Bukan Cuma Jadi Panitia, Jadi Event Organizer Bisa Jadi Side Hustle Gen Z yang Menguntungkan

Arinie Khaqqo • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 09:07 WIB
Suka ngatur acara dan bertemu banyak orang? Jadi event organizer bisa menjadi salah satu pilihan side hustle Gen Z. Nggak harus langsung bikin konser besar, mulai saja dari acara kecil sambil membangun portofolio dan networking. (ilustrasi)
Suka ngatur acara dan bertemu banyak orang? Jadi event organizer bisa menjadi salah satu pilihan side hustle Gen Z. Nggak harus langsung bikin konser besar, mulai saja dari acara kecil sambil membangun portofolio dan networking. (ilustrasi)

RADARBONANG.ID – Menjadi event organizer atau EO kini bukan hanya pekerjaan yang dilakukan perusahaan profesional.

Bagi Gen Z, mengelola acara mulai dilirik sebagai salah satu pilihan side hustle yang bisa dijalankan sambil kuliah, bekerja, atau mengembangkan komunitas.

Menariknya, dunia EO tidak selalu identik dengan konser besar atau pernikahan mewah.

Acara sederhana seperti gathering komunitas, workshop, bazar, ulang tahun, mini festival, hingga kegiatan kampus juga membutuhkan orang yang mampu mengatur konsep dan memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.

Kebutuhan tersebut membuat dunia event cukup menarik bagi Gen Z yang ingin mencoba bisnis berbasis keterampilan.

Selain berpeluang menghasilkan pendapatan tambahan, pekerjaan ini juga dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, manajemen waktu, negosiasi, dan problem solving.

Bukan Sekadar Jadi Panitia

Banyak orang mungkin masih menganggap EO hanya bertugas mengurus acara ketika hari pelaksanaan tiba.

Baca Juga: Suka Cerita Misteri? 12 Series tentang Kota Kecil Ini Punya Rahasia Gelap yang Sulit Ditebak

Padahal, pekerjaan di balik sebuah event bisa dimulai jauh sebelum peserta datang.

Seorang EO harus memikirkan konsep, menyusun rundown, menghitung anggaran, mencari vendor, berkomunikasi dengan talent, mengatur kebutuhan dekorasi, hingga memastikan berbagai perlengkapan teknis tersedia.

Koordinasi juga menjadi bagian penting. Dalam satu acara, EO dapat berhubungan dengan klien, vendor, pengisi acara, fotografer, videografer, kru teknis, hingga pengelola venue.

Tantangan tidak berhenti ketika persiapan selesai. Rundown bisa berubah, vendor mengalami kendala, jumlah peserta tidak sesuai perkiraan, atau kebutuhan teknis tiba-tiba muncul.

Kemampuan mengambil keputusan dan mencari solusi dengan cepat menjadi salah satu keterampilan penting dalam pekerjaan ini.

Bagi Gen Z, pengalaman tersebut justru bisa menjadi nilai tambah.

Selain mendapatkan penghasilan, mereka dapat belajar mengelola proyek sekaligus menghadapi situasi yang tidak selalu bisa diprediksi.

Bisa Dimulai dari Acara Kecil

Tidak perlu langsung membuat konser atau festival besar untuk memulai side hustle sebagai EO.

Langkah yang lebih realistis adalah mengambil acara dengan skala kecil.

Misalnya ulang tahun, gathering teman, workshop, kegiatan komunitas, bazar UMKM, atau acara organisasi kampus.

Dari proyek sederhana tersebut, calon EO bisa belajar menyusun rundown, menghitung kebutuhan biaya, membagi tugas, berkomunikasi dengan vendor, serta memastikan acara berjalan sesuai jadwal.

Pengalaman itu kemudian bisa menjadi portofolio.

Dokumentasikan proses dan hasil acara secara profesional.

Foto dekorasi, suasana acara, video behind the scene, hingga testimoni klien dapat dikumpulkan untuk menunjukkan kemampuan kepada calon pelanggan.

Media sosial juga bisa dimanfaatkan sebagai etalase portofolio.

Dengan begitu, akun pribadi atau akun bisnis tidak hanya berisi hasil akhir acara, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sebuah event dirancang dan dijalankan.

Networking Jadi Modal Penting

Salah satu keuntungan terjun ke dunia EO adalah kesempatan bertemu banyak orang.

Dalam satu acara, seorang EO bisa berhubungan dengan fotografer, videografer, MC, talent, dekorator, katering, penyedia sound system, percetakan, hingga pemilik venue.

Relasi tersebut dapat berkembang menjadi jaringan kerja yang berguna untuk proyek berikutnya.

