Super El Niño Reda Bukan Berarti Ancaman Berakhir, Ini Dampak yang Mengintai

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 13:39 WIB
Visualisasi Bumi dan dinamika iklim global yang dapat memicu cuaca ekstrem di berbagai wilayah dunia. (Pinterest)
Visualisasi Bumi dan dinamika iklim global yang dapat memicu cuaca ekstrem di berbagai wilayah dunia. (Pinterest)

RADARBONANG.ID - Dampak paling berat dari Super El Niño ternyata tidak selalu terjadi ketika fenomena iklim tersebut berada pada titik puncaknya.

Suhu global dan tekanan terhadap sejumlah ekosistem justru dapat mencapai level tinggi beberapa bulan setelah El Niño mulai melemah.

Kondisi tersebut terjadi karena energi panas yang tersimpan di Samudra Pasifik membutuhkan waktu untuk berpindah ke atmosfer.

Baca Juga: Bukan Sekadar Hujan dan Panas, Perubahan Cuaca Ternyata Bisa Memengaruhi Ekonomi Masyarakat

Akibatnya, meski kondisi di laut mulai kembali normal, atmosfer masih dapat menerima tambahan energi panas yang kemudian memengaruhi suhu global dan pola cuaca.

Dikutip dari kanal YouTube Insane Curiosity, dampak tertunda tersebut dapat memperpanjang tekanan terhadap berbagai sektor, mulai dari ketersediaan air dan produksi pangan hingga kondisi hutan hujan tropis serta terumbu karang.

Panas Laut Masih Berdampak Setelah El Niño Melemah

Fenomena El Niño bermula ketika angin pasat di kawasan ekuator Pasifik melemah.

Massa air hangat yang biasanya terkumpul di bagian barat Pasifik kemudian bergerak ke arah timur dan melepaskan energi panas dalam jumlah besar ke atmosfer.

Namun, pelepasan energi tersebut tidak serta-merta membuat suhu udara global mencapai titik tertinggi.

Panas dari lautan membutuhkan waktu untuk berpindah dan memengaruhi atmosfer.

"Dalam seluruh catatan sejarah yang andal, hanya pernah ada tiga peristiwa El Niño yang cukup besar hingga layak mendapat predikat super," bunyi narasi dalam kanal YouTube Insane Curiosity.

Peristiwa yang dimaksud adalah El Niño 1982-1983, 1997-1998, dan 2015-2016. Ketiganya dikenal sebagai episode El Niño dengan intensitas sangat kuat dalam catatan pengamatan modern.

Video tersebut juga menjelaskan adanya jeda beberapa bulan antara puncak kondisi di lautan dan puncak suhu udara global.

"Suhu udara global tidak langsung memuncak bersamaan dengan puncak di lautan, melainkan mengalami jeda sekitar empat hingga enam bulan karena energi panas membutuhkan waktu untuk berpindah dari air ke udara," lanjut narasi tersebut.

Jeda tersebut membuat suhu global masih dapat meningkat ketika El Niño mulai melemah.

Kondisi inilah yang membuat periode setelah puncak fenomena tetap perlu mendapat perhatian.

Ekosistem Masih Tertekan Setelah El Niño

Dampak lanjutan El Niño tidak hanya berkaitan dengan kenaikan suhu.

Gangguan pola cuaca dapat memperburuk krisis air, mengubah musim tanam, meningkatkan risiko gagal panen, serta mengganggu ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah.

Ekosistem yang sudah rentan juga menghadapi tekanan tambahan.

Hutan hujan tropis seperti Amazon, misalnya, dapat mengalami tekanan akibat kombinasi kekeringan berkepanjangan, suhu tinggi, dan deforestasi.

Dalam kondisi tertentu, tekanan tersebut dikhawatirkan mendorong ekosistem mendekati tipping point, yakni kondisi ketika perubahan yang terjadi semakin sulit dipulihkan.

Terumbu karang juga menjadi salah satu ekosistem yang rentan terhadap peningkatan suhu laut.

Tekanan panas yang berkepanjangan dapat memperbesar risiko pemutihan karang dan mengganggu ekosistem laut.

Karena itu, berakhirnya fase terkuat El Niño tidak serta-merta berarti seluruh ancaman telah selesai.

Pemantauan kondisi atmosfer, laut, serta ekosistem tetap diperlukan untuk mengantisipasi dampak yang dapat berlangsung selama beberapa bulan setelah fenomena tersebut mulai melemah. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
Sumber : Radar Bonang
suhu udara global iklim atmosfer el nino