Punya Second Account Instagram? Bisa Jadi Justru di Sana Gen Z Merasa Lebih Jadi Diri Sendiri

Widodo • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 08:34 WIB
Punya second account Instagram? Bisa jadi bukan karena ingin menyembunyikan sesuatu. Bagi sebagian Gen Z, akun kedua justru menjadi ruang untuk lebih bebas menjadi diri sendiri. (istimewa)
Punya second account Instagram? Bisa jadi bukan karena ingin menyembunyikan sesuatu. Bagi sebagian Gen Z, akun kedua justru menjadi ruang untuk lebih bebas menjadi diri sendiri. (istimewa)

RADARBONANG.ID – Bagi sebagian Gen Z, satu akun Instagram ternyata belum cukup.

Ada akun utama yang digunakan untuk menampilkan foto terbaik, aktivitas, pencapaian, atau kehidupan yang sudah dipilih dan dipikirkan sebelum diunggah.

Namun, ada pula akun kedua yang isinya jauh lebih santai.

Di akun tersebut, seseorang bisa membagikan foto yang lebih random, humor receh, cerita sehari-hari, curhatan, hingga sisi pribadi yang tidak selalu ingin dilihat oleh semua orang.

Fenomena second account Instagram ternyata bukan sekadar tren membuat akun tambahan.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa akun kedua berkaitan dengan cara Gen Z mengatur identitas digital, membatasi audiens, serta menentukan sisi diri yang ingin ditampilkan kepada kelompok tertentu.

Menariknya, akun yang disebut sebagai akun “kedua” justru bisa menjadi tempat seseorang merasa lebih bebas menjadi dirinya sendiri.

Baca Juga: Jangan Asal Bicara saat Interview Kerja! Ini 6 Ucapan yang Bisa Bikin HRD Ilfeel

Akun Utama seperti Panggung Depan

Bayangkan Instagram utama sebagai ruang yang bisa dilihat banyak orang.

Di sana ada teman sekolah, teman kuliah, rekan kerja, keluarga, kenalan, bahkan orang yang sebenarnya tidak terlalu dekat.

Karena audiensnya beragam, pemilik akun biasanya perlu mempertimbangkan unggahan yang akan dibagikan.

Foto dipilih.

Caption dipikirkan.

Feed diperhatikan.

Bahkan, ada yang mempertimbangkan apakah sebuah unggahan akan terlihat terlalu pribadi, terlalu berlebihan, atau tidak sesuai dengan citra yang selama ini dibangun.

Penelitian dalam Thammasat Review pada 2024 menemukan adanya perbedaan signifikan dalam cara Gen Z menampilkan diri melalui akun utama dan second account.

Studi tersebut menunjukkan akun kedua digunakan sebagai ruang ekspresi yang lebih bebas dari tuntutan citra pada akun utama.

Artinya, perbedaan kedua akun bukan selalu soal siapa yang asli dan siapa yang palsu.

Bisa jadi, keduanya merupakan bagian dari diri yang sama, tetapi ditampilkan dalam situasi berbeda.

Second Account Membuat Audiens Lebih Terbatas

Salah satu hal yang membuat second account terasa berbeda adalah jumlah dan jenis pengikutnya.

Pemilik akun biasanya lebih selektif menentukan siapa yang boleh mengikuti akun tersebut.

Lingkarannya bisa berisi sahabat dekat, pasangan, teman tertentu, atau orang-orang yang dianggap memahami dirinya.

Dengan audiens yang lebih terbatas, pengguna dapat merasa memiliki kontrol lebih besar terhadap apa yang dibagikan.

Penelitian mengenai Gen Z di Medan yang diterbitkan dalam Satwika pada 2025 juga menemukan bahwa penggunaan second account berkaitan dengan upaya memisahkan kehidupan publik dan pribadi di ruang digital.

Akun kedua memberi kesempatan bagi pengguna untuk mengekspresikan diri dengan lebih autentik dan tidak terlalu terbebani ekspektasi sosial.

Namun, penelitian tersebut juga mencatat bahwa penggunaan dua akun memiliki tantangan, termasuk kebutuhan mengelola waktu, energi, serta persoalan privasi.

Ada Istilah Finsta, Akun “Palsu” yang Justru Terasa Lebih Nyata

Fenomena second account juga dikenal dengan istilah Finsta atau fake Instagram.

