Limbah Pertanian Bisa Kembali ke Lahan, Begini Cara Biochar dan Kompos Bantu Menyuburkan Tanah

Muhammad Azlan Syah • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 18:55 WIB
Sekam, jerami, tongkol jagung hingga tempurung kelapa ternyata tidak selalu harus menjadi limbah. Bahan-bahan tersebut bisa diolah menjadi biochar dan dikombinasikan dengan kompos untuk membantu memperbaiki kualitas tanah. (ilustrasi)
Sekam, jerami, tongkol jagung hingga tempurung kelapa ternyata tidak selalu harus menjadi limbah. Bahan-bahan tersebut bisa diolah menjadi biochar dan dikombinasikan dengan kompos untuk membantu memperbaiki kualitas tanah. (ilustrasi)

RADARBONANG.ID – Limbah pertanian sering dianggap sebagai sisa yang sudah tidak memiliki banyak manfaat.

Padahal, sekam padi, jerami, tongkol jagung, tempurung kelapa, hingga sisa kayu masih dapat diolah menjadi bahan yang berguna untuk memperbaiki kondisi tanah.

Salah satu teknologi yang kini banyak dibahas adalah biochar.

Material kaya karbon ini dibuat dari bahan organik melalui proses pemanasan dengan sedikit atau tanpa oksigen.

Biochar dapat dimanfaatkan sebagai pembenah tanah.

Penggunaannya berpotensi membantu tanah menahan air dan hara sekaligus mengurangi pencucian unsur hara.

Namun, biochar tidak bisa digunakan secara sembarangan. Karakteristik bahan baku, proses pembuatan, jenis tanah, dosis, hingga jenis tanaman perlu diperhatikan sebelum diaplikasikan ke lahan.

Baca Juga: Bukan Pakai Kata Sulit, Ini Alasan Orang yang Bicara Sederhana Justru Terlihat Lebih Cerdas

Dari Limbah Menjadi Biochar

Bahan untuk membuat biochar sebenarnya cukup dekat dengan aktivitas pertanian sehari-hari.

Sekam dan jerami padi dapat digunakan sebagai bahan baku.

Begitu juga tongkol jagung, tempurung kelapa, tandan kosong kelapa sawit, kulit buah kakao, ampas tebu, serbuk gergaji, serta sisa kayu.

BRMP Lingkungan Pertanian menjelaskan bahwa biomassa tersebut dapat diproses melalui pirolisis.

Proses ini dilakukan dengan membatasi oksigen sehingga bahan organik berubah menjadi material kaya karbon.

Dalam penerapan sederhana berbasis drum, biomassa kering dimasukkan ke dalam reaktor yang dibuat tertutup.

Pemanasan dilakukan dari luar secara bertahap.

Hasilnya bukan hanya biochar. Proses tersebut juga dapat menghasilkan gas dan uap yang kemudian bisa dikondensasikan menjadi produk lain seperti asap cair.

Sebagai gambaran, sekitar 100 kilogram biomassa kering dapat menghasilkan sekitar 25–35 kilogram biochar.

Namun, hasil sebenarnya dapat berbeda karena dipengaruhi jenis bahan, kadar air, ukuran bahan, suhu, serta lama proses pirolisis.

Kenapa Biochar Bisa Membantu Tanah?

Biochar memiliki karakter berbeda dibandingkan bahan organik yang lebih cepat terurai.

Material ini memiliki stabilitas karbon yang relatif tinggi sehingga dapat bertahan lebih lama di dalam tanah.

Karena itu, manfaatnya berpotensi dirasakan dalam beberapa musim tanam.

Salah satu fungsi yang banyak diperhatikan adalah kemampuan biochar membantu meningkatkan kapasitas tanah dalam menahan air.

Material tersebut juga dapat membantu mengurangi pencucian unsur hara sehingga sebagian nutrisi tidak mudah terbawa keluar dari zona perakaran.

Namun, bukan berarti semakin banyak biochar yang diberikan maka semakin baik hasilnya.

Penggunaan biochar harus disesuaikan dengan karakteristik tanah dan kebutuhan tanaman.

Pengujian seperti pH, kadar abu, kemampuan menahan air, kandungan bahan volatil, kerapatan massa, hingga luas permukaan dapat digunakan untuk mengetahui karakter biochar.

Kandungan logam berat juga perlu diperiksa, terutama ketika biochar akan digunakan pada lahan hortikultura.

Bisa Dicampur dengan Kompos

Biochar juga tidak harus digunakan sendirian.

Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah menggabungkannya dengan kompos untuk menghasilkan biokompos.

