Kenapa Kebahagiaan Setelah Punya Sesuatu Baru Bisa Cepat Hilang? Kenali Istilah Hedonic Treadmill

Widodo • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 08:58 WIB
Sudah mendapatkan sesuatu yang selama ini diimpikan, tetapi beberapa waktu kemudian terasa biasa saja? Bisa jadi itu bagian dari hedonic adaptation atau hedonic treadmill. (ilustrasi)
Sudah mendapatkan sesuatu yang selama ini diimpikan, tetapi beberapa waktu kemudian terasa biasa saja? Bisa jadi itu bagian dari hedonic adaptation atau hedonic treadmill. (ilustrasi)

RADARBONANG.ID – Pernah punya sesuatu yang sudah lama diinginkan, lalu merasa sangat bahagia ketika akhirnya mendapatkannya?

Namun, beberapa waktu kemudian, rasa senang tersebut perlahan biasa saja.

Ponsel baru yang awalnya terasa istimewa akhirnya menjadi barang sehari-hari.

Kenaikan gaji yang dulu membuat lega perlahan terasa sebagai kondisi normal. Pekerjaan impian yang sempat dirayakan pun akhirnya berubah menjadi rutinitas.

Setelah itu, muncul keinginan baru.

Fenomena semacam ini dalam psikologi dikenal sebagai hedonic adaptation atau adaptasi hedonis.

Istilah hedonic treadmill juga sering digunakan untuk menggambarkan kecenderungan manusia beradaptasi terhadap perubahan positif sehingga peningkatan kebahagiaan yang muncul di awal dapat berkurang seiring waktu.

Bukan berarti seseorang tidak bersyukur atau tidak pernah merasa puas.

Justru, fenomena ini menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan dalam kehidupannya.

Baca Juga: Resmi Dilantik, Bahlil Rangkap Menko Hilirisasi dan Menteri ESDM dalam Struktur Baru Pemerintahan

Saat Hal yang Diimpikan Berubah Menjadi Biasa

Gambaran paling sederhananya bisa dilihat dari pencapaian sehari-hari.

Seseorang mungkin sangat ingin membeli kendaraan baru.

Setelah menabung selama berbulan-bulan, kendaraan tersebut akhirnya terbeli.

Rasa senang tentu muncul.

Hari-hari pertama mungkin diisi dengan foto, perjalanan, atau sekadar menikmati sensasi memiliki sesuatu yang selama ini diinginkan.

Namun, setelah beberapa bulan, kendaraan tersebut mulai terasa biasa.

Bukan karena kualitasnya berubah.

Bukan pula karena pencapaiannya tidak berarti.

Pemiliknya hanya mulai terbiasa.

Hal yang sebelumnya dianggap istimewa perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Penelitian tentang Hedonic Adaptation Prevention menjelaskan bahwa kebahagiaan yang muncul setelah sebuah keberhasilan atau perubahan positif dapat berkurang seiring waktu.

Salah satu jalurnya terjadi ketika emosi positif yang berasal dari perubahan tersebut semakin menurun. Jalur lainnya muncul ketika aspirasi seseorang meningkat sehingga ia mulai menginginkan kondisi yang lebih baik lagi.

Kenapa Setelah Dapat Satu, Muncul Keinginan Baru?

Di sinilah gambaran treadmill menjadi menarik.

Seseorang seperti terus berjalan.

Target pertama tercapai.

Kemudian muncul target kedua.

Target kedua tercapai.

Lalu muncul target ketiga.

Siklus tersebut bisa terjadi dalam berbagai aspek kehidupan.

Mulai dari pekerjaan, pendapatan, pendidikan, hubungan, tempat tinggal, kendaraan, hingga barang yang digunakan sehari-hari.

Ketika standar kehidupan meningkat, sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai pencapaian besar dapat berubah menjadi standar baru.

Misalnya, seseorang awalnya berharap memiliki penghasilan Rp5 juta per bulan.

Ketika target tersebut tercapai, ia merasa sangat lega.

Namun, setelah terbiasa, target berikutnya mungkin menjadi Rp7 juta atau Rp10 juta.

Tidak ada yang salah dengan memiliki target baru.

Persoalannya adalah rasa puas terhadap pencapaian sebelumnya bisa ikut berubah ketika standar baru terbentuk.

Bukan Berarti Pencapaian Tidak Membawa Kebahagiaan

Hedonic treadmill tidak berarti semua pencapaian hanya menghasilkan kebahagiaan sementara.

Sebuah keberhasilan tetap dapat memberikan manfaat nyata dalam kehidupan.

Kenaikan penghasilan, misalnya, dapat membantu memenuhi kebutuhan, meningkatkan keamanan finansial, atau membuka kesempatan baru.

Begitu pula dengan rumah, pendidikan, pekerjaan, atau berbagai pencapaian lainnya.

Yang berubah adalah pengalaman emosional terhadap pencapaian tersebut.

Rasa senang yang sangat kuat ketika sesuatu baru diperoleh dapat berkurang setelah seseorang semakin terbiasa.

Model Hedonic Adaptation Prevention menjelaskan bahwa proses tersebut berkaitan dengan berkurangnya pengalaman positif yang muncul dari perubahan dan meningkatnya aspirasi terhadap kondisi yang lebih baik.

Kebahagiaan Tidak Cuma Soal Punya Lebih Banyak

Pembahasan mengenai kebahagiaan juga tidak hanya berkutat pada jumlah barang atau pencapaian.

Dalam psikologi, kesejahteraan dapat dilihat dari berbagai sudut pandang.

Pendekatan hedonis menekankan pengalaman menyenangkan, kepuasan, dan berkurangnya ketidaknyamanan.

Sementara pendekatan eudaimonik lebih banyak berkaitan dengan makna, perkembangan diri, tujuan, dan menjalani kehidupan secara optimal.

Artinya, memiliki lebih banyak sesuatu tidak otomatis menjadi satu-satunya jalan menuju kesejahteraan.

Konteks kehidupan seseorang juga berpengaruh.

Apa yang dianggap membahagiakan oleh satu orang belum tentu memberikan pengalaman yang sama kepada orang lain.

Menariknya, Pengeluaran untuk Kesenangan Juga Diteliti

Hubungan antara konsumsi dan kebahagiaan juga menjadi perhatian peneliti.

Studi yang diterbitkan dalam BMC Psychology pada 2024 meneliti hubungan antara variasi pengeluaran untuk kesenangan atau hedonic spending dengan kesejahteraan.

Penelitian tersebut terdiri atas empat studi dengan total 2.920 peserta.

Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan antara variasi pengeluaran hedonis dan kesejahteraan setelah memperhitungkan sejumlah faktor keuangan lainnya.

Namun, ketika peneliti menguji arah hubungan sebab-akibat menggunakan data longitudinal, hasilnya tidak sepenuhnya konsisten.

Artinya, penelitian tersebut belum bisa disederhanakan menjadi kesimpulan bahwa semakin beragam seseorang membelanjakan uang untuk kesenangan, semakin bahagia pula dirinya.

Temuan tersebut justru menunjukkan bahwa hubungan antara uang, konsumsi, pengalaman menyenangkan, dan kebahagiaan jauh lebih kompleks.

Jadi, Haruskah Berhenti Mengejar Target?

Tidak.

Memiliki target dan menginginkan kehidupan yang lebih baik merupakan bagian normal dari kehidupan.

Yang menarik untuk dipahami adalah bagaimana seseorang memaknai pencapaiannya.

Model Hedonic Adaptation Prevention menunjukkan bahwa adaptasi terhadap perubahan positif tidak selalu harus berlangsung dengan cara yang sama.

Penelitian tersebut mengidentifikasi apresiasi terhadap perubahan positif dan variasi pengalaman sebagai faktor yang dapat membantu memperlambat proses adaptasi.

Dengan kata lain, pencapaian tidak harus selalu diikuti target yang lebih besar.

Seseorang juga bisa memberi ruang untuk menikmati apa yang sudah dimiliki.

Baca Juga: Gaji di Bawah Rp10 Juta Bakal Dapat Insentif PPh 21, Pemerintah Juga Kaji Kenaikan PTKP

Bukan berarti berhenti berkembang.

Melainkan menyadari bahwa sesuatu yang dahulu sangat diinginkan kini sudah menjadi bagian dari kehidupan.

Pada akhirnya, hedonic treadmill bukan cerita tentang manusia yang tidak pernah merasa cukup.

Fenomena ini lebih tepat dipahami sebagai gambaran tentang bagaimana manusia beradaptasi terhadap perubahan.

Ketika kondisi hidup membaik, rasa bahagia bisa meningkat.

Seiring waktu, kondisi baru tersebut dapat terasa normal.

Lalu muncul keinginan berikutnya.

Memahami siklus tersebut dapat membantu melihat pencapaian dengan lebih realistis.

Sebab, kebahagiaan bukan hanya tentang seberapa jauh seseorang berhasil berjalan.

Tetapi juga tentang kemampuan menyadari bahwa dirinya sudah sampai di tempat yang dulu pernah diimpikan.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
hedonic treadmill fenomena hedonic treadmill adaptasi hedonis hedonic adaptation psikologi kebahagiaan