Bukan Pakai Kata Sulit, Ini Alasan Orang yang Bicara Sederhana Justru Terlihat Lebih Cerdas

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 16:00 WIB
Penyampaian gagasan yang efektif sangat bergantung pada penggunaan kalimat sederhana yang mudah diproses dan tidak membebani memori pendengar. (Magnific/ wavebreakmedia_micro)
Penyampaian gagasan yang efektif sangat bergantung pada penggunaan kalimat sederhana yang mudah diproses dan tidak membebani memori pendengar. (Magnific/ wavebreakmedia_micro)

RADARBONANG.ID - Banyak orang mengira seseorang akan terdengar lebih cerdas jika menggunakan kosakata yang rumit dan terdengar akademis.

Padahal, kemampuan verbal tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya kata sulit yang dikuasai, tetapi juga oleh kemampuan menyampaikan gagasan secara jelas dan mudah dipahami.

Penggunaan istilah yang terlalu kompleks justru dapat membuat pesan kehilangan makna utamanya.

Pendengar maupun pembaca harus mengeluarkan usaha lebih untuk memahami maksud yang disampaikan sehingga komunikasi menjadi kurang efektif.

Baca Juga: 9 Topik yang Harus Dihindari Jika Ingin Membangun Komunikasi yang Sehat

Hal tersebut sejalan dengan penelitian psikolog Daniel Oppenheimer dari Princeton University pada 2006.

Dalam eksperimennya, Oppenheimer mengganti sejumlah kata sederhana dalam sebuah tulisan dengan kosakata yang lebih rumit untuk melihat pengaruhnya terhadap penilaian pembaca.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa yang lebih kompleks justru membuat penulis dinilai kurang cerdas dibandingkan mereka yang menggunakan bahasa sederhana dan mudah dipahami.

Fenomena tersebut berkaitan dengan konsep processing fluency, yakni kemudahan seseorang dalam memproses dan memahami sebuah informasi.

Semakin mudah suatu pesan dicerna, semakin positif pula penilaian yang dapat muncul dari pembaca maupun pendengar.

Terlalu Sibuk Terdengar Pintar Justru Mengganggu Komunikasi

Dikutip dari kanal YouTube PsychToons, kesulitan seseorang dalam berbicara tidak selalu disebabkan oleh keterbatasan kosakata.

Dalam beberapa kasus, seseorang justru terlalu sibuk memilih kata yang dianggap dapat membuat dirinya terdengar pintar.

"Setiap kata yang tidak perlu adalah pajak kecil bagi pendengar. Mereka harus menerjemahkan kostum tersebut sebelum mereka dapat mencapai ide utamanya," sebagaimana disebutkan dalam narasi pada tayangan tersebut.

Persoalan komunikasi juga dapat dipahami melalui model produksi bahasa yang dikembangkan psikolinguis Willem Levelt.

Dalam model tersebut, proses berbicara berlangsung melalui tiga tahap, yakni menyusun gagasan, mengubahnya menjadi struktur bahasa, kemudian mengucapkannya.

Artinya, persoalan sering kali sudah muncul sebelum seseorang mulai berbicara.

Ketika gagasan di dalam kepala masih bercampur dan belum tersusun dengan baik, seseorang akan kesulitan menjelaskannya meskipun memiliki banyak kosakata.

Keinginan menyampaikan terlalu banyak informasi dalam satu waktu juga dapat membuat komunikasi menjadi kurang efektif.

Kemampuan manusia dalam memproses informasi memiliki keterbatasan, sehingga pesan yang terlalu padat berisiko membuat pendengar kehilangan inti pembicaraan.

Jeda Bukan Berarti Tidak Cerdas

Jeda ketika berbicara juga kerap dianggap sebagai tanda seseorang tidak siap atau kurang menguasai pembicaraan.

Padahal, jeda singkat merupakan bagian alami dari proses otak ketika memilih kata dan menyusun informasi yang akan disampaikan.

Memberikan waktu sejenak untuk berpikir justru dapat membantu seseorang menyampaikan gagasan dengan lebih terstruktur.

Karena itu, seseorang tidak perlu memaksakan diri berbicara cepat atau menggunakan istilah rumit hanya untuk menciptakan kesan intelektual.

"Semakin keras Anda mencoba terdengar cerdas, semakin kurang cerdas Anda terdengar," lanjut narasi tersebut menerangkan.

Pada akhirnya, kecerdasan verbal bukan tentang seberapa rumit kosakata yang digunakan.

Kemampuan tersebut lebih terlihat dari cara seseorang menyusun pikiran, membangun gagasan secara runtut, dan menyampaikannya dengan bahasa yang dapat dipahami orang lain.

Berbicara sederhana bukan berarti kurang cerdas.

Justru, kemampuan menjelaskan sesuatu yang kompleks dengan cara yang mudah dipahami dapat menjadi tanda bahwa seseorang benar-benar memahami apa yang ingin disampaikannya. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
kemampuan verbal menyampaikan gagasan verbal komunikasi berbicara