Ketika mendapatkan pekerjaan baru, EO tidak harus mencari seluruh vendor dari awal.

Namun, membangun networking tidak cukup hanya dengan mengumpulkan kontak.

Hubungan profesional perlu dijaga melalui komunikasi yang baik, ketepatan waktu, komitmen terhadap pekerjaan, serta sikap saling menghargai.

Semakin baik reputasi yang dibangun, semakin besar peluang seseorang mendapatkan rekomendasi maupun kerja sama baru.

Jangan Lupa Belajar Mengatur Budget

Kesalahan yang cukup sering terjadi pada pemula adalah terlalu fokus pada konsep, tetapi lupa menghitung biaya.

Padahal, pengelolaan anggaran merupakan bagian penting dari pekerjaan EO.

Setiap kebutuhan harus diperhitungkan, mulai dari venue, dekorasi, konsumsi, perlengkapan, dokumentasi, transportasi, hingga biaya tak terduga.

Sebelum menerima proyek, calon EO sebaiknya membuat rincian kebutuhan secara jelas.

Biaya operasional perlu dipisahkan dari fee jasa agar keuntungan bisa dihitung sejak awal.

Dengan perhitungan yang rapi, EO juga lebih mudah menjelaskan kepada klien mengenai penggunaan anggaran.

Jangan hanya mengejar proyek pertama.

Reputasi juga perlu dipikirkan karena satu acara yang dikelola dengan baik dapat menjadi portofolio sekaligus membuka peluang rekomendasi dari klien berikutnya.

Kreativitas dan Tren Jadi Nilai Tambah

Gen Z memiliki kedekatan dengan perkembangan tren digital.

Kondisi ini bisa menjadi keuntungan ketika mereka menggarap acara yang menyasar anak muda.

Tren TikTok, Instagram, konsep pop-up event, photobooth, interactive experience, hingga aktivitas yang menarik untuk dibagikan di media sosial dapat menjadi inspirasi dalam membuat konsep acara.

Namun, mengikuti tren bukan berarti setiap acara harus dibuat berlebihan.

Konsep tetap harus disesuaikan dengan target peserta, anggaran, lokasi, dan tujuan acara.

Justru kreativitas seorang EO terlihat ketika mampu membuat sebuah kegiatan terasa menarik tanpa menghabiskan biaya secara tidak perlu.

Di era digital, penyelenggara event juga semakin dituntut memahami bagaimana teknologi dan media sosial dapat mendukung pengalaman peserta.

Event tidak hanya berlangsung di lokasi, tetapi juga dapat memiliki kehidupan di ruang digital melalui promosi, konten, dan interaksi dengan audiens.

Dari Side Hustle Bisa Jadi Bisnis Serius

Menjadikan EO sebagai side hustle bisa menjadi langkah awal sebelum membangun bisnis sendiri.

Ketika jumlah proyek mulai bertambah, Gen Z dapat membentuk tim kecil dengan pembagian tugas yang lebih jelas.

Ada yang menangani konsep, administrasi, vendor, dokumentasi, hingga operasional lapangan.

Baca Juga: Apple Makin Serius Garap Smart Home, Gandeng LG Siapkan Bel Pintu hingga Kamera Pintar

Spesialisasi juga bisa mulai ditentukan. Misalnya fokus pada acara kampus, komunitas, workshop, bazar, acara perusahaan, pernikahan, atau jenis event tertentu.

Dari sana, pekerjaan yang awalnya hanya dilakukan untuk mendapatkan penghasilan tambahan dapat berkembang menjadi bisnis event yang lebih profesional.

Namun, perkembangan tersebut tetap membutuhkan portofolio, reputasi, jaringan, pengelolaan keuangan, dan kemampuan menjaga kualitas pelayanan.

Pada akhirnya, menjadi EO bukan hanya soal membuat acara terlihat meriah.

Ada proses perencanaan, komunikasi, kreativitas, manajemen anggaran, koordinasi, manajemen risiko, dan tanggung jawab yang harus dijalankan.

Bagi Gen Z yang senang bertemu orang baru, mengatur sesuatu, bekerja secara dinamis, dan tidak keberatan menghadapi situasi yang berubah-ubah, dunia event bisa menjadi salah satu pilihan side hustle yang menarik untuk dicoba.

Yang terpenting, tidak perlu menunggu memiliki tim besar atau menangani acara dengan skala besar.

Pengalaman dapat dibangun sedikit demi sedikit.

Dimulai dari acara kecil, membangun portofolio, memperluas jaringan, kemudian berkembang ketika kemampuan dan kepercayaan klien mulai meningkat.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
event organizer Gen Z side hustle Gen Z bisnis event organizer peluang usaha Gen Z cara menjadi EO