RADARBONANG.ID – Istilah soft spoken semakin sering muncul dalam percakapan sehari-hari, terutama di media sosial.
Seseorang yang berbicara dengan suara lembut, tenang, dan tidak suka meninggikan nada kerap langsung disebut soft spoken.
Namun, apakah semua orang yang berbicara lembut bisa disebut soft spoken?. Belum tentu.
Ada perbedaan antara soft spoken, gentle, dan passive.
Ketiganya memang sama-sama bisa memberikan kesan kalem dan tidak agresif, tetapi sebenarnya menggambarkan hal yang berbeda dalam komunikasi.
Memahami perbedaan tersebut penting agar sikap tenang tidak selalu dianggap sebagai tanda seseorang tidak mampu menyampaikan pendapat atau menetapkan batasan.
Baca Juga: Roti Tawar Jangan Cuma Dipanggang, Coba Resep Roti Sosis Gurita Keju yang Renyah dan Lumer
Soft Spoken Lebih dari Sekadar Suara Pelan
Secara sederhana, soft spoken menggambarkan seseorang yang memiliki cara bicara lembut atau volume suara yang relatif rendah.
Namun, gaya komunikasi tersebut tidak hanya ditentukan oleh seberapa keras seseorang berbicara.
Pilihan kata, intonasi, kecepatan berbicara, ekspresi, hingga bahasa tubuh juga dapat membentuk kesan soft spoken.
Orang dengan gaya komunikasi ini biasanya menyampaikan sesuatu dengan cara yang tidak terdengar kasar, memerintah, atau menyerang lawan bicara.
Karena itu, seseorang bisa saja memiliki suara lembut tetapi tetap tegas ketika menyampaikan pendapat.
Misalnya, ketika tidak setuju dengan sebuah keputusan, seseorang tetap bisa mengatakan bahwa dirinya kurang setuju dan memiliki pilihan lain untuk dipertimbangkan.
Nada bicaranya mungkin tetap tenang, tetapi pesannya jelas.
Jadi, soft spoken lebih berkaitan dengan cara menyampaikan pesan, bukan berarti seseorang tidak memiliki pendirian.
Gentle Bukan Berarti Harus Bicara Pelan
Sementara itu, gentle lebih menggambarkan bagaimana seseorang memperlakukan orang lain.
Orang yang gentle tidak harus memiliki suara lembut atau berbicara dengan volume rendah.
Seseorang bisa berbicara dengan volume normal, tetapi tetap menggunakan kata-kata yang menghargai lawan bicara.
Sikap gentle dapat terlihat ketika seseorang mendengarkan tanpa memotong pembicaraan, menyampaikan kritik tanpa merendahkan, serta mempertimbangkan perasaan orang lain.
Dengan kata lain, gentle lebih dekat dengan sikap dan perlakuan terhadap orang lain.
Karena itu, seseorang bisa gentle tetapi tidak soft spoken.
Sebaliknya, seseorang yang soft spoken juga belum tentu selalu gentle dalam setiap tindakannya.
Seseorang bisa memiliki suara yang sangat lembut, tetapi tetap menyampaikan sesuatu dengan cara yang kurang menghargai orang lain.
Passive Justru Berbeda Lagi
Bagian yang sering membuat orang keliru adalah passive.
Sekilas, komunikasi pasif memang dapat terlihat mirip dengan soft spoken.
Seseorang mungkin berbicara pelan, ragu-ragu, atau tidak terlalu mendominasi percakapan.
Namun, inti komunikasi pasif bukan terletak pada volume suara.
Komunikasi pasif lebih berkaitan dengan kesulitan menyampaikan kebutuhan, pendapat, atau batasan diri secara jelas.
Seseorang yang cenderung pasif dapat lebih memilih mengutamakan keinginan orang lain atau menghindari konflik, bahkan ketika keputusan tersebut sebenarnya membuat dirinya tidak nyaman.
Misalnya, seorang teman bertanya, “Kamu mau pergi ke mana?”
