RADARBONANG.ID - Menghabiskan waktu berjam-jam dengan menggulir layar ponsel atau doomscrolling kerap dilakukan untuk mengisi waktu luang.
Namun, kebiasaan mengonsumsi informasi secara terus-menerus dapat membuat seseorang mengalami kelelahan mental dan kesulitan mempertahankan fokus.
Fenomena tersebut dibahas ustaz sekaligus praktisi edukasi publik Felix Siauw dalam video berjudul How to Break Free from Doomscrolling Brainrot.
Baca Juga: Lawan Kecanduan Layar: Menelisik Gaya Hidup Baru Anak Muda yang Hobi Ngopi Sambil Puasa Media Sosial
Dalam pemaparannya, Felix membahas mekanisme kebiasaan tersebut sekaligus langkah yang dapat dilakukan untuk kembali mengendalikan penggunaan gawai.
"Kunci utama untuk keluar dari segala bentuk kecanduan, termasuk kebiasaan doomscrolling, adalah dengan mengaktifkan kembali prefrontal cortex. Bagian otak ini berfungsi mengatur kontrol diri dan pemikiran rasional, yang kuncinya dimulai dari kesadaran penuh saat kita sedang melakukannya," ungkapnya dalam video tersebut.
Sadari Kebiasaan dan Emosi yang Mendasarinya
Salah satu langkah yang ditekankan adalah meningkatkan kesadaran ketika seseorang mulai tenggelam dalam aktivitas menggulir layar.
Alih-alih membiarkan jari terus bergerak secara otomatis, seseorang perlu menyadari apa yang sedang dilihat dan diperhatikan.
Kesadaran tersebut dapat dilatih dengan mengamati objek yang muncul di layar sekaligus mengenali emosi yang sedang dirasakan.
Dengan begitu, aktivitas menggunakan ponsel tidak sepenuhnya berlangsung secara otomatis.
Dalam pembahasan tersebut, kebiasaan menggunakan gawai secara berlebihan juga dikaitkan dengan upaya melarikan diri dari emosi yang tidak menyenangkan.
Rasa cemas, stres, atau perasaan negatif lainnya dapat membuat seseorang mencari distraksi melalui layar.
Karena itu, mengurangi doomscrolling tidak hanya berkaitan dengan membatasi penggunaan ponsel.
Seseorang juga perlu mengenali persoalan emosional yang mungkin menjadi pemicu kebiasaan tersebut.
Bangun Kebiasaan Baru dengan Langkah Kecil
Upaya mengubah kebiasaan juga dapat dilakukan secara bertahap. Salah satunya dengan mengurangi pemicu yang membuat seseorang terus membuka ponsel, seperti notifikasi yang terlalu banyak.
Selain itu, perhatian dapat dialihkan pada aktivitas di dunia nyata yang memberikan pengalaman dan pencapaian secara langsung.
Interaksi sosial, kegiatan produktif, serta aktivitas yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari proses membangun kembali fokus.
Batasan penggunaan perangkat digital juga penting diterapkan.
Mengetahui berapa lama waktu yang dihabiskan di depan layar dapat membantu seseorang mengevaluasi kebiasaannya.
Memberikan jeda dari dunia maya setiap hari juga dapat menjadi langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap stimulasi digital.
Dengan penggunaan yang lebih terkontrol, waktu untuk beristirahat, berinteraksi, dan melakukan aktivitas lain dapat kembali memiliki ruang.
Pada akhirnya, memutus kebiasaan doomscrolling bukan sekadar meletakkan ponsel, tetapi juga belajar mengenali dorongan untuk terus menggulir layar dan memahami alasan di baliknya. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari