Merasa Hampa dan Kehilangan Semangat Kerja? Kenali Tanda Kelelahan Mental

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 17:00 WIB
ilustrasi orang mengalami kelelahan mental saat bekerja. (Radar Tuban/ AI)
ilustrasi orang mengalami kelelahan mental saat bekerja. (Radar Tuban/ AI)

RADARBONANG.ID - Rasa lelah yang terus muncul meski sudah beristirahat, hingga perasaan kehilangan jati diri saat bekerja, bisa menjadi tanda seseorang mengalami kelelahan mental (mental burnout).

Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan beban pekerjaan, tetapi juga tekanan ekspektasi dan emosi yang kurang terkelola.

Persoalan tersebut dibahas psikolog klinis Analisa Widyaningrum, M.Psi., Psikolog, dalam podcast di kanal YouTube Suara Berkelas bertajuk “Psikolog: Alasan Kamu Selalu Lelah Dengan Pekerjaanmu dan Hilang Jati Diri”

Baca Juga: Bukan Tanda Ketangguhan, Kebiasaan Memendam Perasaan Bisa Mengganggu Mental

Analisa menjelaskan, kelelahan berkepanjangan dapat terjadi ketika seseorang terus berusaha memenuhi harapan orang lain maupun standar ideal yang ditetapkan untuk dirinya sendiri.

Kondisi itu kerap berlangsung tanpa disertai kesadaran terhadap batas kemampuan psikologis.

Emosi negatif yang menumpuk dan tidak mendapat ruang untuk diekspresikan juga dapat membuat seseorang semakin jauh dari identitas pribadinya.

“Ketika kita terus-menerus berlari mengejar ekspektasi tanpa memberi jeda pada pikiran dan emosi, kita tidak hanya kelelahan secara fisik, tetapi juga mulai kehilangan arah serta identitas diri yang sebenarnya,” diungkapkan Analisa dalam tayangan tersebut.

Terjebak Ekspektasi hingga Kehilangan Jati Diri

Menurut Analisa, salah satu langkah penting untuk menghadapi kelelahan mental adalah berhenti sejenak dan mengevaluasi rutinitas sehari-hari.

Seseorang perlu mengenali apakah aktivitas yang dijalani masih sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas dirinya.

Dia juga menyoroti kebiasaan mengisi waktu luang dengan hiburan berlebihan di media sosial.

Aktivitas tersebut dapat menjadi distraksi semu ketika seseorang menggunakannya untuk menghindari atau mengabaikan kelelahan emosional.

Alih-alih memperoleh pemulihan yang dibutuhkan, kebiasaan tersebut berisiko membuat seseorang tidak benar-benar beristirahat.

Karena itu, penting untuk memahami perbedaan antara sekadar mengalihkan perhatian dan memberi waktu bagi pikiran serta emosi untuk pulih.

Pentingnya Batas antara Pekerjaan dan Kehidupan Pribadi

Selain mengevaluasi rutinitas, membangun batas yang sehat (boundary) antara pekerjaan dan kehidupan pribadi juga menjadi hal penting.

Batas tersebut membantu seseorang menjaga ruang personal agar tidak terus-menerus tersita oleh tuntutan profesional.

Analisa mengingatkan pentingnya mengenali dan menerima emosi yang muncul, sekaligus memahami kemampuan diri dalam menghadapi tekanan.

“Memahami batas kemampuan diri dan berani berkata tidak pada tekanan yang berlebihan adalah bentuk penyelamatan diri agar kita tetap bisa bekerja secara sehat tanpa mengorbankan kesehatan mental,” tambahnya.

Kesadaran terhadap sinyal kelelahan fisik maupun mental menjadi salah satu upaya menjaga keseimbangan hidup.

Dengan mengenali kebutuhan diri dan mengelola emosi secara lebih baik, seseorang dapat membangun pola kerja yang lebih sehat tanpa terus mengabaikan kesejahteraan psikologisnya. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
emosi burnout mental kelelahan