RADARBONANG.ID - Rasa takut terhadap ketinggian ternyata tidak sepenuhnya muncul secara otomatis sejak manusia lahir.
Penelitian terhadap bayi menunjukkan bahwa pengalaman bergerak dan menjelajahi lingkungan ikut berperan dalam membentuk kewaspadaan terhadap risiko terjatuh.
Salah satu penelitian yang mengungkap hal tersebut adalah eksperimen Visual Cliff atau tebing visual.
Baca Juga: Taklukkan Fobia Gelap: Cara Ampuh Atasi Nyctophobia Tanpa Drama
Eksperimen yang dikembangkan psikolog Eleanor J. Gibson dan Richard D. Walk pada 1960-an ini bertujuan mengamati bagaimana bayi memahami kedalaman dan merespons situasi yang tampak berbahaya.
Dikutip dari kanal YouTube ABC Science, eksperimen tersebut menggunakan meja khusus dengan permukaan kaca transparan yang aman untuk dilalui.
Di salah satu sisi, pola lantai diletakkan tepat di bawah kaca. Sementara di sisi lain, pola serupa ditempatkan jauh di bawah permukaan sehingga menciptakan ilusi visual seperti jurang.
Peneliti kemudian mengamati respons bayi ketika orang tua memanggil mereka untuk melintasi bagian yang terlihat seperti tebing tersebut.
Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa bayi yang belum memiliki banyak pengalaman bergerak mandiri cenderung belum menunjukkan respons takut terhadap ilusi kedalaman.
"Bayi yang belum bisa merangkak atau baru saja belajar berdiri umumnya menunjukkan rasa penasaran visual terhadap kedalaman, namun tidak memperlihatkan tanda-tanda kecemasan atau peningkatan denyut jantung yang mengindikasikan rasa takut," bunyi narasi yang menyertai tayangan video tersebut.
Temuan itu menunjukkan bahwa kemampuan melihat perbedaan kedalaman tidak selalu disertai pemahaman mengenai risiko yang mungkin muncul.
Pengalaman Merangkak Membentuk Kewaspadaan
Respons bayi mulai berubah ketika mereka semakin aktif bergerak dan mengeksplorasi lingkungan sekitar.
"Respons kehati-hatian baru tampak secara konsisten ketika bayi telah aktif merangkak selama beberapa minggu dan mulai memahami hubungan antara persepsi visual dengan ruang di sekitarnya," lanjut penjelasan di dalamnya.
Pengalaman bergerak membantu otak menghubungkan informasi visual dengan sensasi fisik. Ketika merangkak, bayi mulai mengenali kondisi yang dapat mengganggu keseimbangan, seperti tersandung, kehilangan pijakan, atau hampir terjatuh.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses belajar untuk mengenali situasi yang berpotensi membahayakan diri.
Eksperimen Visual Cliff pun memberikan gambaran mengenai hubungan antara perkembangan kemampuan motorik dan munculnya kewaspadaan terhadap kedalaman.
Bayi dapat menangkap informasi visual tentang perbedaan ketinggian, tetapi pengalaman bergerak turut membantu mereka memahami konsekuensi dari situasi tersebut.
Rasa Takut Ketinggian Dipengaruhi Pengalaman
Penelitian ini turut membantu menjelaskan bahwa rasa takut terhadap ketinggian berkembang melalui interaksi antara faktor biologis dan pengalaman selama proses tumbuh kembang.
Meski demikian, eksperimen tersebut tidak berarti semua manusia terlahir tanpa respons terhadap bahaya ketinggian.
Kemampuan mengenali kedalaman, kewaspadaan, dan rasa takut merupakan hal yang saling berkaitan, tetapi tidak sepenuhnya sama.
Pada sebagian orang, pengalaman traumatis, faktor psikologis, atau gangguan keseimbangan dapat memperkuat rasa takut ketika berada di tempat tinggi.
Dalam kondisi tertentu, ketakutan tersebut bisa berkembang menjadi acrophobia, yakni fobia terhadap ketinggian yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Secara umum, eksperimen tebing visual memperlihatkan bagaimana pengalaman membantu manusia belajar mengenali risiko.
Proses tersebut menjadi bagian dari perkembangan kemampuan otak untuk memahami lingkungan dan menghindari situasi yang berpotensi membahayakan keselamatan. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari