RADARBONANG.ID - Istilah inner child, healing, dan self-reward semakin populer dalam percakapan kesehatan mental, terutama di kalangan anak muda.
Namun, penggunaan istilah tersebut terkadang membuat seseorang menganggap pengalaman masa lalu sebagai alasan untuk memenuhi keinginan secara berlebihan.
Padahal, memahami luka masa kecil seharusnya tidak berhenti pada pemberian hadiah kepada diri sendiri.
Baca Juga: Begini Makna Self Love yang Perlu Dipahami Ketika Memasuki Usia 20-an
Proses tersebut membutuhkan refleksi untuk mengenali kebutuhan emosional sekaligus memahami apakah suatu tindakan benar-benar membantu atau justru menjadi pelarian.
Hal tersebut dibahas dalam video edukasi kanal YouTube Satu Persen berjudul "Memahami Inner Child, Self Reward, dan Hobi".
Tayangan tersebut mengulas hubungan antara pengalaman masa kecil, mekanisme pertahanan diri, serta cara seseorang mencari kenyamanan ketika menghadapi persoalan emosional.
Salah satu hal yang disoroti adalah kecenderungan menggunakan self-reward untuk membenarkan perilaku konsumtif.
Membeli barang, makan di tempat tertentu, bepergian, atau melakukan aktivitas yang menyenangkan sebenarnya tidak selalu bermasalah.
Persoalan muncul ketika aktivitas tersebut dilakukan secara impulsif dan terus-menerus, kemudian dibungkus sebagai bentuk penyembuhan luka masa lalu.
Memahami Kebutuhan Emosional dan Keinginan
Masa kecil yang kurang menyenangkan tidak otomatis berarti seseorang harus menebusnya dengan mengeluarkan uang untuk memenuhi berbagai keinginan.
Selain itu, ditekankan juga bahwa masa lalu perlu dipahami, bukan dijadikan pembenaran untuk melakukan tindakan yang justru menimbulkan persoalan baru.
"Masa kecil yang kurang bahagia bukan berarti harus ditebus dengan menghabiskan uang secara impulsif demi memuaskan ego sesaat yang dibungkus istilah self-reward."
Karena itu, penting membedakan kebutuhan emosional dengan keinginan sesaat.
Seseorang mungkin memang membutuhkan waktu beristirahat, melakukan hobi, bertemu orang terdekat, atau memberikan penghargaan kepada diri sendiri.
Namun, jika self-reward dilakukan untuk menghindari masalah, sulit dikendalikan, atau bahkan mengganggu kondisi keuangan, perilaku tersebut perlu dievaluasi.
Hobi juga tidak selalu harus dikaitkan dengan luka masa kecil. Aktivitas yang disukai dapat menjadi sarana aktualisasi diri, mengurangi kejenuhan, sekaligus memberikan ruang bagi seseorang untuk menikmati waktu luang.
Yang menjadi persoalan adalah ketika hobi atau aktivitas konsumtif berubah menjadi satu-satunya cara untuk mendapatkan rasa nyaman.
Healing Tidak Harus Berujung Konsumtif
Popularitas istilah kesehatan mental di media sosial membuat berbagai konsep psikologi semakin mudah ditemukan masyarakat.
Di satu sisi, kondisi tersebut membantu meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya kesehatan mental.
Namun, di sisi lain, istilah seperti healing dan self-reward juga dapat digunakan secara kurang tepat. Seseorang bisa saja menganggap setiap keinginan sebagai kebutuhan emosional yang harus segera dipenuhi.
Padahal, proses memahami diri membutuhkan kesadaran terhadap kondisi emosional, kebiasaan, serta konsekuensi dari keputusan yang diambil.
Karena itu, penyembuhan diri tidak harus selalu diwujudkan melalui aktivitas yang membutuhkan pengeluaran uang.
Berbicara dengan orang yang dipercaya, menulis jurnal, melakukan hobi, beristirahat, maupun mencari bantuan profesional ketika diperlukan juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan mental.
Pada akhirnya, memahami inner child bukan berarti terus-menerus memanjakan diri untuk menebus masa lalu.
Yang lebih penting adalah memahami pengalaman tersebut, mengenali kebutuhan emosional, dan menemukan cara yang lebih sehat untuk meresponsnya.
Dengan begitu, self-reward tetap dapat menjadi bentuk penghargaan kepada diri sendiri tanpa berubah menjadi alasan untuk melakukan konsumsi secara impulsif. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari