Bukan Melupakan Masa Lalu, Ini Kunci Sembuh dari Trauma Menurut dr. Jiemi Ardian

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 16:35 WIB
ilustrasi seseorang yang mulai sembuh dari trauma. (Radar Tuban/ AI)
ilustrasi seseorang yang mulai sembuh dari trauma. (Radar Tuban/ AI)

RADARBONANG.ID - Trauma masa lalu tidak selalu hilang seiring berjalannya waktu.

Luka emosional yang belum terselesaikan bahkan bisa menghambat seseorang menjalani kehidupan dengan tenang dan bahagia.

Hal tersebut dibahas dalam tayangan edukatif di kanal YouTube Raditya Dika bersama psikiater dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ, melalui video bertajuk “Supaya Sembuh dari Trauma”.

Dalam perbincangan tersebut, dr. Jiemi menjelaskan bahwa trauma bukan hanya tentang peristiwa buruk yang dialami seseorang, tetapi juga bagaimana tubuh dan pikiran merespons serta menyimpan dampaknya.

Baca Juga: Bukan Cuma Gen, Riza Arif Ungkap Epigenetik dan Trauma Antargenerasi Membentuk Sifat Manusia

Banyak orang masih menganggap bahwa sembuh dari trauma berarti harus melupakan seluruh kejadian menyakitkan di masa lalu.

Padahal, pemulihan lebih berkaitan dengan penerimaan dan perubahan cara seseorang menghadapi ingatan tersebut.

“Penyembuhan trauma bukan berarti kita menghilangkan ingatan atas peristiwa masa lalu, melainkan mengubah cara kita merespons dan bersikap terhadap ingatan tersebut,” tutur dr. Jiemi.

Menerima Emosi Jadi Langkah Awal Pemulihan

Dr. Jiemi menekankan bahwa penerimaan (acceptance) dan pengolahan emosi merupakan bagian penting dalam proses pemulihan trauma.

Setiap orang memiliki waktu dan perjalanan penyembuhan yang berbeda sehingga tidak perlu membandingkan prosesnya dengan orang lain.

Sebaliknya, upaya menekan emosi (suppress) atau berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja justru berpotensi memperburuk kondisi psikologis dalam jangka panjang.

Karena itu, seseorang perlu mengakui rasa sakit yang pernah dialami dan memberi ruang bagi dirinya untuk memproses pengalaman tersebut secara bertahap.

Pemulihan bukan proses instan, melainkan perjalanan yang membutuhkan waktu dan kesabaran.

Dukungan Lingkungan Membantu Proses Trauma Healing

Selain penerimaan diri, lingkungan yang suportif juga berperan dalam membantu seseorang pulih dari trauma.

Sikap empati dan keterbukaan dapat menciptakan ruang aman bagi mereka untuk mengungkapkan perasaan tanpa takut dihakimi.

“Proses pemulihan membutuhkan keberanian untuk menghadapi ketakutan serta dukungan lingkungan yang mau mendengarkan tanpa menghakimi,” tambahnya.

Melalui edukasi tersebut, masyarakat diajak untuk lebih peduli terhadap kesehatan mental, baik diri sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.

Dukungan sederhana, seperti mendengarkan tanpa menghakimi, dapat menjadi bagian penting dalam perjalanan pemulihan.

Apabila trauma masa lalu mulai mengganggu aktivitas dan kualitas hidup sehari-hari, seseorang juga dianjurkan untuk tidak ragu mencari bantuan profesional, seperti psikolog atau psikiater. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
luka emosional penyembuhan trauma healing trauma