, sebelum mempelajari berbagai jenis pajak dan ketentuannya, ada sejumlah konsep dasar yang penting dipahami terlebih dahulu.

Pemahaman tersebut juga semakin relevan karena Gen Z kini memiliki pola mendapatkan penghasilan yang beragam.

Selain bekerja sebagai karyawan, anak muda dapat memperoleh pemasukan dari freelance, usaha, jasa, hingga aktivitas ekonomi berbasis digital.

Karena itu, belajar pajak tidak harus menunggu sampai memiliki bisnis besar atau penghasilan tinggi.

Mengenali konsep dasarnya sejak awal justru dapat membantu membangun kebiasaan finansial yang lebih tertib.

Berikut lima hal yang bisa menjadi fondasi bagi Gen Z untuk mulai belajar pajak.

1. Pahami Apa Itu Pajak

Baca Juga: Bukan Sekadar Penampilan, Pria Mapan Juga Disebut Pertimbangkan Sifat Ini Saat Memilih Pasangan

Langkah pertama adalah memahami konsep paling mendasar, yakni apa yang dimaksud dengan pajak.

Secara sederhana, pajak merupakan kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan berdasarkan undang-undang.

iPajak tidak memberikan imbalan secara langsung kepada pembayar dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Pemahaman ini penting agar pajak tidak hanya dilihat sebagai potongan dari penghasilan.

Ada aturan, sistem, hak, dan kewajiban yang melekat dalam pelaksanaan perpajakan.

Dengan memahami konsep tersebut, Gen Z dapat melihat pajak sebagai bagian dari aktivitas ekonomi dan kehidupan bernegara, bukan sekadar angka yang mengurangi penghasilan.

2. Kenali Wajib Pajak

Setelah memahami pengertian pajak, Gen Z perlu mengetahui siapa yang disebut sebagai Wajib Pajak.

Menurut Direktorat Jenderal Pajak, Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan yang memiliki hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Artinya, istilah Wajib Pajak tidak hanya berkaitan dengan perusahaan besar.

Orang pribadi juga dapat memiliki status sebagai Wajib Pajak ketika telah memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam aturan perpajakan.

Bagi anak muda yang sudah bekerja, menjalankan usaha, atau memperoleh penghasilan dari pekerjaan lainnya, memahami status perpajakan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.

Gen Z juga perlu mengenal NPWP sebagai identitas yang digunakan dalam administrasi perpajakan untuk melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakan.

3. Kenali Jenis Pajak

Pajak tidak hanya terdiri dari satu jenis. Ada berbagai pajak dengan objek dan mekanisme yang berbeda.

Pada tahap awal, Gen Z dapat mulai mengenali istilah seperti Pajak Penghasilan atau PPh, Pajak Pertambahan Nilai atau PPN, serta berbagai pajak yang dikelola pemerintah daerah.

PPh dikenakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi maupun badan dalam suatu tahun pajak.

Penghasilan tersebut dapat berupa gaji, keuntungan usaha, honorarium, hadiah, dan bentuk penghasilan lainnya.

Sementara itu, PPN pada dasarnya berkaitan dengan konsumsi Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak di dalam wilayah Indonesia.

Gen Z tidak perlu langsung menghafalkan seluruh ketentuan setiap jenis pajak.

Yang lebih penting pada tahap awal adalah memahami bahwa setiap pajak memiliki objek, subjek, serta mekanisme yang dapat berbeda.

4. Pahami Penghasilan dan Transaksi

Hal ini semakin penting bagi Gen Z yang memiliki lebih dari satu sumber pemasukan.

Penghasilan tidak selalu berasal dari gaji bulanan. Ada pemasukan dari freelance, usaha, komisi, jasa, pekerjaan kreatif, hingga berbagai aktivitas ekonomi lainnya.

Karena itu, membiasakan diri mencatat penghasilan dan transaksi sejak awal dapat membantu seseorang mengetahui kondisi keuangannya.

Catatan tersebut juga dapat menjadi dokumen pendukung ketika seseorang perlu memenuhi kewajiban administrasi perpajakan.

Kebiasaan sederhana seperti menyimpan bukti pembayaran, mencatat pemasukan, dan memisahkan uang pribadi dengan uang usaha dapat membuat pengelolaan keuangan lebih tertib.

Bagi Gen Z yang menjalankan bisnis, pencatatan menjadi semakin penting karena aktivitas usaha berkaitan dengan penghasilan, omzet, biaya, dan transaksi.

5. Kenali Administrasi Perpajakan

Dasar berikutnya adalah memahami administrasi pajak.

Pemenuhan kewajiban perpajakan tidak hanya berkaitan dengan menghitung pajak. Ada pula proses administrasi seperti pendaftaran, pembayaran atau penyetoran, serta pelaporan sesuai ketentuan.

Salah satu dokumen yang penting dikenal adalah Surat Pemberitahuan atau SPT.

DJP menjelaskan bahwa SPT digunakan Wajib Pajak untuk melaporkan penghitungan dan pembayaran pajak, objek pajak, serta informasi lain yang dipersyaratkan sesuai ketentuan.

Gen Z juga dapat mulai mengenal istilah SPT Tahunan yang berkaitan dengan pelaporan untuk suatu tahun pajak.

Administrasi perpajakan mungkin terdengar rumit ketika baru pertama kali dipelajari.

Namun, pemahaman dapat dibangun secara bertahap sesuai kondisi masing-masing.

Mulai dari Dasar, Jangan Menunggu Bingung

Belajar pajak dari nol pada akhirnya tidak harus dilakukan sekaligus.

Gen Z bisa memulainya dari memahami pengertian pajak, mengenali status Wajib Pajak, mengetahui jenis pajak, mencatat penghasilan, kemudian mempelajari administrasi sesuai kondisi masing-masing.

Kebiasaan tersebut juga dapat membantu membangun literasi finansial.

Baca Juga: Ingin Baca Buku Lebih Efektif? Coba Tips dan Trik Membaca Ala Anies Baswedan

Sebab, ketika sumber penghasilan semakin beragam, kemampuan mengelola keuangan tidak hanya berkaitan dengan menabung atau mencari investasi.

Ada pula tanggung jawab administrasi yang perlu dipahami ketika seseorang mulai aktif secara ekonomi.

Di tengah berkembangnya pekerjaan digital dan side hustle, melek pajak bukan lagi sekadar kebutuhan pelaku usaha besar.

Pemahaman dasar sejak dini dapat menjadi bekal agar Gen Z lebih siap menghadapi dunia kerja dan aktivitas ekonomi yang semakin beragam.

Yang tidak kalah penting, informasi perpajakan sebaiknya diperoleh dari sumber resmi. Ketentuan pajak dapat berubah, sehingga informasi lama yang beredar di media sosial belum tentu sesuai dengan aturan terbaru.

Dengan mulai memahami lima dasar tersebut, Gen Z tidak harus langsung menjadi ahli pajak.

Setidaknya, mereka memiliki bekal untuk mengetahui kapan perlu mencari informasi lebih lanjut dan memahami kewajiban yang mungkin muncul dari aktivitas ekonomi yang dijalankan. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
pajak Gen Z pajak freelancer belajar pajak dari nol literasi pajak dasar perpajakan