Sampah Plastik Sulit Terurai, Ternyata Ada Cacing hingga Jamur yang Bisa Memakannya

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 16:42 WIB
Kepiting sedang berinteraksi dan tampak mengonsumsi serpihan limbah plastik di dasar laut yang tercemar. (Ilustrasi AI)
Kepiting sedang berinteraksi dan tampak mengonsumsi serpihan limbah plastik di dasar laut yang tercemar. (Ilustrasi AI)

RADARBONANG.ID - Sampah plastik selama ini dikenal sebagai salah satu limbah yang paling sulit terurai. Namun, sejumlah penelitian menemukan organisme tertentu yang ternyata mampu membantu memecah beberapa jenis plastik.

Temuan tersebut membuka peluang baru dalam menghadapi persoalan sampah plastik yang terus mencemari lingkungan.

Meski demikian, kemampuan organisme tersebut masih dalam tahap penelitian dan belum menjadi solusi praktis untuk mengatasi limbah plastik dalam skala besar.

Sejak 1950-an, manusia diperkirakan telah menghasilkan sekitar 8,3 miliar ton plastik.

Baca Juga: Mengenal Pink Muhly Grass, Tanaman Hias Berwarna Merah Muda yang Cantik, Tahan Cuaca Ekstrem, dan Bermanfaat bagi Satwa

Hanya sebagian kecil yang berhasil didaur ulang, sedangkan sisanya menumpuk di tempat pembuangan atau berakhir di lingkungan, termasuk lautan.

Dampaknya dapat terlihat dari berbagai kasus pencemaran yang mengancam satwa.

Mengancam Satwa di Habitatnya

Dalam salah satu video yang dibahas kanal YouTube Anton Petrov, misalnya, ditemukan seekor kepiting yang terjebak di dalam botol plastik di perairan Jepang selama lebih dari dua bulan.

"Kepiting tersebut masuk saat ukurannya masih sangat kecil dan terus tumbuh hingga tidak lagi bisa keluar dari botol itu," jelas Anton Petrov.

Kejadian tersebut menjadi gambaran bagaimana sampah plastik tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga dapat menjadi perangkap bagi hewan dan mengganggu habitat alaminya.

Cacing dan Jamur Ternyata Mampu Mengurai Plastik

Di tengah persoalan tersebut, ilmuwan menemukan sejumlah organisme yang memiliki kemampuan membantu menguraikan material plastik tertentu.

Salah satunya adalah superworm (Zophobas atratus), larva kumbang yang selama ini banyak digunakan sebagai pakan hewan.

Dalam sejumlah penelitian, larva tersebut diketahui mampu bertahan hidup dengan mengonsumsi polistirena atau styrofoam.

Kemampuan tersebut diduga berkaitan dengan mikroorganisme yang hidup di dalam sistem pencernaan larva.

Temuan itu kemudian mendorong peneliti dari Nanyang Technological University Singapura mengembangkan sistem yang disebut "perut cacing buatan".

Sistem tersebut memanfaatkan mikroba dari usus superworm untuk membantu mempercepat proses degradasi beberapa jenis plastik dalam kondisi laboratorium.

Kemampuan serupa juga ditemukan pada mikroorganisme yang terdapat dalam cairan rumen sapi.

Penelitian yang dipimpin Doris Ribitsch di Austria menunjukkan mikroorganisme tersebut dapat membantu menguraikan beberapa jenis poliester sintetis.

Tak hanya dari hewan, potensi penguraian plastik juga ditemukan pada jamur.

Penelitian yang dipimpin Amira Farzana Samat di Australia menunjukkan spesies jamur tanah tertentu memiliki kemampuan menguraikan polypropylene, salah satu material yang banyak digunakan untuk membuat tutup botol dan berbagai kemasan plastik.

Dalam penelitian tersebut, plastik terlebih dahulu dilemahkan menggunakan sinar ultraviolet.

Setelah perlakuan tersebut, jamur mampu membantu menguraikan material dalam waktu sekitar 140 hari.

Waktu tersebut jauh lebih singkat dibandingkan proses penguraian plastik secara alami yang dapat berlangsung selama puluhan hingga ratusan tahun.

Belum Bisa Jadi Solusi Instan

Meski menawarkan harapan, pemanfaatan organisme untuk mengatasi sampah plastik masih menghadapi sejumlah tantangan sebelum dapat diterapkan secara luas.

Salah satu persoalannya adalah biaya. Produksi plastik baru relatif murah karena bahan bakunya berasal dari etilena yang merupakan produk sampingan industri bahan bakar fosil.

"Pembuatan plastik baru pada dasarnya sangat murah karena terbuat dari etilena yang merupakan produk sampingan industri bahan bakar fosil," ujar Anton Petrov.

Biaya produksi yang rendah membuat pembuatan plastik baru masih lebih menarik secara ekonomi dibandingkan mengolah limbah yang sudah ada.

Selain itu, plastik memiliki banyak jenis dan komposisi sehingga proses penguraiannya tidak bisa disamakan.

Berbagai temuan tersebut menunjukkan bahwa sejumlah organisme memiliki kemampuan yang berpotensi dimanfaatkan untuk membantu mengatasi pencemaran plastik.

Namun, teknologi berbasis organisme tersebut masih membutuhkan penelitian dan pengembangan lebih lanjut.

Karena itu, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan memperbaiki sistem pengelolaan serta daur ulang sampah tetap menjadi langkah penting dalam menghadapi krisis plastik. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
pencemaran mengancam satwa plastik lingkungan