Mengapa Singa dan Harimau Tidak Jadi Hewan Ternak untuk Dimakan? Ternyata Ini Alasannya

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 18:06 WIB
Berbagai jenis daging hewan yang umum dijadikan bahan pangan manusia. (Magnific)
Berbagai jenis daging hewan yang umum dijadikan bahan pangan manusia. (Magnific)

RADARBONANG.ID - Manusia sudah lama mengandalkan ayam, bebek, sapi, kambing, hingga kuda sebagai sumber pangan.

Namun, hewan predator seperti singa, harimau, dan serigala hampir tidak pernah masuk dalam daftar hewan yang umum dikonsumsi.

Alasannya ternyata bukan hanya berkaitan dengan budaya, agama, atau kebiasaan masyarakat.

Dari sisi ekologi, ada persoalan efisiensi energi dalam rantai makanan yang membuat hewan herbivora lebih masuk akal untuk dibudidayakan sebagai sumber pangan.

Baca Juga: Jamur Putih pada Tempe Aman Dikonsumsi? Ini Penjelasan Ilmiah Mengapa Berbeda dengan Jamur pada Makanan yang Sudah Busuk

Dalam video yang diunggah kanal YouTube Kok Bisa?, pertanyaan tersebut dibahas melalui konsep perpindahan energi dalam ekosistem.

"Manusia udah terbiasa makan ayam, bebek, sapi, kambing, bahkan kuda. Pertanyaan besarnya: kenapa singa, serigala, anjing, dan kucing gak kita makan?" urai narasi dalam video tersebut.

Energi Makin Berkurang di Setiap Tingkat Rantai Makanan

Energi dalam ekosistem pada awalnya berasal dari matahari.

Tumbuhan memanfaatkan energi tersebut melalui proses fotosintesis dan kemudian menjadi sumber makanan bagi hewan herbivora seperti sapi dan kambing.

Selanjutnya, hewan karnivora memperoleh energi dengan memangsa hewan lain. Artinya, energi berpindah dari satu tingkat trofik ke tingkat berikutnya.

Namun, perpindahan tersebut tidak berlangsung secara efisien.

Sebagian besar energi yang diperoleh organisme digunakan untuk aktivitas tubuh, pertumbuhan, metabolisme, dan pada akhirnya dilepaskan ke lingkungan, termasuk dalam bentuk panas.

Akibatnya, semakin tinggi posisi suatu hewan dalam rantai makanan, semakin banyak sumber daya yang diperlukan untuk menghasilkan biomassa pada tingkat tersebut.

Kondisi ini membuat pemeliharaan hewan karnivora sebagai sumber pangan menjadi kurang efisien.

Predator membutuhkan hewan lain sebagai mangsa untuk tumbuh dan bertahan hidup.

Sebaliknya, hewan herbivora dapat memperoleh energi secara lebih langsung dari tumbuhan.

Dari sudut pandang produksi pangan dalam jumlah besar, kondisi tersebut membuat ternak herbivora lebih efisien dalam memanfaatkan sumber daya.

Predator Juga Memiliki Risiko Kesehatan

Selain persoalan energi, faktor kesehatan turut menjadi pertimbangan ketika manusia memilih hewan yang akan dibudidayakan sebagai sumber pangan.

Satwa liar dapat membawa parasit maupun mikroorganisme penyebab penyakit yang berpotensi menular kepada manusia.

Risiko tersebut tidak hanya berlaku bagi hewan karnivora, tetapi juga dapat ditemukan pada berbagai jenis satwa liar.

Predator yang berada di tingkat trofik tinggi juga dapat mengalami bioakumulasi, yakni penumpukan zat tertentu yang berasal dari organisme yang dikonsumsinya.

Meski demikian, tingkat bioakumulasi dan dampaknya berbeda-beda bergantung pada spesies serta kondisi lingkungan.

Berbagai faktor tersebut ikut menjelaskan mengapa manusia lebih banyak membudidayakan hewan herbivora dan omnivora sebagai sumber pangan.

Selain relatif lebih mudah dipelihara, hewan-hewan tersebut lebih efisien dalam mengubah sumber daya seperti tumbuhan dan pakan menjadi bahan pangan yang dapat memenuhi kebutuhan manusia dalam jumlah besar. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
satwa liar herbivora hewan karnivora Tumbuhan