RADARBONANG.ID - Psikopat selama ini kerap digambarkan sebagai pembunuh berantai, pelaku kejahatan sadis, atau sosok yang sama sekali tidak memiliki emosi. Padahal, gambaran tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan pemahaman ilmiah mengenai psikopati.
dalam video yang diunggah kanal YouTube WIRED, Psikiater Dr. Eric Bender menjelaskan sejumlah anggapan keliru mengenai psikopat.
Pembahasan tersebut mencakup ciri-ciri psikopati, cara kerja otak, perilaku, hingga penggambaran psikopat dalam film dan serial.
Dr. Bender menegaskan bahwa psikopati bukan merupakan diagnosis resmi dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), pedoman yang digunakan profesional kesehatan mental untuk mengidentifikasi gangguan kejiwaan.
"Psikopati sebenarnya bukan sebuah diagnosis," jelas Dr. Bender dalam video tersebut.
Menurutnya, psikopati lebih merujuk pada kumpulan sifat atau karakteristik kepribadian tertentu yang telah lama menjadi objek penelitian dalam bidang kesehatan mental.
Kepribadian tersebut antara lain dapat berupa rendahnya empati, minimnya rasa bersalah atau penyesalan, kecenderungan manipulatif, serta perilaku yang mengabaikan hak dan perasaan orang lain.
Dalam praktik klinis, konsep psikopati memiliki keterkaitan dengan Antisocial Personality Disorder (ASPD). Meski demikian, keduanya tidak sepenuhnya memiliki pengertian yang sama.
Psikopat Tak Otomatis Berbahaya
Salah satu anggapan yang banyak berkembang adalah semua psikopat pasti berbahaya dan terlibat dalam tindak kriminal.
Dr. Bender menilai pandangan tersebut terlalu menyederhanakan kondisi yang sebenarnya lebih kompleks.
"Mereka tidak selalu menjadi sosok yang berbahaya secara fisik atau melakukan tindak kekerasan. Banyak individu dengan sifat psikopatik yang mampu hidup di tengah masyarakat dan berfungsi secara normal," ujarnya.
Artinya, keberadaan sifat psikopatik tidak otomatis menjadikan seseorang sebagai pelaku kejahatan.
Sebagian individu tetap dapat bekerja, berinteraksi secara sosial, dan menjalani kehidupan sehari-hari tanpa melanggar hukum.
Baca Juga: Sering Gonta-ganti Baju Sebelum Pergi? Ternyata Ada Alasan Psikologis di Balik Kebiasaan Ini
Penelitian mengenai otak individu dengan sifat psikopatik juga menjadi bagian dari pembahasan.
Sejumlah studi menemukan adanya perbedaan pada area otak yang berkaitan dengan pemrosesan emosi, empati, dan pengambilan keputusan.
Namun, temuan mengenai perbedaan tersebut tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa seseorang pasti akan melakukan tindak kriminal.
Perilaku manusia dipengaruhi banyak faktor, termasuk lingkungan, pengalaman hidup, serta kondisi psikologis lainnya.
Karena itu, hubungan antara karakteristik otak dan perilaku tidak dapat disederhanakan menjadi hubungan sebab-akibat tunggal.
Sering Disamakan dengan Sosiopat
Dr. Bender juga membahas istilah "sosiopat" yang sering digunakan bergantian dengan psikopat.
Dalam penggunaan masyarakat dan media, kedua istilah tersebut kerap dianggap memiliki arti yang sama.
Padahal, istilah psikopat dan sosiopat tidak memiliki definisi klinis sederhana seperti yang sering ditampilkan dalam film maupun serial televisi.
Representasi di layar lebar juga turut membentuk persepsi masyarakat.
Banyak karakter psikopat dibuat sangat ekstrem untuk meningkatkan ketegangan cerita sehingga psikopati kemudian identik dengan pembunuhan berantai atau tindakan sadis.
Meski demikian, terdapat pula karakter dalam film dan serial yang menggambarkan sejumlah sifat psikopatik secara lebih realistis.
Misalnya, karakter yang menunjukkan perilaku manipulatif, minim empati, tetapi mampu menyembunyikan niat di balik penampilan yang terlihat normal.
Pada akhirnya, psikopati merupakan konsep yang kompleks dan tidak dapat ditentukan hanya melalui stereotip, kesan pribadi, maupun tes kepribadian singkat di internet.
Penilaian terhadap karakteristik psikopatik membutuhkan evaluasi profesional secara menyeluruh.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak terburu-buru memberikan label "psikopat" kepada seseorang hanya berdasarkan perilaku atau kesan tertentu. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari