Bukan Sekadar Masalah Modern, Stres Ternyata Mekanisme Bertahan Hidup Manusia

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 15:52 WIB
Seorang pekerja yang tampak kelelahan di depan komputer. (Magnific/ DC Studio)
Seorang pekerja yang tampak kelelahan di depan komputer. (Magnific/ DC Studio)

RADARTUBAN - Stres sering dianggap sebagai masalah yang muncul akibat kehidupan modern.

Padahal, respons stres sebenarnya merupakan mekanisme pertahanan alami yang telah membantu manusia menghadapi ancaman sejak ribuan tahun lalu.

Ketika manusia purba berhadapan dengan bahaya seperti hewan buas, tubuh secara otomatis mengaktifkan respons fight or flight atau melawan maupun melarikan diri.

Dalam kondisi tersebut, tubuh melepaskan hormon seperti adrenalin dan kortisol.

Keduanya membantu meningkatkan kewaspadaan sekaligus mempersiapkan tubuh untuk menghadapi ancaman.

Baca Juga: Self-Healing Tak Selalu Harus Liburan, Penelitian Ungkap Berbagi Bisa Mengurangi Stres dan Meningkatkan Kebahagiaan

Setelah bahaya berlalu, tubuh seharusnya kembali ke kondisi normal.

Fase pemulihan tersebut berkaitan dengan kondisi rest and digest, ketika tubuh beralih dari mode siaga menuju keadaan yang lebih tenang.

Namun, ancaman yang dihadapi manusia saat ini telah berubah.

Kehidupan modern lebih banyak menghadirkan tekanan psikologis, seperti tenggat pekerjaan, persoalan finansial, kemacetan, hingga arus informasi yang tidak pernah berhenti.

Dalam tayangan kanal YouTube Kurzgesagt – In a Nutshell, stres dijelaskan sebagai mekanisme darurat yang dirancang untuk membantu organisme bertahan hidup.

"Stres adalah perubahan keadaan tubuh yang sangat cepat dan drastis yang memprioritaskan kelangsungan hidup," urai narasi dalam tayangan tersebut.

Tubuh Sulit Membedakan Ancaman Modern

Salah satu persoalan muncul ketika tekanan psikologis terjadi berulang kali.

Tubuh dapat memberikan respons yang serupa dengan ketika menghadapi ancaman fisik.

Akibatnya, seseorang bisa terus berada dalam kondisi siaga meskipun tidak sedang menghadapi bahaya yang mengancam keselamatan secara langsung.

Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dikenal sebagai stres kronis.

Tekanan berkepanjangan dapat memengaruhi berbagai aspek kesehatan, mulai dari ketegangan otot, gangguan tidur, hingga kesulitan berkonsentrasi.

Stres berkepanjangan juga dapat berdampak terhadap kesehatan mental.

Seseorang dapat menjadi lebih mudah impulsif, sulit fokus, serta lebih rentan mengalami kecemasan atau masalah suasana hati.

Namun, bukan berarti seluruh stres harus dihindari. Dalam tingkat tertentu dan dalam situasi yang tepat, stres justru dapat membantu seseorang meningkatkan kewaspadaan dan fokus, misalnya ketika menghadapi ujian atau menyelesaikan pekerjaan penting.

Persoalannya adalah ketika tubuh tidak mendapatkan cukup waktu untuk kembali ke kondisi tenang setelah tekanan berlalu.

Memberi Tubuh Waktu untuk Pulih

Karena itu, mengelola stres bukan berarti berusaha menghilangkan seluruh tekanan dari kehidupan. Tubuh juga membutuhkan kesempatan untuk melakukan pemulihan.

Aktivitas sederhana seperti berjalan santai, berolahraga, berbincang dengan orang terdekat, atau melakukan meditasi dapat menjadi bagian dari aktivitas pemulihan setelah menghadapi tekanan.

Selain tekanan pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, penggunaan media sosial juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.

Kurzgesagt menjelaskan bahwa media sosial dirancang untuk mempertahankan keterlibatan pengguna.

Konten yang memicu emosi kuat, termasuk emosi negatif, dapat membuat seseorang lebih lama memperhatikannya.

"Media sosial tidak menunjukkan apa yang kita inginkan, tetapi apa yang membuat kita terlibat. Dan emosi negatif membuat kita paling banyak terlibat," ungkap kanal tersebut.

Karena itu, mengurangi paparan terhadap konten yang memicu kecemasan dan mengatur waktu penggunaan media sosial dapat menjadi salah satu cara untuk memberikan ruang bagi pikiran dan tubuh beristirahat.

Pada akhirnya, stres bukan sepenuhnya musuh bagi manusia. Mekanisme tersebut justru merupakan bagian dari sistem pertahanan tubuh.

Yang menjadi persoalan adalah ketika sistem pertahanan yang seharusnya aktif sementara justru terus menyala.

Memahami kapan tubuh membutuhkan kewaspadaan dan kapan harus mendapatkan waktu pemulihan menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan di tengah kehidupan modern. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
kehidupan modern mekanisme pertahanan psikologis stres hormon