Namanya memang terdengar seperti akun palsu.

Namun, sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Computer-Mediated Communication menemukan hal yang cukup menarik.

Penelitian tersebut melibatkan 20 remaja berusia 13 hingga 17 tahun dan menemukan bahwa peserta memandang akun alternatif mereka sebagai ruang yang lebih autentik dibandingkan akun utama.

Salah satu alasannya adalah jumlah audiens yang lebih terbatas.

Dengan lingkaran yang lebih kecil, mereka merasa lebih bebas membagikan humor, emosi, maupun sisi diri yang jarang muncul di akun utama.

Di sinilah muncul ironi dari istilah Finsta.

Akun yang disebut “fake” justru dapat dianggap lebih nyata oleh pemiliknya.

Ketika Semua Audiens Berkumpul di Satu Tempat

Ada istilah menarik dalam kajian media sosial, yakni context collapse.

Sederhananya, kondisi ini terjadi ketika berbagai kelompok audiens yang sebenarnya berbeda berkumpul dalam ruang digital yang sama.

Bayangkan satu unggahan Instagram harus dilihat oleh teman dekat, orang tua, guru, rekan kerja, hingga kenalan.

Masing-masing tentu memiliki konteks dan ekspektasi berbeda.

Hal tersebut dapat membuat seseorang lebih berhati-hati dalam menampilkan dirinya.

Penelitian tentang Finsta menunjukkan bahwa akun alternatif menjadi salah satu cara remaja menghadapi kondisi tersebut.

Mereka dapat menggunakan akun utama untuk presentasi diri yang lebih terkurasi, sementara akun kedua digunakan bersama kelompok yang lebih spesifik.

Bukan Berarti Punya Dua Kepribadian

Memiliki second account juga tidak otomatis berarti seseorang sedang menyembunyikan identitas.

Justru, seseorang bisa saja memiliki cara berkomunikasi yang berbeda tergantung siapa yang menjadi audiensnya.

Di dunia nyata pun seseorang biasanya bersikap berbeda ketika berada bersama keluarga, sahabat, atau berada dalam lingkungan pekerjaan.

Media sosial hanya membuat perbedaan konteks tersebut terlihat lebih jelas.

Penelitian terbaru dalam jurnal Koneksi yang terbit pada 30 Maret 2026 secara khusus membahas second account Instagram sebagai ruang ekspresi true self bagi Gen Z.

Studi tersebut menemukan bahwa akun kedua dapat menjadi lingkungan yang lebih privat, minim tekanan, dan lebih terkendali sehingga pengguna merasa lebih leluasa menampilkan sisi diri yang jujur dan emosional.

Akun Kedua Bisa Jadi Ruang Paling Personal

Pada akhirnya, second account bukan sekadar akun cadangan.

Bagi sebagian Gen Z, akun tersebut justru menjadi ruang dengan aturan yang berbeda.

Tidak harus selalu mengunggah foto terbaik.

Tidak harus membuat feed terlihat sempurna.

Tidak harus selalu terlihat bahagia.

Baca Juga: Mengapa Singa dan Harimau Tidak Jadi Hewan Ternak untuk Dimakan? Ternyata Ini Alasannya

Bahkan, unggahan yang dianggap terlalu random untuk akun utama bisa menjadi sesuatu yang biasa saja di second account.

Namun, bukan berarti semua second account otomatis menjadi ruang yang sepenuhnya bebas.

Setiap kelompok tetap memiliki norma dan batasannya sendiri. Penelitian tentang Finsta juga menunjukkan bahwa apa yang dianggap autentik tetap dipengaruhi oleh norma kelompok pertemanan yang menjadi audiens akun tersebut.

Jadi, menariknya fenomena second account bukan sekadar soal memiliki dua akun Instagram.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana Gen Z semakin sadar terhadap siapa yang melihat mereka di ruang digital.

Akun utama bisa menjadi tempat membangun citra.

Sementara akun kedua dapat menjadi tempat berbagi sisi yang lebih personal.

Pada akhirnya, akun yang secara nama disebut “kedua” justru bisa menjadi ruang tempat seseorang merasa paling dekat dengan dirinya sendiri.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
second account Instagram second account Gen Z alasan Gen Z punya second account Finsta Instagram identitas digital Gen Z