RADARBONANG.ID - Sebagian orang dapat dengan mudah mengenali ketika sedang bahagia, sedih, marah, atau takut.
Namun, ada kondisi yang membuat seseorang kesulitan memahami, mengenali, hingga mengungkapkan emosi yang sedang dirasakan.
Kondisi tersebut dikenal sebagai alexithymia.
Alexithymia bukan berarti seseorang sama sekali tidak memiliki emosi.
Mereka tetap dapat merasakan berbagai reaksi emosional dan perubahan fisik, tetapi mengalami kesulitan memahami bahwa sensasi tersebut berkaitan dengan emosi tertentu.
Baca Juga: Sulit Mengendalikan Amarah? Gobind Vashdev Soroti Pentingnya Mengelola Emosi dan Ego
Dikutip dari kanal YouTube Kok Bisa?, orang dengan alexithymia dapat mengalami kesulitan dalam mengenali dan mengekspresikan perasaan.
"Pengidapnya itu jadi bakal sulit mengekspresikan dan mengenali emosi, tapi mereka tetap bisa merasakan sensasinya di tubuh, misalnya keringat mengucur dan dada berdebar, tapi mereka enggak merasa takut," sebagaimana diuraikan dalam narasi video tersebut
Artinya, tubuh tetap memberikan respons terhadap situasi yang dihadapi. Jantung dapat berdebar, telapak tangan berkeringat, atau perut terasa tidak nyaman.
Namun, seseorang mungkin tidak mampu menghubungkan perubahan fisik tersebut dengan emosi yang sedang dialaminya.
Tubuh Bereaksi, tetapi Emosi Sulit Dikenali
Salah satu contoh yang dibahas dalam penelitian adalah pengalaman seorang pria bernama Caleb.
Dia mengaku kesulitan memahami emosi yang muncul dalam sejumlah momen penting dalam hidupnya, termasuk ketika menikah dan saat anaknya lahir.
Alih-alih langsung mengenali perasaan bahagia, Caleb lebih menyadari perubahan yang terjadi pada tubuhnya.
Dia merasakan wajah menjadi panas atau tubuh terasa lebih berat, tetapi kesulitan menerjemahkan sensasi tersebut sebagai emosi tertentu.
Penyebab alexithymia hingga kini masih terus dipelajari. Sejumlah penelitian menemukan adanya perbedaan aktivitas pada bagian otak yang berperan dalam pemrosesan emosi.
Selain faktor biologis, alexithymia juga dikaitkan dengan pengalaman hidup, lingkungan, serta kondisi psikologis tertentu.
Beberapa penelitian menemukan kondisi tersebut lebih sering muncul pada individu yang memiliki riwayat trauma masa kecil.
Namun, hubungan tersebut tidak berarti semua orang dengan alexithymia pasti pernah mengalami trauma.
Karena itu, keterkaitan antara pengalaman masa lalu dan alexithymia masih terus diteliti.
Alexithymia juga dapat ditemukan bersamaan dengan kondisi lain, seperti gangguan kecemasan, depresi, gangguan stres pascatrauma (PTSD), dan autisme.
Karakteristik alexithymia bahkan ditemukan pada sebagian individu dalam spektrum autisme.
Karena itu, kondisi ini kerap dipandang sebagai karakteristik yang dapat menyertai kondisi lain, bukan semata-mata sebagai gangguan yang berdiri sendiri.
Belajar Memahami Sinyal dari Tubuh
Sampai saat ini belum ada obat khusus yang dapat menghilangkan alexithymia sepenuhnya.
Meski demikian, pendekatan terapi tertentu dapat membantu seseorang belajar mengenali pola emosi serta memahami hubungan antara sensasi fisik dan perasaan yang muncul.
Kemampuan mengenali emosi penting karena perasaan tidak hanya berkaitan dengan rasa senang atau sedih.
Emosi juga dapat memberikan informasi mengenai kondisi yang sedang dihadapi seseorang, serta berfungsi penting dalam membantu manusia mengambil keputusan dan memahami situasi.
"Perasaan ada buat membantu kita mengambil keputusan hidup yang penting, enggak cuma emosi positif kayak senang dan bahagia, emosi negatif juga penting buat dirasakan karena mirip rasa sakit, mereka ngasih sinyal kalau ada masalah," lanjut narasi tersebut.
Dengan demikian, alexithymia menunjukkan bahwa memiliki emosi dan mampu mengenali emosi merupakan dua hal yang berbeda.
Seseorang tetap dapat mengalami perubahan fisik dan respons emosional meski kesulitan memberi nama atau memahami perasaan tersebut.
Memahami kondisi ini juga penting agar kesulitan mengenali emosi tidak langsung dianggap sebagai sikap dingin, tidak peduli, atau tidak memiliki perasaan.
Emosi pada dasarnya menjadi salah satu sistem informasi alami yang membantu manusia memahami diri, berinteraksi dengan orang lain, mengambil keputusan, dan menghadapi berbagai situasi dalam kehidupan sehari-hari. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari