RADARBONANG.ID - Memasuki usia 20-an menjadi salah satu fase penting dalam kehidupan. Di usia ini, anak muda mulai berhadapan dengan tuntutan karier, ekspektasi sosial, hingga pencarian jati diri.
Di tengah berbagai tekanan tersebut, istilah self-love atau mencintai diri sendiri semakin sering digaungkan.
Namun, konsep tersebut tidak selalu dipahami dengan tepat. Self-love bahkan bisa disalahartikan sebagai alasan untuk menghindari masalah atau membenarkan sikap egois.
Baca Juga: Self-Love 2026: Bukan Manja, Tapi Cara Waras Bertahan Hidup
Hal tersebut dibahas Professional Self-Love Coach, Muara Makarim dalam podcast In Our Twenties.
Dia membahas lima pertanyaan penting tentang self-love yang kerap diabaikan generasi muda ketika memasuki usia 20-an.
Menurut Muara, memahami self-love secara utuh penting agar seseorang tidak terus terjebak dalam kecemasan sekaligus mampu membangun hubungan yang sehat dengan dirinya sendiri.
Self-Love Bukan Sekadar Memanjakan Diri
Muara menjelaskan, mencintai diri sendiri seharusnya dimulai dari keberanian untuk mengenali dan menerima diri apa adanya.
Termasuk menerima kekurangan tanpa terus membandingkan diri dengan pencapaian orang lain.
"Banyak anak muda di umur 20-an merasa sudah melakukan self-love, padahal mereka hanya melarikan diri dari masalah. Self-love yang sejati itu bukan soal memanjakan diri terus-menerus, melainkan keberanian untuk jujur melihat kekurangan diri dan mau berproses memperbaikinya tanpa rasa bersalah," ungkap Muara Makarim.
Menurutnya, self-love juga perlu dibedakan dari perilaku narsis maupun egois.
Sikap egois cenderung menempatkan kepentingan pribadi di atas orang lain hingga berpotensi merugikan lingkungan sekitar.
Sebaliknya, mencintai diri sendiri justru berkaitan dengan kemampuan menetapkan batasan yang sehat atau healthy boundaries.
Batasan tersebut diperlukan agar seseorang dapat menjaga dirinya sekaligus membangun hubungan yang lebih baik dengan orang lain.
Berdamai dengan Kegagalan di Usia 20-an
Selain memahami batasan diri, Muara mengingatkan anak muda untuk belajar berdamai dengan kegagalan.
Proses menuju kedewasaan atau growing pains tidak selalu berjalan mulus dan sering kali menghadirkan pengalaman yang menyakitkan.
Kegagalan tidak seharusnya membuat seseorang terus menyalahkan diri sendiri.
Sebaliknya, pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari proses untuk memahami diri dan berkembang.
"Ketika kamu belajar mencintai dirimu sendiri, kamu berhenti menuntut kesempurnaan. Kamu mulai memperlakukan dirimu dengan empati yang sama seperti saat kamu memperlakukan teman terbaikmu yang sedang mengalami masa-masa sulit," tegasnya.
Melalui pembahasan tersebut, Muara mengajak generasi muda meluangkan waktu untuk mengevaluasi hubungan dengan diri sendiri.
Pemahaman self-love yang tepat dinilai dapat membantu seseorang menghadapi berbagai tantangan di usia 20-an dengan lebih sehat.
Dengan begitu, anak muda tidak hanya berusaha mencapai tujuan hidup, tetapi juga belajar menerima proses yang sedang dijalani.
Sikap tersebut dapat menjadi bekal untuk menghadapi berbagai tekanan sekaligus mengurangi risiko terjebak dalam krisis seperempat baya atau quarter-life crisis. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari