Jangan Asal Bicara saat Interview Kerja! Ini 6 Ucapan yang Bisa Bikin HRD Ilfeel

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 16:56 WIB
Ilustrasi seorang kandidat tengah melakukan interview kerja. (ilustrasi)
Ilustrasi seorang kandidat tengah melakukan interview kerja. (ilustrasi)

RADARBONANG.ID - Kesalahan memilih kata saat wawancara kerja bisa memengaruhi penilaian perekrut terhadap seorang kandidat.

Meski memiliki CV impresif dan pengalaman mumpuni, pelamar tetap berisiko kehilangan peluang jika mengucapkan kalimat yang dinilai kurang profesional.

Wawancara kerja bukan hanya menjadi ajang untuk menguji kemampuan teknis.

Tim rekrutmen atau HRD juga mengamati kecerdasan emosional, kedewasaan, kesadaran diri, serta sikap profesional calon karyawan.

Baca Juga: CV Anda Masih Sering Diabaikan HRD? Perbaiki 5 Bagian Penting Ini agar Peluang Dipanggil Interview Semakin Besar

Berdasarkan pandangan pakar karier yang dirangkum dari YourTango, ada sejumlah ucapan dan pola komunikasi yang berpotensi menjadi sinyal negatif bagi perekrut.

Karena itu, pelamar perlu lebih cermat dalam menyusun jawaban selama proses wawancara.

Hindari Ucapan yang Menunjukkan Sikap Kurang Profesional

Salah satu kesalahan yang perlu dihindari adalah menjelek-jelekkan atasan atau perusahaan lama.

Pelatih karier Lisa Petsinis menjelaskan, perekrut tidak mengetahui secara utuh konflik internal yang pernah dialami kandidat di tempat kerja sebelumnya.

“Mengungkapkan kekesalan secara berlebihan justru dapat memunculkan kesan bahwa pelamar sulit bekerja sama, bersikap toksik, atau enggan melakukan introspeksi diri,” sebutnya.

Kandidat juga sebaiknya mengurangi penggunaan kata sisipan seperti "ehm", "mm", atau "apa ya" secara berlebihan.

Kebiasaan tersebut bisa memberi kesan kurang percaya diri dan tidak menguasai materi yang disampaikan.

Untuk mengatasinya, pelamar dapat berlatih menjawab pertanyaan wawancara secara terstruktur sebelum hari pelaksanaan.

Persiapan ini membantu kandidat menyampaikan jawaban dengan lebih jelas dan terarah.

Ucapan lain yang perlu dihindari adalah mengaku tidak memiliki kelemahan.

Ketika ditanya mengenai kekurangan diri, jawaban semacam itu bisa dianggap menunjukkan kurangnya kesadaran diri atau ketidakjujuran.

Perekrut umumnya ingin mengetahui kemampuan kandidat dalam mengenali keterbatasan sekaligus langkah yang dilakukan untuk memperbaikinya.

Karena itu, menyampaikan kelemahan secara jujur disertai upaya pengembangan diri dapat menjadi pilihan yang lebih tepat.

Perhatikan Cara Membahas Gaji dan Komitmen Kerja

Menyebut diri sebagai seorang perfectionist juga perlu dipertimbangkan dengan cermat.

Meski sering digunakan untuk menggambarkan standar kerja yang tinggi, istilah tersebut dapat menimbulkan kesan bahwa kandidat terlalu terpaku pada detail, sulit mendelegasikan tugas, atau lambat menyelesaikan pekerjaan.

Daripada sekadar memberikan label, pelamar sebaiknya menjelaskan contoh konkret tentang cara menjaga kualitas pekerjaan tanpa mengabaikan efisiensi waktu.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kesiapan untuk langsung meninggalkan pekerjaan lama tanpa memenuhi masa pemberitahuan atau notice period.

Menyatakan bisa segera bergabung tanpa mempertimbangkan kewajiban tersebut berpotensi menimbulkan kesan kurangnya etika profesional.

Perekrut dapat mempertanyakan komitmen kandidat apabila dia mengabaikan tanggung jawab kepada perusahaan sebelumnya.

Karena itu, pelamar perlu menjelaskan ketersediaan waktu secara terbuka dan tetap menghormati ketentuan kerja yang berlaku.

Selain itu, hindari terlalu berfokus pada gaji dan fasilitas sejak awal wawancara meski ertanyaan mengenai tunjangan, cuti, atau kompensasi memang wajar dalam proses rekrutmen.

Namun, membahasnya sebelum menunjukkan kompetensi dan ketertarikan terhadap posisi yang dilamar dapat membuat kandidat terkesan hanya mengejar imbalan materi.

Pelamar sebaiknya terlebih dahulu menjelaskan kemampuan serta kontribusi yang dapat diberikan kepada perusahaan.

Pembahasan mengenai kompensasi dan fasilitas dapat dilakukan pada tahap yang sesuai dalam proses seleksi. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
wawancara kerja rekrutmen HRD pelamar