Sering Merasa Lelah karena Overwork? Kenali Tanda Saat Tubuhmu Butuh Jeda

Dya Laras Miftaqu Rohmah • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 13:05 WIB
Fenomena overworked di kalangan anak muda. (Photo by Vitaly Gariev on Unsplash)
Fenomena overworked di kalangan anak muda. (Photo by Vitaly Gariev on Unsplash)

RADARBONANG.ID – Tuntutan pekerjaan yang semakin tinggi membuat banyak orang terbiasa bekerja tanpa jeda.

Target, tenggat waktu, hingga tekanan ekonomi membuat waktu untuk beristirahat terkadang justru dianggap sebagai sesuatu yang bisa ditunda.

Padahal, kelelahan yang terus berulang tidak selalu sekadar persoalan banyaknya pekerjaan.

Pola kerja berlebihan atau overwork juga dapat membuat seseorang kehilangan waktu pemulihan dan meningkatkan tekanan psikologis.

Baca Juga: Fenomena Overworked di Usia Muda: Ketika Ambisi Bertabrakan dengan Kesehatan Mental

Fenomena tersebut dibahas dalam video di kanal YouTube Irene The Journal berjudul Cara Reset Energi dan Lepas dari Stres Berlebihan. 

Irene menjelaskan, bahwa memulihkan energi mental bukanlah sekadar beristirahat secara fisik.

Melainkan bagaimana seseorang mampu mengenali batas diri, menghentikan siklus pikiran negatif, dan memulihkan ketenangan batin secara terarah.

"Stres berlebihan terjadi ketika pikiran kita terus-menerus hidup di masa depan yang belum pasti atau terjebak di masa lalu. Untuk meresetnya, kita harus kembali hadir sepenuhnya di saat ini dan belajar melepaskan beban yang di luar kendali kita," ujarnya.

Budaya Overwork Bikin Waktu Istirahat Terabaikan

Dalam kehidupan modern, bekerja keras sering dipandang sebagai bagian dari keberhasilan.

Tidak sedikit orang yang merasa harus terus produktif agar dapat memenuhi kebutuhan hidup, mengejar karier, atau mempertahankan pekerjaannya.

Masalah muncul ketika bekerja tanpa batas menjadi kebiasaan.

Waktu istirahat berkurang, aktivitas di luar pekerjaan terabaikan, dan seseorang terus merasa harus menyelesaikan berbagai hal meski kondisi fisik maupun mental sudah membutuhkan jeda.

Situasi tersebut dapat membuat seseorang sulit membedakan antara produktivitas dan kelelahan. Padahal, tubuh dan pikiran tetap membutuhkan waktu untuk memulihkan diri.

Tekanan ekonomi juga dapat membuat kondisi tersebut semakin rumit.

Bagi sebagian pekerja, pilihan untuk mengurangi jam kerja atau mengambil waktu istirahat tidak selalu mudah karena kebutuhan finansial.

Hal tersebut tergambar dalam salah satu penonton video tersebut.

“Kerja apa aja yang penting bisa hidup, dan benar hasilnya hampir selama 12 tahun aku kerja keras underpaid.” ujar salah satu penonton dalam kolom komentar.

Belajar Melepaskan Hal yang Tak Bisa Dikendalikan

Salah satu pesan yang dibawa dalam video tersebut adalah pentingnya berhenti mencoba mengendalikan segala sesuatu.

Tidak semua persoalan pekerjaan, kondisi ekonomi, maupun penilaian orang lain dapat dikendalikan secara penuh.

Memaksakan diri untuk mengendalikan semuanya justru dapat menambah beban pikiran.

Karena itu, seseorang perlu mengenali mana hal yang memang berada dalam kendalinya dan mana yang harus diterima sebagai sesuatu di luar kuasa.

Memberikan waktu untuk beristirahat juga bukan berarti seseorang kehilangan produktivitas.

Jeda dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kemampuan untuk tetap menjalani aktivitas secara berkelanjutan.

Namun, rasa lelah yang berlangsung terus-menerus juga tidak sebaiknya selalu dianggap sebagai akibat pekerjaan.

Gangguan tidur, kondisi kesehatan tertentu, masalah psikologis, pola hidup, maupun faktor lain dapat menyebabkan seseorang mengalami kelelahan berkepanjangan.

Jika rasa lelah, stres, atau kehilangan energi mulai mengganggu aktivitas sehari-hari dan berlangsung dalam waktu lama, mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah yang tepat.

Mengenali batas kemampuan, mendapatkan waktu pemulihan, serta mengevaluasi pola kerja dapat menjadi bagian penting untuk menjaga kesehatan fisik dan mental. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
mengenali batas diri overwork bekerja tanpa jeda stres kelelahan