Dikenal Lewat Konten Ubah Penampilan, Clavicular Kini Hadapi Gugatan Pidana dan Perdata

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 14:43 WIB
Influencer Clavicular yang terjebak dalam kasus hukum pelecehan. (tiktok.com/ clavicular)
Influencer Clavicular yang terjebak dalam kasus hukum pelecehan. (tiktok.com/ clavicular)

RADARBONANG.ID - Influencer looksmaxxing Clavicular, yang memiliki nama asli Braden Peters, menghadapi sejumlah dakwaan pidana di Massachusetts, Amerika Serikat.

Berdasarkan dokumen pengadilan yang dilaporkan sejumlah media internasional, Peters menghadapi tuduhan pemerkosaan, tuduhan pemberian zat untuk tujuan hubungan seksual, serta satu tuduhan menyediakan alkohol kepada seseorang yang belum berusia 21 tahun.

Dugaan peristiwa tersebut disebut terjadi pada 23 Mei 2025 di Chatham, Massachusetts.

Baca Juga: Kasus KM Virgo Transport 8 Masuk Babak Baru, Nakhoda Jadi Tersangka dan Langsung Ditahan

Kasus tersebut mendapat perhatian publik karena Peters dikenal sebagai salah satu figur dalam komunitas looksmaxxing.

Tren internet ini mendorong pria untuk memaksimalkan penampilan fisik demi mencapai standar ketampanan tertentu.

Melalui media sosial, Clavicular dikenal membagikan berbagai konten mengenai perubahan penampilan wajah dan tubuh.

Dia juga pernah membahas metode kontroversial seperti bone smashing serta prosedur kosmetik yang diklaim dapat meningkatkan daya tarik fisik.

Kini, citra tersebut turut menjadi sorotan setelah dirinya menghadapi persoalan hukum.

Selain perkara pidana tersebut, Peters sebelumnya juga menghadapi gugatan perdata.

Dalam gugatan itu terdapat tuduhan bahwa dia pernah menyuntikkan Aqualyx, zat pelarut lemak kosmetik, kepada seorang remaja tanpa persetujuan yang sah.

Pihak hukum Peters membantah berbagai tuduhan tersebut dan menyatakan akan membela diri melalui proses hukum.

Looksmaxxing dan Risiko Mengejar Penampilan

Kasus tersebut juga memunculkan kembali pembahasan mengenai tren looksmaxxing yang berkembang di internet.

Budaya tersebut pada dasarnya mendorong seseorang untuk melakukan berbagai cara demi meningkatkan penampilan fisik.

Bentuknya dapat berupa perubahan gaya rambut, perawatan kulit, olahraga, hingga tindakan kosmetik tertentu.

Namun, sebagian praktik yang beredar di komunitas internet dapat menimbulkan risiko apabila dilakukan tanpa pengetahuan dan pengawasan yang memadai.

Kreator konten Eno Bening turut menyoroti persoalan tersebut melalui kanal YouTube miliknya.

Dia mengingatkan publik agar tidak sembarangan mengikuti tindakan berbahaya yang dilakukan demi konten atau mengejar perubahan penampilan.

"Jangan ditiru dan jangan pernah mau lu ngelakuin itu sama orang lain yang bukan profesional tanpa perjanjian, tanpa persetujuan, apalagi kalau di bawah umur. Orang tua lu mesti hadir, ini adalah prosedur yang sangat berbahaya," ujarnya.

Menurut Eno, tindakan medis maupun kosmetik yang dilakukan oleh orang tanpa kompetensi profesional dapat membawa risiko terhadap kesehatan dan keselamatan.

Popularitas di media sosial, lanjutnya, juga tidak dapat dijadikan ukuran bahwa seseorang memiliki kompetensi untuk melakukan prosedur yang berkaitan dengan kesehatan.

Popularitas Media Sosial Bukan Jaminan Kredibilitas

Eno juga menyoroti sejumlah siaran langsung yang pernah dilakukan Clavicular.

Menurut dia, beberapa konten tersebut semestinya membuat penonton lebih berhati-hati dalam melihat perilaku figur yang mereka ikuti.

Di tengah maraknya konten transformasi fisik di media sosial, penonton perlu membedakan antara konten hiburan, pengalaman pribadi, dan informasi yang memang memiliki dasar profesional.

Terlebih, prosedur yang menyangkut tubuh tidak semestinya dilakukan hanya karena sedang populer di internet.

Tindakan medis dan kosmetik memiliki risiko sehingga perlu dilakukan oleh pihak yang memiliki kompetensi dan kewenangan sesuai prosedurnya.

"Sebagus apa pun penampilan seseorang, itu tidak akan menyelamatkannya ketika harus berhadapan dengan hukum," ungkap Eno dalam pembahasannya.

Perkara yang dihadapi Clavicular sekaligus menjadi sorotan terhadap budaya popularitas di media sosial.

Citra yang ditampilkan seorang influencer tidak otomatis menggambarkan seluruh karakter maupun perilakunya di kehidupan nyata.

Karena itu, publik perlu tetap kritis ketika mengikuti figur di internet, terutama ketika konten tersebut berkaitan dengan perubahan fisik, prosedur kosmetik, maupun tindakan yang berisiko terhadap keselamatan. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
looksmaxxing penampilan fisik amerika serikat kosmetik