Tanpa Disadari, Doomscrolling Bikin Cemas, Ini 9 Cara Ampuh Menghentikannya

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 11:26 WIB
Kebiasaan scrolling tanpa henti. (ilustrasi AI)
Kebiasaan scrolling tanpa henti. (ilustrasi AI)

RADARBONANG.ID - Kebiasaan menggulir media sosial tanpa henti untuk mengikuti perkembangan informasi, terutama kabar negatif, dapat memicu gangguan psikologis.

Perilaku yang dikenal sebagai doomscrolling ini kerap dilakukan tanpa disadari, hingga seseorang sulit berhenti mengakses berita yang justru menimbulkan kecemasan.

Kemudahan memperoleh informasi melalui perangkat digital membuat masyarakat bisa mengikuti berbagai peristiwa secara cepat.

Baca Juga: Sering Doom Scrolling? Penelitian Sebut Kebiasaan Ini Dapat Memicu Respons Trauma hingga Mengganggu Sistem Otak

Namun, paparan berlebihan terhadap berita buruk, konflik, kekerasan, hingga isu yang memicu kekhawatiran berisiko meningkatkan stres, kecemasan, dan kelelahan emosional.

Pakar kesehatan dari Harvard Medical School, Aditi Nerurkar, mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan memperoleh informasi dan kesehatan mental.

Penggunaan perangkat digital perlu dikelola agar kebiasaan mengikuti berita tidak berkembang menjadi perilaku yang sulit dikendalikan.

Atur Penggunaan Ponsel untuk Mengurangi Doomscrolling

Mengurangi doomscrolling dapat dimulai dengan membangun kebiasaan sederhana dalam menggunakan ponsel.

Membatasi akses terhadap layar dan mengurangi gangguan digital bisa membantu seseorang mengendalikan dorongan untuk terus memeriksa media sosial.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menjauhkan ponsel dari tempat tidur.

Kebiasaan ini dapat mencegah seseorang langsung membuka media sosial saat bangun tidur, sehingga pagi hari tidak diawali dengan paparan informasi yang berlebihan.

Saat bekerja atau melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi, ponsel juga sebaiknya diletakkan di tempat yang tidak mudah dijangkau.

Dengan begitu, keinginan untuk memeriksa notifikasi atau mencari kabar terbaru dapat diminimalkan.

Hal serupa bisa diterapkan ketika makan. Menghindari penggunaan ponsel selama waktu makan memberikan kesempatan bagi pikiran untuk beristirahat sekaligus membuka ruang interaksi langsung dengan keluarga atau orang-orang di sekitar.

Selain itu, mengubah tampilan layar menjadi hitam putih atau grayscale dapat dicoba untuk mengurangi daya tarik visual ponsel.

Tampilan yang lebih sederhana ini berpotensi mengurangi keinginan untuk terus menggulir konten.

Selektif Mengakses Informasi dan Alihkan Perhatian

Selain mengatur durasi penggunaan ponsel, memilih informasi yang dikonsumsi juga menjadi langkah penting untuk menghindari doomscrolling.

Salah satunya dengan menonaktifkan notifikasi yang tidak diperlukan agar seseorang tidak terus-menerus terdorong membuka perangkat digital.

Masyarakat juga dapat memprioritaskan informasi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, termasuk kabar dari lingkungan sekitar.

Memahami konteks informasi yang dekat dengan keseharian dapat membantu seseorang lebih bijak dalam menentukan berita yang perlu diikuti.

Menyaring konten juga penting dilakukan, terutama terhadap informasi yang mengandung kekerasan atau kabar negatif secara berlebihan.

Tidak semua informasi harus dibaca atau ditonton, terlebih jika paparan tersebut mulai memengaruhi suasana hati dan pikiran.

Ketika muncul dorongan untuk terus menggulir media sosial, perhatian dapat dialihkan ke kegiatan lain yang lebih bermanfaat.

Berjalan-jalan, melakukan aktivitas seni, mengikuti kegiatan sosial, atau menghabiskan waktu di ruang terbuka bisa menjadi pilihan untuk mengurangi waktu di depan layar.

Jika kebiasaan doomscrolling semakin sulit dikendalikan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari dan kondisi emosional, seseorang dapat mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan dokter atau tenaga profesional.

Menghindari doomscrolling bukan berarti harus menutup diri dari perkembangan dunia.

Kuncinya adalah membangun kebiasaan mengakses informasi secara sadar, mengetahui kapan harus berhenti, serta memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat di tengah derasnya arus informasi digital. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
gangguan psikologis kelelahan emosional Doomscrolling kecemasan