BRMP Lingkungan Pertanian menjelaskan bahwa biochar dapat dihaluskan terlebih dahulu sebelum dicampurkan dengan kompos yang sudah matang.

Campuran tersebut kemudian dikelola dengan kondisi kelembapan yang sesuai hingga menjadi biokompos.

Kombinasi tersebut memiliki beberapa potensi manfaat.

Mulai dari membantu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kemampuan menahan air, mendukung ketersediaan unsur hara secara bertahap, hingga menyediakan lingkungan yang mendukung mikroorganisme tanah.

Penggunaan biokompos juga membuat limbah pertanian tidak berhenti sebagai sisa.

Biomassa yang sebelumnya berpotensi dibakar atau dibuang dapat dikembalikan ke dalam sistem pertanian sebagai bahan pembenah tanah.

Dengan begitu, pengelolaan limbah sekaligus perbaikan kualitas lahan dapat dilakukan dalam satu rangkaian.

Jerami Jangan Langsung Dibakar

Jerami menjadi salah satu contoh limbah pertanian yang sebenarnya memiliki potensi besar.

Kementerian Pertanian mencatat jerami mengandung berbagai unsur hara seperti nitrogen, fosfor, kalium, sulfur, kalsium, dan magnesium.

Jerami juga dapat diolah menjadi kompos dengan bantuan mikroorganisme atau dekomposer.

Setelah terurai, bahan tersebut dapat dikembalikan ke tanah sebagai sumber bahan organik.

Kebiasaan membakar jerami memang dapat membuat lahan terlihat cepat bersih.

Namun, cara tersebut menghilangkan sebagian potensi bahan organik yang sebenarnya dapat dimanfaatkan kembali.

Pengolahan menjadi kompos atau biochar menawarkan pendekatan berbeda.

Sisa tanaman tidak sekadar disingkirkan, tetapi diproses agar kembali memiliki fungsi dalam sistem pertanian.

Tidak Sekadar Mengatasi Limbah

Pemanfaatan limbah pertanian menjadi biochar memiliki manfaat yang lebih luas daripada sekadar mengurangi jumlah limbah.

Konsep tersebut juga berkaitan dengan upaya menjaga kualitas tanah dalam jangka panjang.

Tanah yang digunakan secara intensif membutuhkan pengelolaan bahan organik agar struktur, kemampuan menyimpan air, serta ketersediaan hara tetap terjaga.

Dalam konteks tersebut, limbah pertanian dapat menjadi salah satu sumber bahan untuk membantu proses pemulihan.

Teknologi biochar juga membuka peluang pemanfaatan limbah di tingkat petani.

Bahan yang tersedia di sekitar lahan dapat diolah menjadi produk yang kembali digunakan untuk kebutuhan pertanian.

Meski demikian, penerapannya tetap membutuhkan pengetahuan dan pengujian.

Biochar dari sekam padi belum tentu memiliki karakter yang sama dengan biochar dari tempurung kelapa atau tongkol jagung.

Begitu pula dosis yang sesuai untuk satu jenis tanah belum tentu cocok untuk lahan lainnya.

Karena itu, pemanfaatan biochar sebaiknya tidak dilakukan hanya berdasarkan anggapan bahwa semua biochar memiliki manfaat yang sama.

Limbah yang Kembali ke Tanah

Pada akhirnya, limbah pertanian tidak selalu harus berakhir sebagai sesuatu yang dibuang.

Sekam, jerami, tongkol jagung, tempurung kelapa, hingga sisa kayu dapat menjadi bahan baku untuk berbagai bentuk pengolahan.

Biochar menjadi salah satu pilihan yang menarik karena material tersebut dapat membantu memperbaiki sejumlah karakteristik tanah dan menyimpan karbon dalam bentuk yang lebih stabil.

Baca Juga: Viva Cosmetics Tetap Pertahankan Kemasan Jadul di Tengah Gempuran Tren Modern, Ini Alasannya

Ketika dikombinasikan dengan kompos, manfaatnya dapat dikembangkan menjadi biokompos yang sekaligus membantu mengembalikan bahan organik ke lahan.

Konsep tersebut menunjukkan bahwa sisa dari aktivitas pertanian sebenarnya masih memiliki nilai.

Daripada hanya dibakar atau dibuang, limbah dapat diolah kembali menjadi bagian dari siklus produksi.

Pada akhirnya, pertanian berkelanjutan bukan hanya soal menghasilkan lebih banyak pangan.

Cara mengelola tanah, air, bahan organik, serta limbah setelah panen juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : goodnewsfromindonesia.id
biochar untuk tanah kompos pertanian pertanian berkelanjutan Limbah Pertanian kesuburan tanah