Orang yang soft spoken masih bisa menjawab dengan tenang bahwa dirinya ingin pergi ke tempat yang lebih tenang dan membuka ruang untuk berdiskusi.
Sementara itu, orang yang berkomunikasi secara pasif mungkin menjawab, “Terserah kamu saja,” meskipun sebenarnya ia memiliki pilihan sendiri.
Perbedaannya terlihat dari keberanian menyampaikan kebutuhan dan pendapat.
Soft Spoken Tetap Bisa Tegas
Kesalahpahaman lainnya adalah anggapan bahwa orang yang lembut berarti tidak memiliki ketegasan.
Padahal, komunikasi yang tenang dan komunikasi yang pasif merupakan dua hal berbeda.
Seseorang tetap dapat menggunakan suara lembut sekaligus menyampaikan batasan dengan jelas.
Misalnya, daripada mengatakan dengan nada tinggi, “Jangan ganggu aku terus!”, seseorang dapat menyampaikan bahwa dirinya sedang membutuhkan waktu sendiri dan akan kembali berbicara setelah lebih tenang.
Pesannya tetap tegas tanpa harus disampaikan secara agresif.
Hal tersebut sejalan dengan prinsip komunikasi asertif. Komunikasi asertif menempatkan kejelasan dan rasa hormat secara bersamaan.
American Psychological Association menjelaskan bahwa komunikasi asertif bukan berarti memaksa.
Seseorang tetap dapat menyampaikan kebutuhan dengan jelas sambil menghormati dirinya sendiri dan orang lain.
Bahkan, nada suara, kontak mata, dan bahasa tubuh juga menjadi bagian dari komunikasi asertif.
Artinya, seseorang tidak perlu meninggikan suara untuk menunjukkan bahwa dirinya serius.
Jangan Sampai Soft Spoken Berubah Menjadi People Pleasing
Menjadi pribadi yang lembut tentu bukan masalah.
Justru, gaya komunikasi yang tenang dapat membantu menciptakan suasana percakapan yang lebih nyaman.
Namun, kelembutan sebaiknya tidak membuat seseorang selalu mengatakan “iya” ketika sebenarnya ingin menolak.
Jika seseorang terus-menerus menyembunyikan pendapat, takut mengatakan tidak, atau mengorbankan kebutuhannya demi menghindari konflik, pola tersebut lebih dekat dengan komunikasi pasif atau people pleasing.
Karena itu, menjadi soft spoken bukan berarti harus selalu mengalah.
Seseorang tetap berhak mengatakan tidak.
Seseorang juga tetap berhak memiliki pendapat yang berbeda.
Yang membedakan adalah bagaimana pendapat tersebut disampaikan.
Soft Spoken, Gentle, dan Passive Tidak Sama
Jika disederhanakan, soft spoken lebih berkaitan dengan cara seseorang berbicara.
Gentle lebih berkaitan dengan cara seseorang memperlakukan orang lain.
Sementara passive lebih berkaitan dengan kecenderungan tidak menyampaikan kebutuhan atau pendapat secara tegas.
Ketiganya mungkin terlihat serupa dari luar karena sama-sama dapat memberikan kesan kalem.
Namun, ketika melihat cara seseorang berkomunikasi secara lebih mendalam, perbedaannya menjadi lebih jelas.
Baca Juga: Kenangan Coffee hingga Sari Ratu Masuk Daftar Boikot Netizen Malaysia, Ternyata Ini Pemicunya
Orang yang soft spoken tidak harus pasif.
Orang yang gentle tidak harus berbicara dengan suara pelan.
Sementara orang yang tegas juga tidak harus berbicara keras.
Pada akhirnya, komunikasi yang baik bukan tentang siapa yang paling keras suaranya.
Pesan yang jelas, sikap saling menghormati, serta kemampuan menetapkan batasan justru menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi yang sehat.
Suara yang lembut tetap bisa membawa pesan yang kuat.
Tidak perlu berteriak untuk menunjukkan bahwa pendapat kita layak didengar.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang