RADARBONANG.ID - Kebiasaan mudah marah, gampang tersinggung, hingga terus menyimpan sakit hati dapat mengganggu ketenangan hidup.
Menurut praktisi mindful living Gobind Vashdev, gejolak emosi tersebut perlu dihadapi dengan mengenali ego, memahami luka masa lalu, serta melatih kesadaran diri.
Pandangan itu disampaikan Gobind saat berbincang bersama Rory Asyari dalam podcast di kanal YouTube Rory Asyari. Pembahasan tersebut dikemas dalam video bertajuk “Cara Mengelola Emosi, Sakit Hati, dan Ego,”.
Baca Juga: Bukan Tanda Ketangguhan, Kebiasaan Memendam Perasaan Bisa Mengganggu Mental
Dalam perbincangan tersebut, Gobind menjelaskan bahwa ketidakstabilan emosi tidak selalu dipicu oleh perlakuan orang lain atau keadaan di luar diri.
Ego yang sulit dikendalikan dan luka emosional yang belum terselesaikan juga dapat memengaruhi cara seseorang merespons berbagai persoalan.
Salah satu hal yang disoroti adalah hubungan antara kondisi fisik dan emosi, terutama melalui pola pernapasan.
Kesadaran terhadap irama napas dinilai dapat membantu seseorang mengenali sekaligus meredakan respons emosional.
Latihan Pernapasan untuk Mengendalikan Emosi
Gobind menekankan pentingnya melatih pernapasan secara perlahan dan sadar atau slow breathing.
Teknik tersebut, termasuk pendekatan pernapasan Buteyko, dibahas sebagai salah satu cara untuk membantu menenangkan diri ketika emosi mulai meningkat.
"Ketika emosi kita bergejolak, cara paling cepat untuk mengambil alih kendali diri adalah dengan mengatur ritme napas kita secara perlahan dan sadar," ungkap Gobind dalam perbincangan tersebut.
Melalui latihan pernapasan, seseorang dapat mengambil jeda sebelum bereaksi terhadap situasi yang memicu amarah.
Jeda tersebut memberi kesempatan untuk mengenali emosi yang muncul dan mempertimbangkan respons yang lebih tepat.
Selain mengelola reaksi emosional, Gobind juga mengingatkan pentingnya memahami ego.
Seseorang perlu menyadari ketika amarah atau dorongan untuk mempertahankan harga diri mulai memengaruhi keputusan yang diambil.
Ikhlas Bukan Berarti Menyerah
Pembahasan bersama Rory Asyari juga menyinggung perbedaan antara keikhlasan dan keputusasaan.
Gobind menjelaskan bahwa memaafkan kesalahan orang lain bukan berarti membenarkan tindakan buruk yang pernah dilakukan.
Sebaliknya, keikhlasan dapat menjadi pilihan untuk melepaskan beban emosional agar seseorang tidak terus terjebak dalam dendam dan sakit hati.
"Ikhlas adalah pilihan sadar untuk melepaskan beban batin, sedangkan putus asa adalah kondisi di mana kita merasa tidak lagi memiliki kendali atas diri kita sendiri," tambahnya.
Karena itu, mengenali ego dan berdamai dengan pengalaman masa lalu menjadi bagian penting dalam proses mengelola emosi.
Seseorang juga perlu memahami bahwa memaafkan tidak harus menghilangkan batasan terhadap orang yang pernah menyakitinya.
Melalui pembahasan tersebut, Gobind mengajak masyarakat membangun kebiasaan hidup yang lebih sadar atau mindful.
Latihan pernapasan, pengenalan emosi, dan keberanian melepaskan beban masa lalu dapat menjadi langkah untuk menjaga ketenangan pikiran serta meningkatkan kualitas hidup. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari